Samsung Solve for Tomorrow 2026 Bawa 296 Peserta Muda Indonesia Kuasai AI

Rasyiqi
By Rasyiqi - Writer, Saintific Enthusiast
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Samsung Electronics Indonesia kembali menggelar program Samsung Solve for Tomorrow 2026 dengan fokus utama pada pembelajaran kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk generasi muda Nusantara. Tahun ini, sebanyak 296 peserta yang tergabung dalam 80 tim semifinalis mengikuti serangkaian pelatihan AI Amplification yang digelar secara hybrid pada 14, 15, 22, dan 23 Agustus 2026. Program ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi teknologi, melainkan sebuah upaya konsumen untuk membekali peserta dengan cara berpikir kritis sebelum mereka bahkan menyentuh tools AI yang sedang trending di pasar digital.

Program Samsung Solve for Tomorrow 2026 memulai perjalanannya dari proses seleksi yang sangat ketat. Dari sekitar 4.000 pendaftar awal, hanya 2.600 peserta yang lolos mengikuti Design Thinking Workshop untuk memetakan masalah nyata di lingkungan mereka. Dari ribuan peserta itu, 80 tim semifinalis terpilih untuk melanjutkan ke tahap AI Amplification. Pendekatan berjenjang ini menunjukkan bahwa Samsung mencari bibit-bibit inovasi yang benar-benar memahami proses berpikir, bukan hanya mahir memanfaatkan teknologi yang sedang hype di kalangan anak muda Indonesia.

Rahmat Fajri, AI Engineer sekaligus pengajar Technical AI Amplification Samsung Solve for Tomorrow 2026, menjelaskan bahwa banyak peserta awalnya datang dengan ide yang sudah terpaku pada teknologi AI tertentu. Mereka ingin langsung membuat prototype menggunakan model yang sedang viral di media sosial, tanpa terlebih dahulu memastikan apakah masalah yang mereka bawa benar-benar memerlukan solusi berbasis AI. Pelatihan ini memaksa mereka untuk berbalik ke arah yang lebih fundamental: mengidentifikasi masalah, memahami pengguna, membaca data yang tersedia, dan baru memilih pendekatan teknologi yang sesuai dengan konteks.

Samsung Solve for Tomorrow 2026 juga hadir sebagai jawaban atas tantangan baru yang muncul seiring kemudahan akses terhadap berbagai tools AI generatif. Ketika setiap orang bisa menghasilkan konten, kode, atau analisis data dengan satu perintah teks, kemampuan kritis dan logis menjadi aset yang lebih berharga daripada sekadar bisa mengoperasikan teknologi. Peserta tidak hanya diajarkan berbagai cabang AI seperti Machine Learning, Deep Learning, Generative AI, Computer Vision, Natural Language Processing, dan predictive AI, tetapi juga bagaimana memilih teknologi yang relevan dengan konteks masalah spesifik mereka, bukan sekadar ikut tren semata.

Peserta juga memperkenalkan diri pada konsep Edge AI dan Cloud AI untuk memahami perbedaan serta keunggulan masing-masing pendekatan dalam penerapan nyata. Dengan pemahaman ini, mereka dapat menentukan arsitektur sistem yang paling efisien untuk solusi yang mereka kembangkan. Apakah data harus diproses di perangkat edge untuk menjaga privasi, atau dikirim ke cloud untuk komputasi yang lebih kompleks, menjadi pertimbangan penting yang diajarkan selama pelatihan intensif.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraan program ini di Indonesia, pelatihan teknis pada tahap semifinal diselenggarakan dalam format hybrid yang menggabungkan pengajaran langsung dan daring. Para pengajar memberikan materi secara langsung dari kantor Samsung Indonesia di Jakarta, sementara peserta dari berbagai daerah mengikuti sesi pembelajaran secara daring. Setiap tim kemudian mengembangkan prototype berbasis AI berdasarkan masalah nyata yang mereka temukan di lingkungan sekitar, dengan bimbingan intensif melalui sesi praktik dan tanya jawab yang berlangsung selama empat hari berturut-turut. Format ini memungkinkan Samsung menjangkau peserta dari luar Jawa tanpa mengorbankan kualitas pengajaran langsung.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen memang sudah memulai langkah transformasi pendidikan nasional dengan memasukkan AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas V Sekolah Dasar. Upaya ini diperkuat melalui pelatihan guru serta penyediaan sarana dan prasarana di berbagai sekolah di seluruh Indonesia. Namun, kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menciptakan solusi yang berdampak. Pengembangan inovasi yang benar-benar berguna juga membutuhkan kemampuan memahami kebutuhan pengguna, bekerja sama dalam tim, berkomunikasi dengan jelas, serta memutuskan teknologi mana yang paling tepat untuk masalah yang dihadapi.

Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menegaskan bahwa generasi muda Nusantara punya potensi besar untuk menjadi penggerak transformasi digital. Menurutnya, tugas Samsung adalah memberi mereka ruang, keterampilan STEM dan AI, serta kesempatan untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi masyarakat. Inovasi tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari keberanian untuk melihat masalah dengan cara yang berbeda serta tekad untuk mengeksekusi solusinya dengan tanggung jawab. Program ini juga menempatkan soft skills setara pentingnya dengan hard skills teknis.

Setelah menyelesaikan serangkaian AI Amplification, peserta semifinal akan memasuki tahap mentoring intensif untuk menyempurnakan solusi masing-masing. Mereka diminta membuat final paper, prototype yang dapat diuji secara langsung, dan pitch video yang akan dievaluasi oleh dewan juri profesional. Sepuluh tim terbaik dari masing-masing kategori Siswa dan Mahasiswa dijadwalkan diumumkan pada 7 Oktober 2026 untuk melaju ke babak final. Program ini diharapkan tidak hanya mencetak pemilik teknologi masa depan, tetapi juga membentuk ekosistem inovasi yang tangguh dan berkelanjutan di tanah air. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, langkah Samsung ini menjadi investasi jangka panjang untuk daya saing bangsa Indonesia di era digital.

- Advertisement -
Share This Article