Tiga UMKM Indonesia Laku Rp50 Juta di Macau dan Potensi Rp18 Miliar Menanti

Deni Puja Pranata
4 Min Read
- Advertisement -

jfid – Tiga pengusaha muda dari Indonesia baru saja membuktikan bahwa produk lokal bisa bersaing di kancah internasional. Pada pameran Guangdong & Macao Branded Products Fair 2026 yang digelar di Venetian Hotel, Macao, tanggal 6-9 Agustus lalu, mereka tidak hanya memamerkan produk unggulan, tapi juga mencatat transaksi langsung sebesar lebih dari MOP 23 ribu atau setara Rp50 juta kepada 186 pembeli ritel. Angka itu belum termasuk potensi kontrak wholesale yang mencapai MOP 8,25 juta atau sekitar Rp18,2 miliar dari 13 calon pembeli besar yang bergerak di distribusi, hospitality, serta makanan dan minuman. Prestasi itu menunjukkan bahwa kualitas produk UMKM Indonesia tidak kalah dengan produk global asal negara maju, asalkan punya strategi dan pendampingan yang tepat sasaran.

Kisah sukses singkat itu tidak lepas dari strategi kolaborasi yang solid. BRI bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia Hong Kong dan Macau untuk memfasilitasi partisipasi 20 UMKM binaan di GMBPF 2026. Dari jumlah itu, tiga perwakilan andalan yakni Sanfood Brilian Indonesia, Osadha Nusantara, dan Six Scents ditugaskan mempresentasikan kategori pangan sehat, minuman herbal, serta produk perawatan alami. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa langkah ini adalah wujud komitmen konkret bank untuk mengangkat kelas UMKM Indonesia, bukan hanya lewat pembiayaan, tapi juga pendampingan langsung ke ajang bisnis internasional. Dengan kata lain, BRI tidak hanya menjadi pemberi pinjaman, tapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan produk lokal ke buyer global. Pendekatan ini penting karena banyak UMKM yang punya produk bagus, tapi kesulitan mengakses pasar luar negeri karena keterbatasan jaringan dan pengetahuan ekspor.

Pameran Guangdong & Macao Branded Products Fair sendiri bukanlah acara biasa. Pada edisi ke-18 tahun ini, GMBPF berfokus pada empat sektor utama: produk kesehatan dan wellness, pangan sehat, kebutuhan harian ramah lansia, serta produk gaya hidup berkelanjutan. Lebih dari 90.000 pengunjung dan 459 peserta pameran dari berbagai negara hadir dalam empat hari acara. Fokus tersebut tidak lepas dari tren global yang kini mendorong konsumen lebih memilih produk alami, sehat, dan berkelanjutan. Untuk UMKM Indonesia, kesempatan itu sangat relevan karena banyak produk lokal yang sudah memenuhi standar tersebut, hanya belum punya akses ke pameran selevel internasional. Pameran tahunan ini diselenggarakan oleh Commerce and Investment Promotion Institute Macao bersama Department of Commerce of Guangdong Province, China, sehingga kredibilitasnya sudah diakui secara global. Kehadiran Indonesia di pameran ini juga membuktikan bahwa bangsa ini tidak hanya konsumen pasar global, tapi juga pemain aktif yang bisa menyediakan produk berkualitas.

Bagi Eka Risky Septiani sebagai pemilik Sanfood Brilian Indonesia, keikutsertaan di GMBPF 2026 bukan cuma tentang penjualan. “Kami juga membangun relasi dengan pelaku usaha bidang kemasan, percetakan, desain, periklanan, dan branding. Relasi itu bisa menjadi peluang kolaborasi ke depan, terutama dalam mendukung pengembangan produk dan kemasan Sanfood untuk pasar ekspor,” jelasnya. Di sini terlihat bahwa pendampingan yang diberikan BRI tidak berhenti sampai di pintu pameran, tapi juga menyentuh persiapan produk, pemahaman pasar, dan jaringan bisnis yang dibutuhkan untuk bertahan lama di arena global. Proses itulah yang membedakan antara UMKM yang sekadar ikut pameran dengan yang benar-benar siap ekspor. Ketika produk sudah siap, pengetahuan pasar tersedia, dan jaringan distributor terhubung, maka kesempatan untuk scale up menjadi jauh lebih realistis.

Perjalanan UMKM Indonesia menuju pasar internasional memang bukan tanpa hambatan. Standar sertifikasi, regulasi impor, dan persaingan dengan produk established adalah tantangan nyata. Namun, data yang dirilis Kemendag mencatat penjajakan bisnis UMKM mencapai Rp5 triliun menunjukkan bahwa potensinya sangat besar. Kunci utamanya adalah kolaborasi antara pemerintah, bank, dan pelaku usaha. BRI, melalui kerja sama dengan KJRI Hong Kong dan Macau, menunjukkan model yang bisa ditiru: memadukan pengetahuan pasar global, akses ke distributor, dan pendampingan branding. Ketika UMKM punya data yang jelas tentang selera konsumen global dan jaringan yang handal, mereka tidak hanya bertahan, tapi benar-benar berkembang di pasar ekspor. Peluang itu seharusnya tidak hanya dinikmati oleh segelintir UMKM binaan bank, tapi bisa didemokratisasi ke lebih banyak pengusaha kecil yang punya produk berkualitas tinggi.

Langkah BRI mengirimkan UMKM ke Macau ini sebenarnya juga mengirimkan pesan strategis ke pasar global: bahwa Indonesia punya lumbung produk unggulan yang siap diekspor. Bagi pemerintah dan bank pembangunan, pendampingan seperti ini sebaiknya tidak hanya berhenti di satu atau dua pameran, tapi menjadi program berkelanjutan dengan roadmap yang jelas. Jika ribuan UMKM di Indonesia bisa mendapatkan akses serupa, dampaknya tidak hanya pada angka ekspor, tapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan. Karena pada akhirnya, kemajuan UMKM adalah kemajuan ekonomi bangsa.

- Advertisement -
Share This Article