Negeriku Pasca Corona

M. Rizwan
7 Min Read

jfID – Dunia bergerak dengan cepat, China pada kurun waktu Desember 2019 lalu sudah melapor ke World Health Organisation (WHO) terkait dengan keberadaan Covid 19. Tidak ada yang bisa memprediksi bahwa dalam hitungan bulan, pandemi Covid 19 tersebut telah mengubah wajah dunia, dari super sibuk menjadi kusut, dari super saing menjadi bertekuk lutut.

Wabah Covid 19 membawa dampak perubahan pada masyarakat dan pada kehidupan sehari-hari, yang diharapkan hanya sementara, persis seperti sekedip mata, yakni kapan segera berakhir.

Lantas, di era pandemi Covid 19, muncul Istilah #StayAtHome# yang kemudian apakah akan membuat kita kreatif, atau semakin sulit? Disini akan timbul bayangan prihal hukum probablitas akan perubahan besar dalam tatanan hidup, baik dari segi ekonomi, sosial, politik serta kebijakan dan kehidupan lainnya.

Sekilas terasa sangat rasionalitas, dan terdengar etis, akan tetapi betulkah kejadiannya demikian?

Kemudian istilah Lockdown, karantina, kacaunya rantai suplay logistik lainnya adalah sinyal dari sebuah komunitas yang mengalami pelambatan dari sebuah mode kecepatan tinggi. Kelihatannya kita akan kembali kepada normalitas baru, setelah Covid 19 terlewati, sebab akan terjadi perubahan skala besar dalam segala sektor.

Dunia dengan Covid 19 ini memang tidak adil. Kebijakan #stay at home# dan lainnya memang tak masalah bagi warga yang berkecukupan (menengah ke atas) tetapi menjerat leher bagi warga yang strata ekonominya menengah ke bawah. Hendak keluar, terikat aturan protap pencegahan Covid 19, hendak tinggal di rumah, keluarga menjerit butuh makan.

Ketimpangan sosial yang dirasakan tersebut akan membuat si kaya semakin kaya, si miskin tambah fakir. Dalam situasi kegalauan seperti ini, apakah solusinya?

Sebelum kita bahas solusinya, alangkah elok kiranya, membahas tentang perasaan yang mungkin secara bersama merasakannya, akan tetapi malu untuk mengungkapkannya.

Sekilas, kita membayangkan, berapa triliunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang terserap untuk menangani Covid 19 ini, yang tersalur via BLT, JPS, dan bantuan lainnya? Kemudian berapa APBD yang dikucurkan, seperti contoh berapa milyar anggaran yang dikucurkan hanya untuk penggandaan masker, telur, dan bahan pokok masyarakat?

Berapa duit APBD Kabupaten/Kota yang dipergunakan sampai kemudian ADD pun terpaksa harus dipotong penganggarannya untuk membiayai pemberantasan Covid 19. Sungguh virus yang katanya diperbesar oleh mikroscop sebanyak 1000 kali ini bisa melumpuhkan sektor vital negara.

Roda perekonomian terpaksa lumpuh dengan penerapan Lockdown, PSBB, PSBD, PSBL dan physical distancing. Para produsen menutup akses distributor, para distributor pusing akibat bingung mau mendistribusikan kemana, akhirnya akan sampai kepada titik para konsumen kekurangan bahan pangan.

PHK kemungkinan bisa saja digalakkan dengan skala besar sebab perusahaan sudah tak mampu lagi menggaji karyawannya, pengangguran tak mampu lagi di hindari. Kini, ada 7 juta pengangguran di Indonesia.

Kebijakan pembangunan yang semula di prioritaskan untuk satu titik, terpaksa harus dibongkar untuk menutupi pembiayaan Covid 19.

Rasa soliditas sosial semakin memburuk, semangat gotong-royong hanya dikomando lewat video conference, yang bisa saja subjeknya tak sesuai dengan predikat yang akan dikerjakan.

Semangat keberagamaan sudah menyepi dan luntur, shalat berjamaah, jum’atan, tarawih dan kegiatan ritual lainnya dengan nada terpaksa pemerintah menghentikan sementara untuk tujuan kebaikan.

Patologi sosial kemungkinan juga bisa muncul, akibat faktor kebutuhan hidup, lonjakan kriminalisasi bisa saja terjadi, sebab tak ada lagi yang mesti diharapkan selain melakukan tindakan di luar norma untuk mencapai hajatan hidup.

Pencurian, perampokan dan bisa saja kerusuhan akan timbul akibat gesekan kebutuhan ekonomi yang tak tercukupi, sehat boleh terjaga, akan tetapi perut minta diisi terus, sementara pemerintah belum mengetahui secara persis apa kebutuhan dan keinginan masyarakat bawah.

Tantangan hidup semakin rumit, yakni antara hajatan hidup dan ancaman hidup. Hendak keluar mencari dan mengais rezeki untuk kebutuhan. Virus mengancam dan bisa menjangkiti kapan saja, dan jika harus #stay at home# kelaparan dan hajat hidup tak terpenuhi. Simalakama.

Tabungan yang selama ini ditabung, sudah tak memungkinkan lagi untuk tetap tak dipakai, sebab biaya hidup mendesak. Akibatnya, ketika Corona sudah berhenti, maka terjadi simulasi awal dan beranjak pada titik nol.

Kekacauan perekonomian, sosial dan lainnga yang ditimbulkan oleh covid-19, negara diharapkan menjadi malaikat sejarah yang menyelamatkan umat manusia. Satu-satunya penunggang kuda di hari kiamat di akherat.

Industri manufaktur, pasar saham, hingga perdagangan komoditas terlihat sedang sekarat, komunikasi digital di antara umat manusia sejagat raya tetap berjalan. Ini artinya, meski sejumlah modus produksi neoliberal berada di ambang kematian, modus non-reproduksi tetap bertahan memelihara kewarasan.

Musim Corona saat ini pusat dunia dan pusat segala aktifitas adalah rumah dan keluarga (home and family) bukan Negara adi daya atau kota-kota besar, gedung parlemen apalagi, jalanan.

Jikalau kita mesti beranggapan bahwa praktik dan berbuat sesuatu bukan lagi kemungkinan teoretis, maka dewa menyelamat kita pasca-corona adalah “kesadaran bersama”. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus menjadi agen dalam diri pribadi dan untuk orang lain dalam mengembalikan roda perputaran dunia, negara dan daerah seperti sedia kala.

Selain itu, kita juga harus bisa Move on dengan kondisi ini, jangan kita terlena karena justru akan membuat Negara kita semakin bangkrut mengurus kita. Kita cinta negara kita, tentu kita harus berbuat untuk negara kita.

Move on, jangan terlena pasca ini, semangat membangun, semangat berjuang harus kita bangkitkan kembali. Semua leading sektor harus kita gerakkan kembali, kita tata, kita rapikan untuk kebaikan bangsa dan Negara kita tercinta.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article