5 Jurnalis Hilang Saat Liput Erupsi Anak Krakatau Tim SAR Perluas Pencarian

Ningsih Arini
4 Min Read
- Advertisement -

jfid – Operasi pencarian dan pertolongan diperluas Rabu pagi ini setelah lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau belum juga ditemukan. Tim SAR gabungan menambah area penyisiran di perairan Selat Sunda setelah hari pertama operasi mengembalikan hasil nihil.

Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten menurunkan personel sejak menerima laporan pada Selasa pagi, namun penyisiran seharian panjang tidak membuahkan hasil. Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyatakan tim tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang menjadi fokus pencarian.

Kelima jurnalis yang hilang adalah M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal. Mereka bergabung dengan kapten kapal Warta, ABK Surakman, serta guide Heriyanto. Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB untuk meliput kondisi Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi.

Kepala Desa Sukajadi Sandi mengonfirmasi awalnya rombongan menyewa kapal kepada warga dengan rencana pergi dan pulang dalam sehari. Hingga kini tidak ada komunikasi sama sekali dari mereka. Kondisi ini membuat keluarga dan rekan kerja semakin cemas, terutama karena abu vulkanik masih menyebar di area sekitar kawasan Selat Sunda dan perairan menjadi sangat berbahaya.

Pada pencarian hari kedua, tim SAR menyiapkan dua drone termal dari KN SAR Tetuka untuk menggantikan helikopter yang belum bisa terbang karena abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menyebar. Koordinator Operasi SAR Rizky Dwianto menjelaskan drone tersebut akan digunakan untuk melakukan penyisiran dari udara dengan teknologi thermal imaging yang bisa mendeteksi panas tubuh di tengah kabut abu.

Keputusan untuk menunda pencarian malam hari diambil karena kondisi laut kurang bersahabat dan visibilitas terbatas. Kapal KN SAR Tetuka bersandar di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, sekitar pukul 22.00 pada Selasa (8/9) untuk memastikan keselamatan tim sebelum melanjutkan operasi pada Rabu pagi. Evaluasi malam hari mempertimbangkan faktor cuaca, arus laut, dan sebaran abu vulkanik yang tidak menentu.

Operasi pencarian melibatkan lebih dari 2 ribu personel gabungan dari SAR, TNI, Polri, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Area penyisiran diperluas berdasarkan evaluasi kondisi lapangan. Pencarian darat dan laut digelar secara serentak, dengan fokus utama pada zona perairan sekitar Gunung Anak Krakatau yang masih aktif mengeluarkan material vulkanik.

Gunung Anak Krakatau sendiri telah menunjukkan aktivitas erupsi yang signifikan sejak pekan lalu, meningkatkan risiko bagi kapal kecil yang beroperasi di Selat Sunda. Abu vulkanik yang membentuk kolom tinggi sering kali membatasi visibilitas dan membahayarkan perjalanan laut, terutama pada malam hari ketika navigasi menjadi lebih sulit dan komunikasi radio bisa terganggu.

Keluarga para jurnalis kini menunggu informasi perkembangan SAR dengan harapan yang tinggi. Beberapa keluarga sudah tiba di lokasi untuk memantau langsung proses pencarian. Dukungan moril juga mengalir dari rekan sejawat dan institusi media tempat mereka bekerja. Sebagian keluarga masih menahan tangis sambil berdoa agar rombongan segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah mengirimkan bantuan logistik untuk mendukung operasi SAR, termasuk tenda, makanan, dan peralatan medis darurat. Koordinasi antarlembaga menjadi kunci utama dalam situasi ini, terutama karena area pencarian sangat terbatas akibat ancaman abu vulkanik yang masih tiba-tiba keluar tanpa pola yang bisa diprediksi dengan akurat.

Sampai berita ini diturunkan, pencarian masih berlangsung dan belum ada perkembangan baru mengenai lokasi delapan orang yang hilang. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi resmi dari SAR dan BNPB untuk menghindari berita hoaks yang bisa memperburuk kondisi psikologis keluarga dan tim pencari. Informasi yang tidak jelas asal-usulnya justru bisa mengganggu fokus operasi darurat yang sedang berjalan.

