Profesi tanpa Lisensi, Kisah Heroik Penyelamat Hewan

Rasyiqi By Rasyiqi - Writer, Digital Marketer
5 Min Read
Ilustrasi profesi penyelamat Hewan (foto: borneonews.id)
Ilustrasi profesi penyelamat Hewan (foto: borneonews.id)

jf.id – Malam Jumat itu saya menghadiri kompolan di rumah Suhari di Dik-Kodik Utara yang lebih terkenal dengan sebutan Pagulaan, karena dulu di sana adalah tempat menjual gula Siwalan.

Saya sampai di rumah Suhari jam 20:00 sesuai kesepakatan. Tapi di sana baru ada dua orang, seorang jamaah dan seorang tetangga. Sementara Suhari sebagai tuan rumah tidak kelihatan. Di hati saya benih pertanyaan sudah tumbuh; tuan rumah kok tidak ada?

Sebelum pertanyaan itu saya utarakan, seorang tetangga yang ada di sana itu bilang, Suhari sedang memenuhi panggilan tetangga sebelah untuk menangani sapi piaraannya yang sedang sakit, yaitu tak mau makan.

Beberapa saat kemudian Suhari datang. Dengan santai dia bercerita, begitu ‘jamu’ disuapkan, sapi itu langsung sembuh dan makan sebagaimana biasanya. Tak butuh waktu lima menit, sapi itu sudah sembuh. Bisa dibilang sembuh mendadak. Tak kalah sama tahu bulat.

Dan kejadian semacam itu bukan kebetulan atau kadang-kadang. Melainkan sering. Justru karena sering terbukti itulah, masyarakat sering minta tolong jasa Suhari. Ya, karena bukti, bukan karena lisensi, sertifikat, ijin operasional, dan istilah-istilah lain yang semuanya adalah kertas. Dan itu logis dan ilmiah.

Cuma kemudian saya berpikir, bagaimana kalau suatu saat nanti masyarakat kelebihan stok dokter hewan, dan perusahaan obat hewan kesepian pasar, maka boleh jadi orang-orang yang “mengabdikan” profesinya secara tulus semacam Suhari, akan digeser oleh orang-orang yang “mengkomersilkan” profesinya dengan tarif yang pahit.

Kekhawatiran saya itu didasarkan pada nasib para dukun desa yang tak pernah atau jarang salah, yang mengabdikan profesinya untuk kemanusiaan, yang tidak memasang tarif, sekarang telah digeser oleh tenaga-tenaga kerja yang bertarif, yang profesionalitasnya didasarkan pada ijazah, ijin operasional, sertifikat, piagam, yang semuanya adalah kertas, bukan didasarkan pada bukti riil. Karena kalau bicara bukti, banyaknya permasalahan persalinan, baik pada ibu maupun pada bayinya, terjadi mulai menyebarnya tenaga-tenaga kerja tersebut.

Apalagi sekarang, persalinan tidak boleh ditangani satu orang bidan, melainkan di puskesmas. Kalau sudah di puskesmas, maka yang menangani bukan hanya satu orang, melainkan banyak orang. Padahal persalinan itu sangat pribadi sekali. Seorang ibu pasti lebih senang dibantu satu orang saja, daripada banyak orang.

Lebih dari itu, ada harga, masalah yang dulunya diselesaikan secara kekeluargaan, sekarang diselesaikan dalam nuansa perdagangan. Bukan hanya ada jual-beli persalinan, di sana juga ada penjualan alat-alat pasca persalinan yang harus dibeli, walaupun yang bersangkutan sudah punya di rumah, dan harganya pun di atas wajar. Komersialisasi persalinan ini semakin jelas sekaligus semakin menyakitkan, karena ibu yang bersalin dengan jasa bidan, sekarang dikenakan denda. Teman saya contohnya, dia diminta bayar ke puskesmas setempat sebesar 800.000,-. Padahal persalinannya selamat, ya ibunya, ya bayinya. Logika macam apa ini.

Itu mirip seorang dokter hewan di suatu daerah yang berpraktek mengobati orang, dan semuanya tidak ada yang bermasalah, justru banyak yang sembuh. Tapi karena tak punya “kertas” ijin mengobati orang, dokter itu dipenjara. Yang ditangani tidak ada masalah, malah pihak lain yang mempermasalahkan. (Juga) Logika macam apa ini.

Pendeknya, sekarang ini di sini, orang mau punya anak, dibikin repot. Mana lagi dimarah-marahi oleh tenaga-tenaga kerja itu. Tetangga saya contohnya. “Sampean ini lambat mengandunya. Masak anak pertama sudah kelas XII, anak kedua baru mau lahir?. Jadi perawan lagi sampean ini. Makanya sulit”. Padahal belum pernah ada cerita, ucapan itu atau yang sejenis dengan itu, keluar dari dukun-dukun desa yang polos dan tulus, yang sekarang sudah dibunuh karakternya.

Kembali ke pokok persoalan, sekarang sekelompok orang-orang kuat telah mereduksi ilmu yang sebenarnya luas ini, hanya pada satu kamar yang sempit. Ilmu ekonomi hanya ada pada mereka. Ilmu geografi hanya ada pada mereka. Ilmu astronomi hanya ada pada mereka. Dan begitu seterusnya. Sedangkan yang ada pada agama kita, atau yang ada pada budaya kita, itu dibilang tidak dapat dipercaya sehingga tidak layak digunakan.

Pertanyaannya, Apakah kemudian kita rakyat kecil ini mau tunduk begitu saja pada pengibulan mereka?

Desember 2019
Penulis: Rosi _Oreng kene’_

Share This Article