Inilah Bursa Efek Tertua di Indonesia yang Pernah Mengalahkan New York Stock Exchange

Noer Huda
6 Min Read

jfid – Bayangkan Anda menjalani kehidupan di penghujung abad ke-19, saat Indonesia masih dikenal sebagai Hindia Belanda yang dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda. Anda adalah seorang pengusaha yang memiliki perkebunan tebu, karet, atau kopi di pulau-pulau Jawa, Sumatera, atau Kalimantan.

Dalam hati, Anda merindukan peluang untuk mengembangkan usaha Anda, namun terbatas oleh keterbatasan modal. Selain itu, Anda ingin merasakan manfaat finansial dari hasil kerja keras Anda, tetapi Anda belum paham benar mengenai cara menjual saham perusahaan Anda kepada orang lain. Apa langkah yang akan Anda ambil?

Jawabannya adalah: Anda akan berunjuk rasa ke Bursa Efek Pasifik, bursa saham perdana di Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 1882 di Batavia (sekarang Jakarta) oleh pemerintah kolonial Belanda.

Bursa ini pada awalnya dikenal sebagai Vereniging voor de Effectenhandel (Asosiasi Perdagangan Efek), dan menjadi tempat anda dapat memperjualbelikan saham perusahaan perkebunan, pertambangan, dan perbankan yang beroperasi di Hindia Belanda.

Bursa Efek Pasifik bukanlah sekadar bursa saham biasa. Lebih dari itu, bursa ini adalah lambang kemajuan dan kemakmuran Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Bursa ini menjadi saksi bisu dari pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan di wilayah ini, yang dipacu oleh eksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja oleh pemerintah dan perusahaan Belanda.

Bursa ini pun menjadi tempat berkumpul para pengusaha, investor, dan spekulan dari berbagai latar belakang, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Salah satu entitas besar yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Pasifik adalah Deli Maatschappij, perusahaan perkebunan tembakau yang didirikan pada tahun 1869 di Sumatera Utara.

Perusahaan ini berhasil mendominasi pasar tembakau dunia pada masanya, dan menjadi salah satu sumber kekayaan bagi para pemiliknya.

Di antara mereka, terdapat Jacob Nienhuys, pengusaha Belanda yang dikenal sebagai “raja tembakau” dan salah satu orang terkaya di Hindia Belanda.

Puncak kejayaan Bursa Efek Pasifik tercapai pada tahun 1929. Bursa ini menjadi salah satu bursa saham terbesar di dunia, dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai 6,5 miliar gulden.

Bursa ini juga menjadi pusat keuangan regional, menarik investor dari Eropa, Amerika, dan Asia. Banyak yang membanjiri Batavia untuk berinvestasi di bursa ini, berharap meraih keuntungan besar dalam waktu singkat. Bursa ini bahkan mendapat julukan sebagai “Wall Street-nya Asia.”

Namun, kegemilangan Bursa Efek Pasifik tidak berlangsung lama. Pada tahun 1930-an, bursa ini mengalami kemunduran tajam karena dampak krisis ekonomi global yang melanda dunia.

Harga saham perusahaan-perusahaan Hindia Belanda merosot tajam, dan banyak investor yang mengalami kerugian besar. Banyak perusahaan gulung tikar atau mengalami kebangkrutan, dan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka.

Bursa ini juga terimbas oleh ketegangan politik antara Indonesia dan Belanda, yang memicu gerakan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada periode 1942-1945, pemerintah Jepang menutup Bursa Efek Pasifik selama pendudukan mereka di Indonesia.

Pemerintah Jepang mengambil alih semua aset dan properti milik pemerintah dan perusahaan Belanda di Indonesia, termasuk gedung Bursa Efek Pasifik yang berlokasi di Jalan Kebon Sirih No. 40 (kini dikenal sebagai Gedung Bina Graha, kantor Presiden Republik Indonesia).

Para pemegang saham Bursa Efek Pasifik kehilangan hak dan kepemilikan mereka atas saham-saham yang dimiliki, dan tidak pernah menerima ganti rugi atau kompensasi.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya pada tahun 1945, Bursa Efek Pasifik tidak pernah dibuka lagi. Meskipun ada beberapa upaya untuk menghidupkan kembali pasar saham di Indonesia, semuanya gagal.

Baru pada tahun 1977, pemerintah Indonesia mendirikan Bursa Efek Jakarta sebagai pengganti Bursa Efek Pasifik. Bursa Efek Jakarta memiliki tujuan untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pasar modal.

Ada perbedaan mendasar antara Bursa Efek Jakarta dan pendahulunya, baik dari segi struktur, regulasi, maupun produk yang diperdagangkan.

Bursa Efek Jakarta tumbuh menjadi bursa efek terbesar di Indonesia, dengan lebih dari 700 perusahaan terdaftar dan lebih dari 500 ribu investor aktif.

Bursa Efek Jakarta juga bergabung dengan Bursa Efek Surabaya pada tahun 2007, membentuk Bursa Efek Indonesia sebagai entitas yang mengawasi semua bursa efek di Indonesia. Bursa Efek Indonesia mengejar visi menjadi bursa efek yang kompetitif, transparan, dan berintegritas di kawasan ASEAN dan dunia.

Bursa Efek Pasifik adalah bursa efek dengan sejarah panjang dan cemerlang di Indonesia, meski mengalami pasang surut karena perubahan situasi politik dan ekonomi.

Bursa ini merupakan bagian tak terpisahkan dari warisan sejarah dan budaya Indonesia, yang perlu kita jaga dan hargai. Bursa Efek Pasifik juga memberikan inspirasi untuk terus berusaha dan berkarya dalam bidang pasar modal, dengan harapan mampu menciptakan kemajuan dan kesejahteraan bagi bangsa dan negara.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email [email protected]

Share This Article