Gunung Anak Krakatau adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia yang terletak di Selat Sunda antara Jawa dan Sumatra. Erupsi kecil terjadi berkali-kali setiap tahun, namun aktivitas pada bulan September 2026 ini dinilai lebih tinggi dari biasanya. Badan Geologi memantau kenaikan statusnya ke siaga tinggi karena menyangkut keselamatan transportasi laut dan pesawat udara di sekitar kawasan tersebut.

Kelima jurnalis yang hilang merupakan reporter dan fotografer yang rutin meliput aktivitas vulkanik untuk berbagai media nasional. Mereka dikenal sangat berpengalaman dalam meliput bencana alam, namun situasi kali ini dianggap sangat tidak biasa karena abu vulkanik menyebar lebih cepat dari perkiraan dan cuaca di Selat Sunda berubah secara tiba-tiba.

Tim SAR juga menyiapkan kapal patroli tambahan untuk mengamati area perairan sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang. Pantauan visual dari pulau-pulau terdekat belum memberikan petunjuk kuat meski beberapa warga mengaku melihat asap putih di pagi hari. Pantauan satelit juga digunakan untuk memperkirakan pergerakan massa abu yang bisa menghambat visibilitas tim pencari.

Menteri Koordinator PMK Pratikno telah meminta seluruh instansi terkait memberikan dukungan maksimal. Dia menekankan bahwa keselamatan jurnalis adalah prioritas utama, sehingga operasi SAR harus berjalan tanpa hentian sampai para jurnalis dan kru kapal ditemukan. BNPB juga mengirimkan koordinator khusus untuk memastikan komunikasi antarinstansi tetap lancar.

Di luar operasi pencarian, masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta untuk tetap waspada terhadap abu vulkanik yang bisa jatuh kapan saja. Sejumlah warga di Pantai Carita melaporkan lapisan tipis abu di atas mobil dan rumah mereka. Petugas kesehatan menyarankan masyarakat menggunakan masker dan menghindari aktivitas outdoor panjang jika abu terlihat menumpuk di udara.

Kontroversipun muncul setelah beberapa akun media sosial menyebarkan informasi tak verifikasi soal lokasi rombongan jurnalis. Pihak SAR meminta masyarakat tidak menyebarkan lokasi yang belum terkonfirmasi karena bisa mengacaukan arah operasi pencarian. Koordinator Operasi SAR menambahkan bahwa mereka telah membentuk tim khusus untuk memantau dan menanggapi setiap laporan yang masuk dari masyarakat.

Sementara itu, serikat jurnalis dan organisasi pers menuntut transparansi penuh dari tim SAR. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia bagian jurnalis mengirimkan tim independen untuk memantau jalannya operasi dan memastikan tidak ada kelalaian yang menutupi temuan penting. Mereka juga akan memantau kondisi kesehatan mental keluarga yang ditinggalkan selama operasi berlangsung.

Pencarian diperkirakan akan berlangsung minimal tiga hari ke depan jika tidak menemukan petunjuk baru. Tim SAR menyiapkan persiapan logistik panjang, termasuk cadangan makanan, minyak pelumas kapal, dan baterai cadangan untuk drone. Mereka juga berkoordinasi dengan otoritas maritim untuk membatasi lalu lintas kapal di zona Selat Sunda agar tidak mengganggu area pencarian dan meningkatkan keselamatan.

Masyarakat bisa mengirimkan informasi atau klb melalui kantor SAR terdekat atau nomor layanan darurat. Setiap laporan akan diverifikasi tim sebelum dijadikan arahan baru untuk operasi. Informasi yang akurat dan cepat bisa menjadi faktor penentu dalam situasi penyelamatan orang hilang di laut dengan kondisi cuaca dan visibilitas yang sangat menantang.

- Advertisement -
Share This Article