Cermin Bernegara Buat Kaum Muda, Belajar Jangan Pakai OLDMIND Lagi

Rasyiqi
By Rasyiqi
7 Min Read

jfID – Ketika dikabari bahwa Kim Jong Un pemimpin Korea Utara sakit dan aktifitas kenegaraan digantikan adiknya yang wanita, maka para analis intelijen pertahanan mulai melakukan pembahasan mendalam.

Di dalam serial narasi cara cerdas bernegara memberikan pelajaran bernegara bagi kaum milenial dan generasi zoomer paling enak dengan data dari negara Internasional sehingga ketika dirinya membandingkan dengan pemerintahan Indonesia saat ini, mereka bisa mengambil pelajarannya.

Penting untuk membandingkan dan menganalisa sehingga tahu, ini Indonesia baik, ini Indonesia jelek, ini pejabatnya jelek, ini pejabatnya punya agenda kaki tangan asing, ini pejabatnya punya ideologi asing, ini pejabatnya tidak pro pada swasta, ini rakyatnya belum faham sehingga dimanfaatkan oleh pejabat, dan berbagai pengetahuan dasar bernegara lainnya yang kelak ketika mereka menjabat, para generasi muda ini bisa langsung menjalankan fungsinya dengan mengambil hal terbaik dari berbagai informasi.

Kembali ke Korea Utara. Terpesonanya banyak pejabat akan suksesnya komunis China membangun negara China yang di propagandakan hanya sisi megapolitan dan kesuksesan materi pencapaian apa yang Tiongkok lakukan dalam 30 tahun terakhir ini.

Bahkan ada pejabat teras Indonesia mengatakan, komunis itu menyatukan China dan dibutuhkan Tiongkok untuk menyatukan 1,4 milyar penduduk. Lalu dia melanjutkan, itu yang kita lakukan sehingga tidak ada kritik yang tidak perlu, sehingga pemerintah bisa mendeliver sehingga kemiskinan bisa di selesaikan di China.

Ok boss, maksudmu komunis itu bagus gitu?
Korea Utara itu komunis juga, rakyatnya miskin-miskin, padahal rakyatnya taat dan takut sama dewa mereka yaitu presiden Kim Jong Un.

Sudahlah boss, jangan muji-muji komunis jangan terlalu memuja tiongkok. Tuh khan mau ngomongin Korea Utara jadi aja muter muter gar- gara luh ah terlalu cinta Tiongkok, padahal lu cinta cuan doangkan. Ya begitulah manusia kalau ideologinya cuan, lupa nasionalis.

Bagi banyak pengamat, Kim Jong Un sang cucu pendiri Korea Kim Il Sung hidup hedonis sejak kecil bukan merupakan seorang yang mempunyai ideologi komunis seperti kakeknya secara spirit. Dia sudah merupakan manusia oportunis di negara komunis.

Mao Zedong memelihara Kim il Sung dan memelihara dendam Korea Utara terhadap Korea Selatan dan Amerika. Mao memberikan segalanya agar Kim il Sung berkuasa juga membangun aliansi kekomunisan agar komunis punya etalase banyak.

Oh iya sekedar mengingatkan, si bossman ini sejak awal 2018 sudah mengatakan perang dagang Amerika Tiongkok sesungguhnya adalah perang IDEOLOGI antara komunis dan demokrasi. Karena itu, jauh-jauh hari itu juga kita mengingatkan hati-hati miring kesiapa nya karena bisa di artikan mendukung ideologi tersebut.

Ketika Deng Xiaoping berkuasa, Ronald Reagan berada di posisi seberang mulai menekan Tiongkok. Amerika akan membantu ekonomi China kalau mengadaptasi demokrasi di Tiongkok dalam 40 tahun ke depan, dan 40 tahun ini seharusnya sekarang sekarang ini. Deng Xiaoping setuju!

Amerika mulai masuk namun di tahun 90 an pertengahan globalis cabal mendompleng demokrat Clinton mempunyai skenario lain di bungkus dengan propaganda GLOBAL SUPPLY CHAIN. Dimana ada banyak hal yang dilakukan dengan strategi global suplay chain itu, pertama membuat dunia saling ketergantungan, kemudian setiap negara atau wilayah dimanfaatkan kekuatannya sehingga produk bisa murah dan banyak, dan pastinya menciptakan ketergantungan akan dolar dengan ekosistem yang diciptakan sangat rumit tersebut.

Payment sistem harus menggunakan matauang dunia, dolar yang disebut multinasional currency.

Masuknya Xi Jing Ping dalam jajaran puncak partai komunis China diawalnya membantai lebih dari 1 juta anggota partai dengan alasan korupsi namun banyak yang mengetahui itu bagian dari genosida pembasmian lawan politiknya yang mendukung demokrasi di Tiongkok. Dibantai ini bukan di bunuh semua tetapi ribuan yang di hukum mati dan sisianya di copot jabatan politiknya partai jadi warga biasa yang tidak boleh menggunakan sarana umum transportasi dan lain sebagainya untuk jangka panjang.

Strategi Xi Jing Ping adalah Tiongkok menguasai dunia. Dan untuk pertama kali dalam sejarah Tiongkok menantang hegemoni tertinggi saat ini, Amerika.

Amerika di bawah Obama yang humanis, Amerika lalai membangun nasionalismenya, kemudian Hilary kaki tangan globalis cabal mencoba memperpanjang kekuatan namun entah bagaimana si ontohod Trump yang memimpin.

Dunia tersadar permainan Tiongkok, Amerika tersentak, namun globalis cabal tidak suka niat mereka dan permainan mereka dibongkar Trump dan di jatuhkan. Sekarang Biden Kamala melawan Trump sekita 70 hari lagi perang itu terjadi, pilpres Amerika.

Dimana perang tersebut sesungguhnya adalah antara patriotis nasionalis melawan globalis liberal.
Jadi kalau kita bisa simpulkan diskusi kita kali ini adalah, runtuhnya Uni Soviet dengan gerakan 13 shadowman nya reagan tahun 1991 puncaknya kemudian reunifikasi Jerman Timur dan Jerman Barat akan diulangi lagi oleh Trump.

Trump ini mengidolakan Reagan sejak tahun 80an akhir sehingga kampnye Reagan sama dengan kampanye Trump make America great again juga menggunakan strategi mengelola negaranya sama, anti komunis.

Amerika akan membuat komunis China menjadi negara demokrasi, dan Trump lakukan itu sekarang. Kemudian dengan sakitnya Kim atau bahkan meninggal maka kemungkinan besar akan terjadi reunifikasi Korea Utara dan Selatan yang menyimbolkan runtuhnya komunis sekali lagi di menangkan demokrasi menjadi mercusuarnya Amerika dan Trump.

Untuk Indonesia mudah-mudahan ngak cemen ya pejabatnya melihat peta dunia, dan hati-hati miring ke siapanya. Iya tahu kalian bilangnya bebas aktif, tapi jangan sampai urutan sejarah terulang, Soviet runtuh, reunifikasi Jerman, resesi ekonomi 97 menumbangkan pemerintahan yang ngak nurut. Ayo main cantik wahai pejabat. #peace

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

TAGGED:
Share This Article