Pekerja Lebih Pilih Job Hugging Ketika Jalan Karir Baru Terlihat Tak Pasti

jfid
By jfid
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Fenomena job hugging muncul sebagai respons pekerja yang secara sadar memilih bertahan di tempat kerja meskipun sudah tidak lagi merasa bahagia, produktif, atau berkembang. Dosen Ekonomi Ketenagakerjaan Universitas Airlangga Achmad Sjafii SE ME menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah hal baru, melainkan cerminan pergeseran psikologis di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut.

Job hugging sejatinya bukan sekadar loyalitas atau ketidakmampuan mencari pekerjaan baru. Ini adalah strategi bertahan yang diambil oleh individu yang mempertimbangkan risiko ekonomi sebagai prioritas utama. Ungkapan “sing penting iso mangan” menjadi refleksi mentalitas banyak pekerja saat ini yang tengah berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mempertahankan pekerjaan saja sudah dianggap sebagai pencapaian tersendiri. Padahal, keputusan ini mengindikasikan adanya tekanan struktural yang membuat mobilitas karir semakin sulit dan berisiko tinggi. Banyak orang enggan berganti pekerjaan karena takut kehilangan sumber penghasilan yang sudah mereka andalkan.

Pasar kerja yang semakin kompetitif membuat setiap keputusan karir menjadi beban tersendiri. Banyak pekerja mempertanyakan apakah berganti pekerjaan akan membuka peluang lebih baik atau justru meningkatkan risiko finansial yang tak bisa mereka tanggung dengan kondisi ekonomi saat ini.

Keraguan inilah yang pada akhirnya membuat mereka memilih diam di zona nyaman yang sebenarnya sudah tidak memuaskan. Alasan rasional sering menjadi pembenar untuk tetap berada di tempat yang tidak lagi memberikan kepuasan atau perkembangan karir yang signifikan.

Apalagi ketika melihat PHK massal di perusahaan besar dan kondisi perekonomian yang belum pulih, keberanian untuk meninggalkan pekerjaan semakin menipis. Pekerja lebih memilih bertahan meskipun harus menelan kekecewaan setiap hari di lingkungan kerja yang sudah tidak lagi mereka cintai.

Dampak jangka panjang dari job hugging tak bisa dianggap remeh. Ketika seseorang hanya bekerja untuk bertahan tanpa ruang berkembang, motivasi akan perlahan merosot. Performa kerja menurun, dan dampaknya tidak hanya dirasakan individu tetapi juga perusahaan yang mempekerjakan mereka.

Karyawan yang tidak merasa dihargai cenderung lebih rendah produktivitasnya dan lebih sering absen. Perusahaan pun ikut merasakan dampaknya. Daya saing organisasi menurun dan menciptakan siklus yang terus berulang tanpa solusi yang memuaskan bagi seluruh pihak.

Perusahaan dan pemerintah turut memegang peran strategis mengatasi akar masalah ini. Perusahaan perlu menyediakan program pelatihan dan pengembangan keterampilan secara berkelanjutan agar karyawan tidak stagnan di posisi yang sama tanpa kemajuan karir yang mereka harapkan setelah bertahun tahun bekerja.

Dukungan terhadap peningkatan kapasitas akan membantu pekerja merasa lebih dihargai. Tanpa komitmen perusahaan, karyawan akan terus terjebak lingkaran job hugging. Kondisi ini berisiko merusak kualitas sumber daya manusia dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.

Sementara itu, pemerintah diharapkan membuat kebijakan yang mendukung pengembangan sumber daya manusia. Upaya itu dapat terwujud melalui penyediaan pelatihan kerja terjangkau, pemberian insentif bagi perusahaan, hingga kampanye kesadaran tentang pentingnya pengembangan diri di tengah pasar kerja yang terus berubah.

“Pelatihan itu mahal. Kadang perusahaan tidak punya anggaran atau arahan strategis yang berjenjang. Kalau perusahaan tidak punya arah yang jelas, karyawan akan sulit berkembang. Di sisi lain, pemerintah juga punya keterbatasan, karena anggaran hanya bisa menjangkau segelintir orang,” kata Sjafii mengungkapkan realitas yang kompleks.

Kendati upaya dari perusahaan dan pemerintah penting, perubahan tetap bergantung pada kesadaran individu. Individu perlu proaktif meningkatkan keterampilan melalui kursus, sertifikasi, atau pengalaman kerja mandiri yang bisa menambah wawasan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk bersaing.

Membangun networking yang kuat dengan profesional juga membuka peluang karir baru. Individu perlu belajar memisahkan identitas mereka dengan pekerjaan agar tidak terjebak tekanan psikologis berlebihan ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi yang tak terhindarkan dalam kehidupan profesional.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, kemampuan beradaptasi dan terus belajar menjadi aset paling berharga. Job hugging bisa menjadi solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan, tetapi tidak boleh menjadi tujuan akhir dalam perjalanan karir yang seharusnya terus berkembang ke depannya.

Pada akhirnya, job hugging adalah gejala yang tak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Perusahaan menciptakan lingkungan kerja adaptif, pemerintah memperkuat dukungan sistemik, dan individu terus berusaha berkembang. Hanya dengan sinergi ketiga pihak, tenaga kerja Indonesia bisa benar-benar berkembang dan memiliki daya saing tinggi.

“Individu perlu proaktif meningkatkan keterampilan. Perusahaan harus punya kebijakan pengembangan SDM yang jelas, dan pemerintah perlu memperkuat dukungan agar tenaga kerja tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang,” pungkas Sjafii menutup pembahasan yang menggelitik pikiran banyak orang.

- Advertisement -
Share This Article