BPOM Peringatkan Masyarakat Jangan Tergiur Obat Diet yang Klaim Instan

jfid
By jfid
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Badan Pengawas Obat dan Makanan kembali mengingatkan publik untuk waspada terhadap promosi obat diet yang marak di media sosial.

Kepala BPOM Prof. Dr. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed menekankan bahwa banyak informasi beredar justru menampilkan klaim berlebihan atau overclaim yang tidak sesuai standar keamanan.

Konsumen sering hanya bergantung pada ulasan influencer tanpa memverifikasi keabsahan produk yang ditawarkan.

Padahal, obat penurun berat badan yang membutuhkan resep dokter harus digunakan sesuai anjuran tenaga medis, bukan sekadar mengikuti tren di platform digital.

Sebelum memutuskan membeli produk kesehatan, BPOM mengajak masyarakat menerapkan rumus Cek KLIK sebagai langkah preventif.

Rumus ini adalah singkatan dari pengecekan pada empat poin utama, yaitu kemasan, label, izin edar, serta tanggal kedaluwarsa.

Kemasan harus diperiksa kondisinya untuk memastikan tidak ada kerusakan yang mengindikasikan produk telah tertukar.

Label perlu dibaca secara seksama, terutama bagian indikasi atau peruntukan produk agar tidak digunakan secara menyeleweng.

Setiap produk yang beredar secara legal di Indonesia wajib memiliki izin edar dari BPOM. Pastikan produk masih berada dalam masa berlaku.

Produk yang melewati batas kadaluarsa berisiko menimbulkan reaksi tidak diinginkan di dalam tubuh.

Barcode juga menjadi bagian penting yang sering diabaikan. Saat ini banyak produk palsu yang meniru kemasan obat asli dengan barcode yang jika discan justru mengarah ke laman yang tidak berkaitan dengan BPOM.

Jika menemukan indikasi tersebut, masyarakat dapat melaporkan produk tersebut ke petugas pengawas obat dan makanan di wilayah terdekat.

Prof. Taruna juga menegaskan bahwa penggunaan obat yang telah ditarik dari peredaran tetap dapat ditemukan di pasaran online.

Produk yang ditarik sejak 2010 seharusnya tidak lagi dipakai karena keamanannya tidak dapat dijamin lagi oleh otoritas kesehatan.

Obesitas bukan sekadar masalah penampilan, melainkan penyakit kronis multifaktor yang memerlukan penanganan personal dan menyeluruh.

Hal ini diungkapkan oleh dr. Prinindita Artiara Dewi, Sp.GK dari Rumah Sakit Brawijaya.

Ia menjelaskan bahwa pola makan ekstrem seperti makan cuma sekali sehari atau menghilangkan seluruh kelompok karbohidrat justru dapat membahayakan.

Tubuh manusia membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi, protein sebagai zat pembangun, serta lemak, serat, vitamin, dan mineral untuk menjalankan fungsi organ dengan optimal.

Mengurangi asupan secara mendadak tanpa pengawasan ahli justru dapat memicu kekurangan gizi yang lebih parah.

Penanganan berat badan yang berlebih memang memerlukan strategi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Tidak ada rumus universal yang bisa diterapkan untuk semua orang. Kebutuhan energi dan protein dapat berbeda-beda tergantung aktivitas sehari-hari, umur, serta riwayat kesehatan yang dimiliki.

dr. Prinindita menekankan bahwa personalized diet atau pola makan yang disesuaikan dengan profil tubuh menjadi kunci utama dalam menurunkan berat badan secara aman.

Tanpa pendekatan yang tepat, upaya menurunkan berat badan bisa sia-sia bahkan menimbulkan kerusakan jangka panjang pada sistem metabolisme.

Pandangan bahwa obesitas hanya dipicu oleh kurangnya disiplin juga perlu diluruskan.

Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menjelaskan bahwa ada faktor genetik, ketidakseimbangan hormonal, maupun lingkungan yang berkontribusi terhadap timbulnya obesitas.

Sains medis modern telah mengklasifikasikan obesitas sebagai penyakit kronis kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis dan lingkungan.

Karenanya, penanganannya tidak boleh hanya mengandalkan keinginan atau kemauan semata, melainkan memerlukan konsultasi medis rutin untuk memetakan akar penyebab yang terjadi pada setiap pasien.

Melalui wadah informasi berbasis sains seperti Novocare.id, masyarakat kini memiliki akses untuk memahami obesitas secara lebih ilmiah sekaligus terhubung dengan dokter yang kompeten.

Penanganan obesitas yang tepat dibagi menjadi beberapa pilar utama.

Modifikasi gaya hidup menjadi fondasi utama yang mencakup pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, serta perubahan kebiasaan sehari-hari yang lebih sehat.

Di sisi lain, terapi farmakologi dapat dipertimbangkan jika perubahan gaya hidup saja dinilai belum cukup untuk membawa berat badan ke rentang ideal.

Pada kasus tertentu yang memenuhi kriteria medis, tindakan operasi bariatrik juga dapat menjadi salah satu pilihan yang layak.

Dokter biasanya akan menilai komposisi tubuh, riwayat penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan kardiovaskular, serta tingkat kesiapan psikologis pasien sebelum menentukan strategi terbaik.

Penentuan terapi dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing secara individu.

Pemeriksaan medis tidak cukup hanya melihat angka pada timbangan saja.

Angka berat badan hanyalah satu dari sekian banyak indikator yang harus dievaluasi.

Komposisi tubuh, termasuk persentase lemak, massa otot, serta distribusi lemak di area perut, seringkali lebih informatif dalam memprediksi risiko penyakit metabolik.

Lingkungan sekitar juga berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan dan pola gerak seseorang.

Pemerintah dan lembaga kesehatan terus mengingatkan bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

Program gizi seimbang yang diajarkan sejak dini, pengawasan terhadap iklan produk kesehatan di media sosial, serta peningkatan akses informasi berbasis sains menjadi langkah jangka panjang untuk menekan angka obesitas di Indonesia.

- Advertisement -
Share This Article