Garda Depan dan Kesunyian

Heru Harjo Hutomo
5 Min Read

jfid – Avangardisme adalah sebentuk sikap atau bahkan posisi yang selalu berbenah, tak mau stagnan, selalu berupaya melabrak “batas-batas normal” untuk menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang terkadang dilabeli sebagai avantgard, secara sepintas lalu, akan terkesan nyleneh, tak umum, dan pastinya—karena ketakumuman itu—karib dengan kesunyian sebelum waktu membuktikan.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merupakan lembaga yang secara khusus dibentuk dengan semangat avantgardisme itu. Dalam bidang yang ia geluti, radikalisme dan terorisme, ia dituntut untuk menjadi garda depan dalam penanggulangannya. Untuk itu, kreativitas memang sesuatu yang mutlak diperlukan pada apapun yang berposisi sebagai garda depan.

Di samping bahwa BNPT sebagai garda depan penanggulangan radikalisme dan terorisme di Indonesia, apa yang menjadi wilayah garapannya itu juga senantiasa memperbarui dirinya sendiri. Jadi, pada dasarnya, BNPT dan jajaran-jajaran yang berafiliasi dibawahnya adalah laiknya detektif yang tanpa henti menyelidiki, mengurai, dan sedini mungkin merumuskan pencegahannya atas segala modus kejahatan yang juga kian canggih, bertransformasi sedemikian rupa.

Taruhlah hasil kajian BNPT pada 2020 yang lalu dimana problem radikalisme dan terorisme di Indonesia memiliki tiga karakteristik utama yang sebelumnya tak ada: urbanisasi radikalisme, feminisasi radikalisme, dan literasi masyarakat yang rendah. Hasil kajian ini juga seturut dengan beberapa penemuan saya ketika bergabung di Jalan Damai sejak 2017, sebuah media yang secara khusus berkecimpung di bidang kontranarasi radikalisme dan terorisme di bawah naungan BNPT.

Radikalisme dan terorisme pada waktu itu, pada 2019, ternyata sudah menjadi sebuah budaya tandingan yang sama sekali berbeda dengan citra ataupun pendekatan lamanya. Mereka secara adaptif dapat melebur dan menggunakan produk-produk modernitas yang di masa lalu meraka hakimi sebagai hasil budaya thagut yang kafir dan karena itu pantas dibasmi.

Fashion, mode pergaulan urban di café ataupun fenomena-fenomena pop culture lainnya, seolah menjadi pendekatan baru dalam membuai, merekrut, dan mengindoktrinasi para mangsanya yang rata-rata memang masih “0” dalam hal wawasan keislaman (Jambang Ideologis: Menyingkap Fenomena Urbanisasi Radikalisme di Indonesia, Heru Harjo Hutomo, https://saa.iainkediri.ac.id). Tasawuf atau sufisme sempat pula mereka gunakan untuk membujuk para mangsanya yang rata-rata memang haus akan spiritualitas tapi sebenarnya enggan untuk berkomitmen pada agama (Jalan Panjang Moderatisme, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Pembelokan tafsir sejarah pun sempat pula menjadi modus baru mereka untuk membujuk yang sepenuhnya berbeda dengan masa lalu mereka yang kerap menghakimi berbagai tradisi sebagai sebentuk TBC atau takhayul, bid’ah, churafat (Musuh dalam Selimut: Perebutan Ruang Tafsir Sejarah Antara Islam Substansial dan Islam Formal, Islam Nusantara dan Islam Transnasional, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org). Maka tak urung, atas berbagai fenomena itu (urbanisasi radikalisme), aksi-aksi terorisme yang meletup menampakkan apa yang saya sebut sebagai sebentuk terorisme purba: premanisme (“Bertolak dari yang Ada”, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org dan Mereka yang Terjaga: Menggagas Pendidikan Antiradikalisme dan Antiterorisme Sejak Dini, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Feminisasi radikalisme juga memang menjadi modus baru dengan asumsi yang pernah saya bongkar dan saya sebut sebagai radikalisasi jalan belakang (Radikalisasi dari Bawah: Mengurai Jejaring Radikalisasi Keagamaan di Indonesia, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev). Hal ini seturut dengan fenomena spiritualitas semu di kalangan akar rumput yang memang tingkat literasinya tak tinggi (Menguak Spiritualitas Semu di Balik Gerakan Op(l)osan, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev).Dengan berbagai transformasi dan kecerdikan kaum radikal dalam menggaet simpatisan seperti itu semua, maka tak salah seandainya BNPT, yang hari ini merupakan ulang-tahunnya yang ke-11, merupakan garda depan dan think tank yang mesti rela berkawan sunyi sebelum waktu membuktikan. Avantgardisme ini adalah termasuk diakui dan diakomodasinya kearifan-kearifan lokal sebagai salah satu unsur yang potensial dalam menyikapi radikalisme dan terorisme. RAN PE yang beberapa bulan yang lalu disahkan menjadi salah satu payung hukum dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme mencantumkan pula berbagai kearifan lokal yang ada sebagai salah satu cara penyikapan. Sebab, tak dapat dipungkiri, berbagai kearifan lokal itu adalah autochthony bangsa Indonesia yang tanpanya berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan akan mental tertolak karena tak membumi (Kenusantaraan yang Bagai Semar Sang Pakubumi, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).       

Heru Harjo Hutomo: penulis, perupa dan pemusik, pemerhati radikalisme dan terorisme

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article