Bagaimana Uni Soviet Masuk dan Keluar dari Liga Bangsa-Bangsa dalam Waktu Singkat?

Noer Huda By Noer Huda - Content Creator
4 Min Read

jfid – Liga Bangsa-Bangsa (LBB), sebuah organisasi internasional yang didirikan setelah Perang Dunia I, bertujuan untuk mencegah perang dan menyelesaikan konflik secara damai. Pada puncak kejayaannya, LBB memiliki 58 negara anggota, termasuk beberapa negara besar seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang. Namun, Amerika Serikat, meskipun Presiden Woodrow Wilson adalah salah satu pendiri utamanya, tidak pernah menjadi anggota.

Sementara itu, Uni Soviet (USSR) adalah sebuah negara komunis yang terbentuk pada tahun 1922 dari reruntuhan Kekaisaran Rusia yang dihasilkan dari Revolusi Oktober 1917. USSR diperintah oleh Partai Komunis dengan kuasa mutlak dan memegang teguh ideologi Marxisme-Leninisme. Terdiri dari 15 republik sosialis federasi, yaitu Rusia, Ukraina, Belarus, Armenia, Azerbaijan, Georgia, Kazakhstan, Kirgizstan, Moldova, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Estonia, Latvia, dan Lituania.

USSR pada awalnya enggan bergabung dengan LBB karena dianggap sebagai alat imperialisme Barat yang bertentangan dengan prinsip-prinsip revolusi proletar. Selain itu, negara-negara Barat yang khawatir akan pengaruh komunisme dan ekspansi USSR di Eropa dan Asia tidak mengundang USSR untuk bergabung. Oleh karena itu, USSR lebih memilih menjalin hubungan bilateral dengan negara-negara yang mendukung komunisme atau anti-imperialisme.

Namun, situasi berubah pada awal tahun 1930-an ketika muncul ancaman fasisme dari Jerman Nazi di bawah Adolf Hitler. Hitler berambisi untuk memperluas wilayah Jerman dan memusnahkan komunisme. Pada tahun 1933, Jerman keluar dari LBB dan mulai mempersenjatai diri secara rahasia. Melihat bahaya ini, USSR mulai mencari sekutu untuk mengimbangi kekuatan Jerman. Peluang untuk memperluas pengaruhnya di dunia melalui partisipasi dalam organisasi internasional pun terbuka lebar.

Pada tahun 1934, USSR mengajukan permohonan untuk menjadi anggota LBB yang didukung oleh Prancis, yang berharap menjalin aliansi dengan USSR melawan Jerman. Keanggotaan USSR juga diharapkan dapat membantu menyelesaikan konflik antara USSR dan Polandia serta Finlandia, yang juga merupakan anggota LBB. Negara-negara kecil yang merasa terancam oleh Jerman dan Italia juga mendukung keanggotaan USSR. Namun, Inggris dan Rumania menjadi dua negara yang menentang keanggotaan USSR, mendasarkan pada alasan politik atau ideologis.

Pada tanggal 18 September 1934, Majelis Umum LBB menyetujui keanggotaan USSR dengan suara bulat. Dengan ini, USSR menjadi anggota permanen Dewan Keamanan LBB, bergabung dengan Inggris, Prancis, Italia, dan Jepang. Dalam konteks keanggotaan ini, USSR berjanji untuk menghormati Piagam LBB dan berkontribusi dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Sayangnya, keanggotaan USSR di LBB tidak berlangsung lama. Pada tahun 1939, USSR melakukan invasi ke Finlandia dalam Perang Musim Dingin, yang kemudian dikecam oleh LBB sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Finlandia dan Piagam LBB. Pada tanggal 14 Desember 1939, Majelis Umum LBB memutuskan untuk mengeluarkan USSR dari LBB dengan suara mayoritas. Keputusan ini menjadi salah satu tanda kegagalan LBB dalam mencegah perang dunia kedua yang meletus pada tahun yang sama.

Keanggotaan USSR di LBB merupakan salah satu babak penting dalam sejarah hubungan internasional abad ke-20. Ini mencerminkan usaha USSR untuk beradaptasi dengan sistem dunia yang didominasi oleh negara-negara kapitalis dan demokratis. Tetapi juga menunjukkan ketidakmampuan LBB dalam menyelesaikan masalah-masalah global yang melibatkan kepentingan nasional dan ideologi yang bertentangan. Artikel ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang sejarah keanggotaan USSR di LBB, menjadi inspirasi untuk penelitian lebih lanjut, serta memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga perdamaian dan kerjasama internasional dalam menghadapi tantangan-tantangan global.

Share This Article