Rengginang dan Jamur Khas Indonesia Menembus Pasar Singapura

jfid
By jfid
7 Min Read
- Advertisement -

jfid – Rengginang panggang, jamur renyah, hingga tempe goreng krispi adalah sekadar jajanan sehari-hari yang tak lekang oleh zaman. Namun di tangan Erwin Jogisaputra, pendiri NOMNOM, ketiga komoditas pangan lokal itu berubah menjadi produk andalan yang berani menantang pasar internasional. Didirikan pada 2016, NOMNOM lahir dari kegelisahan akan minimnya pilihan camilan sehat yang tetap mempertahankan cita rasa Indonesia. Dari dapur rumah sendiri, Erwin memulai perjalanan dengan satu produk utama: rengginang panggang yang dipadukan dengan resep turun-temurun dan sentuhan modern.

Perusahaan kecil yang berpusat di Bandung itu awalnya hanya berjalan lurus menuju pasar domestik. Produk-produk NOMNOM segera diterima masyarakat karena terbuat dari bahan-bahan alami tanpa pengawet berlebih. Namun, ambisi Erwin tidak berhenti di situ. Ia ingin membuktikan bahwa UMKM Indonesia dapat bersaing dengan produsen camilan global asal. Di tahun-tahun pertama, tantangan terbesar bukan hanya soal resep, tetapi juga soal distribusi, regulasi, dan kepercayaan konsumen luar negeri. Erwin mencatat bahwa banyak pelaku UMKM hebat terhenti karena kurangnya pemahaman akan tata cara ekspor dan persyaratan sertifikasi.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun, hanya sekitar 20 persen yang berhasil menembus pasar ekspor. Angka itu menunjukkan betapa besar potensi yang belum terpakai. NOMNOM justru memilih jalur yang tidak umum: masuk lewat pameran makanan internasional yang disupport oleh BRI. Ajang di Singapura menjadi ajang uji nyata apakah produk pangan olahan Indonesia bisa diterima oleh konsumen yang telah terpapar makanan modern.

Momen pandemi Covid-19 justru menjadi pintu masuk yang tidak terduga. Ketika masyarakat mulai sadar akan pentingnya imunitas dan pola makan seimbang, Erwin meluncurkan Super Shrooms, yaitu camilan jamur panggang yang bebas gluten dan bebas lemak trans. Produk ini hadir dengan kandungan kalori hanya sekitar 100 per kemasan, sangat cocok untuk kalangan urban yang sadar kesehatan. Peluncuran ini berhasil membuka mata banyak petani jamur lokal bahwa hasil panen mereka tidak hanya bisa dijual di pasar tradisional, tetapi juga bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi. Dengan demikian, NOMNOM tidak hanya menciptakan lapangan kerja di pabrik, tetapi juga meningkatkan pendapatan rantai pasok.

Setelah memenangkan hati konsumen lokal, langkah berikutnya adalah masuk ke pasar ASEAN. NOMNOM memilih Singapura sebagai gerbang pertama karena posisinya sebagai hub perdagangan regional dan keramaian Exhibition Centre yang menjadi ajang pameran makanan terkemuka. Pada pameran yang disupport oleh BRI, produk NOMNOM berhasil menarik perhatian puluhan calon buyer dari berbagai negara. Sambutan yang positif itu membuat Erwin yakin bahwa rengginang dan jamur khas Indonesia punya cerita kuliner yang unik dan bisa diterima secara global. Saat ini, perusahaan ini sedang dalam tahap negosiasi akhir dengan distributor Singapura untuk memasok produk secara rutin.

Dukungan perbankan menjadi tulang punggung dari ekspansi tersebut. Sejak 2018, Erwin menjadi nasabah BRI dan memanfaatkan berbagai layanan perbankan untuk mengelola kas dan transaksi. Namun, yang lebih penting adalah akses ke program pengembangan usaha. Melalui Pengusaha Muda BRILian, NOMNOM mendapatkan pembekalan manajemen, pendampingan pemasaran internasional, dan jaringan bisnis yang sebelumnya tak terjangkau. Program ini tidak sekadar memberikan pinjaman, tetapi juga membentuk ekosistem di mana pelaku UMKM bisa bertumbuh secara berkelanjutan. Erwin bahkan berhasil masuk dalam Top 3 Pengusaha Muda BRILian, pencapaian yang membuka banyak pintu baru.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa perjalanan NOMNOM menjadi cermin strategi pemberdayaan UMKM yang tepat. Menurutnya, daya saing tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha beradaptasi, berinovasi, dan membangun merek. BRI terus memperkuat ekosistem yang menghubungkan pembiayaan, teknologi, dan business matching agar semakin banyak UMKM bisa naik kelas. Seiring dengan konsep Danantara Indonesia, peran bank tidak lagi hanya sebagai pemberi kredit, tetapi sebagai mitra pembangunan yang menciptakan nilai tambah berkelanjutan.

Kisah NOMNOM juga mengajarkan pentingnya keberanian bereksperimen. Erwin tak ragu mengubah menu tradisional menjadi camilan modern yang diburu kalangan millennial dan Gen Z. Dari rengginang panggang yang awalnya hanya dikenal di Jawa Barat, kini produk tersebut sudah siap menyeberang Selat Singapura. Jika negosiasi berhasil, dalam waktu dekat konsumen Singapura bisa menikmati snack bernutrisi berbahan lokal Indonesia di supermarket dan butik healthy food mereka.

Di masa depan, NOMNOM berencana memperluas lini produk dengan memperkenalkan varian baru yang memadukan cita rasa Indonesia dengan preferensi pasar internasional. Beberapa konsep rasa yang sedang dikembangkan adalah Blend spicy sambal untuk pasar Asia Tenggara serta varian manahasin yang cocok untuk selera Eropa. Dengan demikian, NOMNOM tidak hanya mengekspor produk, tetapi juga memperkenalkan budaya kuliner Nusantara ke dunia. Jika target ini tercapai, perusahaan ini bisa menjadi contoh barrelhead bagi ratusan ribu UMKM lainnya yang ingin go global.

Bagi pemerintah dan stakeholder ekonomi, contoh NOMNOM adalah bukti bahwa program pemberdayaan UMKM bisa benar-benar terasa di lapangan. Bukan sekadar jargon, tetapi ada angka pertumbuhan, ekspor, dan perubahan taraf hidup masyarakat yang terukur. Dunia usaha membutuhkan lebih banyak cerita seperti ini: sederhana, visioner, dan berakar pada kekuatan tradisi. Ketika UMKM memiliki akses yang setara, tidak ada alasan untuk tidak go international. Rengginang, jamur, dan tempe bisa menjadi duta baru Indonesia di peta perdagangan dunia.

- Advertisement -
Share This Article