Pengakuan Ketua BUMDes, Saat Ditekan Bayar 25 Juta oleh 4 Orang yang Mengaku Wartawan

Deni Puja Pranata
4 Min Read

jfID – Pada jam 20.00, Sabtu Malam, Ahmad Sofyan Hadi bertamu ke Laboratorium jurnalfaktual.id. Dengan wajah muram, Hadi (sapaan akrabnya) seperti ada beban berat yang ia pikul. Sebagai manusia, saya perlu bertanya, apalagi dalam situasi Pandemi Covid-19 yang paceklik.

Ada apa mas Hadi? Tanya saya, sambil meminum kopi yang baru disajikan istri. Sebelumnya, saya jelaskan, Hadi adalah ketua BUMDes Kalimo’ok, kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Ia hidup dari penghasilan menjual barang kebutuhan pokok di BUMDes yang berbentuk toko.

Hadi, dengan suara pelan menceritakan, jika BUMDes yang dikelolanya diberitakan oleh media, karena dirinya tak sanggup membayar uang dengan nilai Rp. 25.000.000 (Dua puluh lima juta rupiah).

“Sekitar lima hari yang lalu, datang dua orang bernama Sukarman dan Hendri, mengaku wartawan Radar Indonesia. Dirinya menyoal BUMDes Kalimo’ok fiktif dan bermasalah. Dua hari kemudian, Busriyanto mengaku Wartawan Independentnews.id dan Hendro. Ia mempersoalkan BUMDes karena sebagian dana dipinjam oleh Agus (PJ Kades Kalimo’ok) sebesar 30 juta,” terang Hadi, ketua BUMDes Kalimo’ok.

Hadi, luapkan keresahannya. Dengan bercerita jika Sukarman (mengaku wartawan Radar Indonesia) mengirim sebuah tulisan yang ia sebut konsep berita yang akan tayang. Jika tidak bisa memberikan kompensasi, berita akan tayang. Ancaman tersebut, bertujuan agar pemberitaan soal uang BUMDes sebesar 30 juta yang dipinjamkan tidak tersebar luas ke publik. Bahkan, Hadi diancam akan dilaporkan ke Polisi.

Busriyanto, (independentnews.id) mengklarifikasi pada jurnalfaktual.id, jika dirinya tidak pernah meminta uang dan melakukan pemerasan.

“Yang menentukan memeras atau tidak bukan sampeyan mas, tapi Kejaksaan. Hati-hati, ini menyangkut pencemaran nama baik,” ungkapnya pada jurnalfaktual.id. Sabtu (16/5/2020).

Dilain hal, kisruh orang yang mengaku wartawan dan mencoba melakukan pemerasan pada ketua BUMDes di desa Kalimo’ok itu, ramai di medsos dan mendapat perhatian dari berbagai Jurnalis di Sumenep.

Ahmad Sa’ie, ketua Komunitas Jurnalis Sumenep mengutuk keras apa yang dilakukan oleh oknum yang mengaku-ngaku wartawan dengan melakukan pemerasan.

“Pemerasan itu, tidak ada dalam kaidah jurnalistik. Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) yang bekerja secara profesional dan patuh pada kode etik, sangat dirugikan dengan adanya oknum yang mengaku wartawan dan mencoba melakukan pemerasan,” tegas Ahmad Sa,ie, ketua Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS).

Berbagai kecaman pun datang dari pentolan media-media besar di Madura. Hartono, Pimpinan Redaksi Portalmadura.com, memberikan penilaian, jika media yang memuat pemberitaan soal BUMDes itu tidak memiliki alamat Redaksi yang jelas.

“cek lokasi dua nama itu… satu situs tidak ada. Yang satunya gak ada alamat dan susunam redaksi…. masih perlu pendapat? no no no,” terang Hartono, Pimpinan Redaksi portalmadura.com.

Hambali Rasidi, Pimpinan Redaksi Matamaduranews.com, juga menyoal para wartawan yang tidak mematuhi kaidah dan etika jurnalistik.

“Wartawan perlu patuhi Kaidah jurnalistik, siapa yang melakukan pemerasan? Sudah saya kirim video korban ke Polisi,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Nita, Pimpinan Redaksi Seputarmadura.com dan Samaruddin, Pimpinan Redaksi memoonline.co.id, juga mengutuk keras, oknum-oknum yang mengaku wartawan dan melakukan pemerasan. “Laporkan, segera laporkan ke Polisi,” tegasnya, dengan nada kompak.

Yang menarik adalah pandangan Nur Khalis, wartawan Kompas. Dirinya menilai, “jikapun pihak ketua BUMDes salah. Seorang wartawan tidak boleh memeras. Pemerasan itu tidak ada dalam kamus jurnalistik,” tegas pernyataannya.

Berita terkait dengan judul: “Badan Usaha Milik Desa Kalimo’ok diduga Fiktif” terbit di cakrawala.com (berita setelah tayang di hapus) dan terbit dengan isi yang sama di Independentnews.id.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article