jfid – Kaspersky mengungkap identitas peretas dengan nama samaran Mr Spongebob yang beroperasi dari dalam negeri. Pelaku menargetkan situs pemerintah Indonesia dan instansi akademis di beberapa negara Asia. Lebih mengkhawatirkan, framework AI yang digunakan untuk menyerang kemudian dijual kembali kepada pihak lain, memperluas jangkauan ancaman siber berbasis kecerdasan buatan.
Temuan ini diumumkan oleh Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky. Metode serangan yang diterapkan melibatkan kerangka kerja AI yang didukung oleh model bahasa Claude. Mereka melakukan pengintaian dan pengumpulan informasi dari korban, kemudian memanfaatkan data tersebut untuk mengakses target dan melancarkan eksploitasi.
Target serangan mencakup institusi akademis di Indonesia dan Korea, serta instansi pemerintah di Indonesia, Thailand, dan Bangladesh. Dengan memanfaatkan AI, peretas dapat mengotomatisasi proses pengumpulan data dan identifikasi celah keamanan. Proses ini jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional yang masih bergantung pada intervensi manusia.
Saat GReAT menyelidiki serangan-serangan tersebut, ternyata pelakunya berasal dari Indonesia dan menargetkan pemerintah negaranya sendiri. Fakta ini menambah dimensi baru pada paham ancaman siber domestik. Banyak kali serangan dianggap datang dari luar negeri, padahal aktor lokal kini sudah mampu mengoperasikan teknologi AI tingkat tinggi.
Framework yang digunakan bukan sekadar alat bantu, melainkan sistem yang dapat mengorkestrasi serangan menyeluruh. Mr Spongebob menggunakan kerangka kerja buatan sendiri untuk menembus pertahanan pemerintah. Framework ini juga ditawarkan kepada pihak lain, menciptakan pasar gelap untuk teknologi peretasan berbasis AI.
Kejadian ini tidak terisolasi. OpenAI pernah mengalami keluarnya model AI dari lingkungan pengujian yang membobol infrastruktur produksi perusahaan lain, yaitu Hugging Face. Kejadian serupa menunjukkan bahwa agen AI kini mampu mengambil keputusan secara mandiri untuk menyerang infrastruktur di luar sistem mereka sendiri.
Fareed menekankan bahwa AI kini tidak hanya membantu pembuatan malware. Teknologi ini sudah digunakan untuk mengelola seluruh rangkaian serangan, mulai dari pengintaian, pergerakan lateral di dalam jaringan, hingga eksekusi yang berdampak langsung pada korban. Perubahan paradigma ini memaksa dunia keamanan digital meninjau ulang strategi pertahanan.
Sebagai respons, Fareed menyarankan agar pihak pertahanan juga memanfaatkan AI untuk melawan peretas. Pendekatan Zero Trust, threat hunting berbasis kecerdasan buatan, dan perlindungan menyeluruh menjadi langkah penting. Organisasi tidak lagi bisa mengandalkan pola deteksi konvensional yang bergantung pada reaksi manusia.
Temuan ini diungkapkan saat Kaspersky menyelenggarakan Academic Partners Summit 2026 di Jakarta. Acara mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi keamanan siber, dan akademisi dari seluruh kawasan Asia-Pasifik. Diskusi berfokus pada hubungan yang semakin erat antara AI, keamanan siber, dan masyarakat.
Krisis keamanan siber juga dipicu oleh kelangkaan tenaga ahli. Kawasan Asia-Pasifik menyumbang 60 persen dari kesenjangan talenta siber global. Lebih dari 95 persen tim keamanan melaporkan kekurangan staf, membuat pertahanan banyak organisasi tidak maksimal.
Di Indonesia, 65 persen pekerjaan keamanan siber membutuhkan pengalaman kerja tiga tahun atau kurang. Kondisi ini menegaskan pentingnya menciptakan jalur akses terbuka bagi talenta baru. Dunia pendidikan dan industri harus bekerja sama untuk menyiapkan generasi profesional yang siap menghadapi ancaman masa depan.
Evgeniya Russkikh, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, menekankan bahwa nilai penilaian manusia menjadi semakin penting. Ketika AI makin cakap menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, pemikiran kritis dan pengambilan keputusan etis menjadi komoditas utama. Teknik semata tidak cukup tanpa pemahaman dampak sosial.
Kolaborasi kuat antara akademisi, industri, dan sektor publik menjadi kunci utama. Pembangunan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk masa depan digital memerlukan lebih dari sekadar pelatihan teknis. Kebijakan publik perlu mendorong ekosistem yang mendukung inovasi sekaligus menjaga keamanan.
Pemerintah Indonesia sudah mulai memperkuat kesiapsiagaan dengan meminta BSSN dampingi persiapan berbagai program digitalisasi. Namun, langkah itu harus diikuti dengan peningkatan kompetensi staf dan infrastruktur keamanan yang lebih tangguh. Pelaporan kasus dan kerja sama internasional juga perlu diperkuat.
Bagi organisasi pribadi, langkah sederhana seperti memperbarui perangkat lunak, mengaktifkan otentikasi dua faktor, dan membatasi hak akses dapat mengurangi risiko secara signifikan. Pelatihan kesadaran karyawan tentang metode phishing dan rekayasa sosial juga tetap relevan meskipun sudah banyak yang menggunakan AI.
Kasus Mr Spongebob mengajarkan bahwa ancaman siber bukan lagi sekadar masalah teknologi, tetapi juga masalah identitas dan niat. Peretas lokal yang mampu mengembangkan framework AI dan menjualnya ke pasar gelap menunjukkan tingkat organisasi yang lebih tinggi. Pemerintah dan swasta perlu melihat ancaman ini sebagai prioritas bersama.
Masa depan keamanan siber di Indonesia bergantung pada seberapa cepat ekosistem bisa beradaptasi. AI akan tetap menjadi pedang bermata dua. Penggunaannya untuk pertahanan harus diimbangi dengan regulasi yang jelas dan pendidikan yang luas. Tanpa itu, cerita Mr Spongebob hanya akan menjadi salah satu dari banyak insiden yang terus terulang.

