jfid – Rudiansyah, remaja 17 tahun dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah, viral setelah mengenakan kostum Superman untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Petuk Ketimpun. Aksi yang disambut Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Kehutanan tidak sekadar cerita heroik sehari. Di balik kostum berwarna biru dan merah itu, tersimpan ilmu pengetahuan lingkungan yang menjadi kunci mengapa Indonesia begitu rentan terhadap api dan bagaimana cara melawannya secara ilmiah.
Karhutla berbeda secara fundamental dengan kebakaran hutan biasa. Ilmuwan dari BRIN dan BMKG menjelaskan bahwa api yang membakar lahan gambut bekerja di bawah permukaan tanah. Gambut merupakan tumpukan bahan organik yang terdekomposisi selama ribuan tahun di bawah air. Ketika digerogoti api, gambut menyala hingga 30 centimeter di bawah permukaan dan bisa bertahan selama berminggu-minggu bahkan setelah hujan deras. Sementara api permukaan bisa dipadamkan dengan water bombing, api bawah tanah membutuhkan pendekatan hidrologi yang memadai. Proses peluruhan karhutla sebenarnya adalah reaksi oksidasi yang mengandoksilkan oksigen dan melepaskan karbon dioksida dalam jumlah masif.
Operasi modifikasi cuaca atau OMC menjadi salah satu teknologi yang dipakai untuk memerangi karhutla di Kalimantan. Ilmu di balik OMC terletak pada penaburan bahan pengawet awan seperti garam ammonium sulfat atau urea ke dalam awan konvektif. Bahan ini berperan sebagai inti pembekuan yang memicu proses koalesensi butir-butir air di dalam awan. Ketika butir-butir air bertemu dan tumbuh hingga mencapai massa kritis, hujan akan turun secara artifisial. Data operasi di Kalimantan menunjukkan bahwa water bombing dari helikopter mampu menjatuhkan sekitar 5.000 liter air per misi, sedangkan OMC bisa menimbulkan hujan di area seluas 2.000 hektare dalam waktu enam jam jika kondisi awan memadai.
Keterlibatan masyarakat menjadi variabel penting yang jarang dibicarakan dalam laporan karhutla. Rudiansyah bukan cuma ikut andil, dia juga membawa pengetahuan lokal tentang arah angin dan sebaran lahan gambut yang tidak tercatat di peta satelit. Psikologi lingkungan menegaskan bahwa orang yang tinggal di tengah ekosistem gambut memiliki kognisi spasial yang lebih baik untuk memprediksi pergerakan api dibanding algoritma satelit yang kadang tertahan oleh kabu asap. Kombinasi data satelit Sentinel dan pengetahuan lokal inilah yang menjadi model prediksi karhutla terbaru dari BRIN.
Pemerintah dan lembaga penelitian sedang menguji sistem deteksi dini berbasis sensor IoT yang ditanamkan di lahan gambut berisiko. Sensor ini mengukur suhu tanah, kelembaban, dan kandungan oksigen dalam waktu nyata. Data dari sensor dikirim ke pusat kendali di Palangka Raya, yang kemudian memicu peringatan otomatis jika suhu naik di atas ambang batas. Model prediksi ini memanfaatkan machine learning untuk mempelajari pola pembakaran tahun sebelumnya dan memproyeksikan wilayah mana yang berpotensi besar terbakar dalam seminggu ke depan. Efektivitas sistem ini mencapai 87 persen berdasarkan uji coba di Kalimantan Tengah pada musim kemarau 2025.
Pulih dari luka karhutla bukan hanya soal memadamkan api. Lahan gambut yang terbakar memerlukan restorasi hidrologis yang bisa bertahun. Tanah gambut yang kering dan terdegradasi sulit menyerap air kembali. BRIN merekomendasikan pembangunan kanal blokade untuk menahan air hujan di dalam lahan, ditambah penanaman jenis pohon native seperti pulai dan gelam yang memiliki akar dalam hingga empat meter. Proses restorasi ini bisa memakan waktu 15 hingga 20 tahun sebelum lahan kembali berfungsi sebagai reservoir karbon yang sehat.
Di balik kisah pahlawan muda itu, Indonesia menghadapi tantangan besar. Setiap karhutla besar dapat melepaskan lebih dari 500 juta ton karbon dioksida setara dengan emisi industri tahunan dari negara Eropa menengah. BMKG mencatat bahwa musim kemarau 2026 menunjukkan curah hujan 40 persen lebih rendah dari rata-rata historis, sementara suhu permukaan laut di Laut Jawa naik 1,2 derajat Celsius. Fenomena El Nino yang semakin intensif diperkirakan akan memperpanjang musim api hingga akhir November. Masyarakat seperti Rudiansyah menunjukkan bahwa solusi tidak hanya ada di laboratorium atau helm pejabat, tetapi juga di tangan anak muda yang memahami bahwa menjaga hutan adalah cara termanis menyelamatkan masa depan planet.
Evolusi taktik penanganan karhutla di Indonesia tidak lepas dari pelajaran pahit masa lalu. Pada 2015, karhutla meluluhlantakkan lebih dari 2,6 juta hektare lahan dan menelan biaya ekonomi sekitar 470 triliun rupiah. Kajian dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa kabut asap karhutla 2015 menyebabkan lebih dari 100.000 kematian dini di Asia Tenggara akibat polusi udara. Ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mencatat bahwa frekuensi karhutla memang meningkat seiring peningkatan suhu global, tetapi faktor utama pemicu tetap aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan bakar dan pola tanam yang tidak ramah gambut.
Teknologi penginderaan jauh juga terus berkembang untuk mendeteksi titik panas lebih akurat. Satelit Sentinel-2 milik ESA memiliki resolusi spasial 10 meter dan mampu memetakan kerusakan lahan gambut hingga kedalaman 50 centimeter di bawah permukaan. Sistem informasi geografis yang memadukan data satelit ini kini bisa memprediksi tingkat kerentanan api dengan akurasi 82 persen untuk wilayah Kalimantan dan Sumatera. Kedepannya, integrasi drone dengan kamera termal dan sensor gas akan memungkinkan deteksi api bawah tanah yang tidak terlihat oleh mata manusia hingga 48 jam sebelum muncul ke permukaan.

