Mengapa Olah Rasa Itu Penting, Ini Alasannya

Syahril Abdillah By Syahril Abdillah
5 Min Read
"Jadilah orang yang bisa merasa, bukan orang yang merasa bisa," (Foto/Ilustrasi)

Jurnalfaktual.id- Lika- liku kehidupan memang sulit ditebak atau di prediksi. Sebab, tidak ada manusia satupun yang tau tentang sekenario tuhan kepada hambanya dalam menjalani kehidupan sehari- hari kedepan.

Manusia sebagai mahluk yang dibekali akal, tidak mungkin hanya diam dan berpasrah diri menghadapi kehidupan yang tak menentu. Pastinya memiliki rencana (planning) dan mencoba membuat rencana untuk aktivitas yang akan dijalani.

Selain itu, keinginan dan kemauan kuat agar roda kehidupan berjalan dengan stabil dan layak (baik) juga menjadi dambaan kebanyakan orang. Namun hal demikian sukar didapat bahkan dijalankan, melainkan sebaliknya yang terjadi.

Banyak hal diluar dugaan kadang menghampiri diri kita, keluarga, maupun masyarakat sekitar. Misalnya kecelakaan, menjadi korban kriminalitas, atau rencana yang sudah disusun matang tiba- tiba amburadul akibat suatu insiden.

Contoh lain: hidup dengan kemiskinan, Dihina, dicaci, diolok- olok, di fitnah, bahkan menjadi bulian orang- orang. Kondisi semacam ini kerap kali mengundang reaksi emosional berlebihan, tak jarang ekspresi yang ditunjukkan diluar batas, bak harimau hendak menerkam mangsa.

Dinamika persoalan hidup memang sulit diterka, bahkan diraba. Namun, kita tidak boleh berdiam diri dan harus mengambil tindakan, akan tetapi harus tenang dan sabar. Dalam hal ini, Olah Rasa” sangat penting.

Dr. Zen Muhammad Al- Hadi dalam bukunya “penenang jiwa” Mengungkapkan, melakukan olah rasa agar perasaan hendak melawan kejadian yang tidak diharapkan dapat kita kendalikan sehingga tumbuh rasa menerima dan ridha.

“Yaitu dengan keberanian untuk menelan yang pahit, getir, asam atau pun juga yang pedas sekalipun,”. Hal demikian itu, Lanjut Zen, merupakan kewajiban yang harus diterima sebagimana Firman Allah SWT dalam surat Luqman ayat 7 yang berbunyi:

“Siap dan tenanglah (sabar) atas apa pun yang menimpamu karena hal itu menjadi kemestian bagi orang hidup,.” (QS. Luqman: 17).

Dengan kepandaian mengolah rasa akan menguatkan asa. Dengan menguat asa, semua yang pahit menjadi sirna dan tidak ada lagi yang dapat mengiris hati kita.

Contohnya ialah: bila seseorang ramai memperbincangkan keburukan atau aib diri kita (gosib), setelah kita mendengar adanya gosib- gosib itu sebaiknya kita berhenti sejenak, kemudian merenung, mengingat- ingat, apa yang mereka gosibkan tentang diri kita. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah benar saya melakukan apa yang mereka gosibkan itu?

Bila kenyataannya memang benar kita melakukan sebagian yang digosibkan dan sebagian lagi adalah tambahan fitnah, maka gosib- gosib itu merupakan sanksi hukum atau hukuman yang dipercepat di dunia, Insyaallah kelak akan mendapat ampun.

Oleh karena itu, kita tidak perlu bersedih dan marah, karena hal itu menguntungkan kita. Dari pada kita marah, membalas atau menyerang mereka, kita akan mendapat kesulitan dengan merambah bahaya, menambah kesulitan dan kita akan menjadi pencela, pemaki, sama seperti mereka.

Jika yang digosibkan tidak benar tentang kita, fitnah semata, itu berati kita mendapat pahala kebajikan atau pahala ibadah tanpa berbuat.

Coba bayangkan, hanya dengan melakukan olah rasa memgubah pola dan fikir, menekan nafsu, kemudian menyambung cita rasa kepada Allah SWT, kita akan menjadi tenang dan menerima kejadian pahit dengan dada lapang, dada yang bersih dari dendam dan benci. Selain itu, Allah SWT memandang kita dengan mata kasih, wajah kita ceria, pahala insyaallah bertambah.

Sebagai Penutup, Santrawan Madura, D Zawawi Imron pernah pengungkapkan, “Jadilah Orang yang bisa merasa, Bukan Orang Yang merasa bisa”. Maka kejernihan hati juga penting, karena tidak mungkin bahagia tanpa kebeningan hati.

Bahagia sudah ada dalam lubuk hati. Namun tertutup oleh karat bekas maksiat dan kesombongan. Maka mari kita sering- sering mengolah rasa. Insyaallah kita akan tentram.

Penulis: Syahril A

Share This Article