Matcha Banyak Diminum Ternyata Bisa Ganggu Kesehatan Begini Penjelasan Ilmiahnya

jfid
By jfid
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Matcha memang sedang menjadi primadona di tengah tren gaya hidup sehat. Minuman berwarna hijau ini dijuluki sebagai superfood karena kandungan antioksidan tinggi dan klaim lebih baik dibanding kopi. Namun, konsumsi berlebihan justru bisa memicu efek samping yang mengganggu tubuh. Banyak orang minum matcha tanpa mengetahui batas aman dan waktu konsumsi yang tepat. Popularitasnya melonjak pesat setelah viral di media sosial, di mana setiap hari terlihat pesta estetika cangkir matcha di berbagai sudut kota.

Kafein dalam matcha masih cukup tinggi untuk diperhatikan. Satu cangkir matcha dapat mengandung sekitar tujuh puluh miligram kafein, angka yang tidak jauh berbeda dari secangkir kopi. Meskipun matcha juga mengandung L-theanine yang memberikan efek fokus dan tenang, konsumsi tiga sampai lima cangkir sehari tetap dapat menyebabkan kelebihan kafein. Gejalanya antara lain kesulitan tidur, jantung berdebar, cemas berlebihan, tremor ringan, sakit kepala, dan kelelahan setelah efek kafein hilang. Banyak orang tidak menyadari bahwa gejala-gejala tersebut berasal dari kecanduan matcha yang mereka anggap sebagai minuman sehat.

Tanin dalam matcha juga berisiko mengiritasi lambung. Senyawa ini terutama berbahaya jika diminum saat perut kosong atau dalam jumlah berlebihan sepanjang hari. Orang yang menjadikan matcha sebagai sarapan tanpa makanan pendamping bisa mengalami mual, perut begah, asam lambung naik, hingga nyeri ulu hati. Keluhan ini sering dianggap sepele, padahal bisa berkembang menjadi iritasi kronis jika tidak segera dihentikan. Studi dari Departemen Gastroenterologi RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo menunjukkan bahwa peningkatan kasus iritasi lambung pada usia produktif berhubungan erat dengan kebiasaan minum minuman berkafein saat perut kosong.

Penyerapan zat besi juga dapat terganggu oleh konsumsi matcha yang berlebihan. Tanin menghambat penyerapan zat besi terutama saat dikonsumsi bersamaan dengan makanan kaya zat besi. Risiko ini lebih tinggi pada perempuan yang membutuhkan asupan zat besi lebih besar. Jika minum matcha setiap hari tanpa mempertimbangkan waktu konsumsi, risiko anemia ringan bisa meningkat. Tanda-tandanya antara lain mudah lemas, sulit fokus, dan kulit terlihat pucat. Jarak satu sampai dua jam antara minum matcha dan makan utama sangat disarankan untuk menjaga penyerapan nutrisi tetap optimal.

Banyak varian matcha di pasaran sebenarnya bukan matcha murni. Minuman seperti iced matcha latte, matcha frappe, atau matcha cream seringkali ditambahkan sirup, susu krim, dan gula berlebih. Kadang kandungan gulanya melebihi kebutuhan harian. Jika dikonsumsi rutin, risiko kenaikan berat badan, jerawat hormonal, resistensi insulin, serta fluktuasi energi dapat muncul. Masalahnya bukan pada bubuk matcha, tetapi pada tambahan bahan pemanis yang dipilih konsumen. Sebuah survei pada dua ribu konsumen matcha di Jabodetabek menemukan bahwa enam puluh persen dari mereka tidak menyadari jumlah gula yang terkandung dalam menu favorit mereka.

Secara umum, satu sampai dua cangkir matcha per hari masih dianggap aman untuk orang dewasa yang sehat. Namun, beberapa aturan perlu diperhatikan. Jangan minum matcha larut malam agar tidak mengganggu siklus tidur. Hindari konsumsi saat perut kosong untuk melindungi lambung. Pantau total asupan kafein dari semua sumber agar tidak melampaui batas aman. Pilih matcha tanpa tambahan gula atau sirup untuk mendapatkan manfaat maksimal. Badan Pengawas Obat dan Makanan juga menekankan pentingnya membaca label informasi nilai gizi sebelum membeli produk matcha kemasan.

Penelitian di Journal of Nutritional Science menunjukkan bahwa konsumsi matcha secara moderat dapat meningkatkan metabolisme dan melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Namun, studi yang sama juga menekankan bahwa konsumsi di atas empat cangkir per hari tidak memberikan manfaat tambahan dan justru berisiko meningkatkan beban kerja hati. Prinsip lebih banyak tidak selalu lebih baik berlaku kuat pada kasus ini. Kualitas bubuk matcha yang dipilih lebih penting daripada jumlah konsumsi. Matcha grade ceremonial yang diolah dengan cara traditional stone-milled memberikan kualitas nutrisi yang lebih tinggi dibanding culinary grade yang sering diolah dengan suhu tinggi.

Tren minum matcha sebaiknya tidak menutupi kesadaran akan kandungan dan dosis yang tepat. Gaya hidup sehat tetap didasari pada variasi makanan bergizi, aktivitas fisik teratur, dan pemantauan kondisi tubuh secara berkala. Jika setelah minum matcha muncul gejala gangguan tidur, jantung berdebar, atau ketidaknyamanan lambung, kurangi konsumsi atau konsultasikan dengan ahli gizi. Setiap orang memiliki toleransi kafein yang berbeda-beda. Kondisi medis seperti hipertensi, gangguan irama jantung, atau penyakit lambung akut juga membuat seseorang lebih rentan terhadap efek samping matcha.

Pada akhirnya, matcha adalah minuman yang bermanfaat jika dikonsumsi dengan bijak dan disesuaikan dengan kondisi tubuh. Pendidikan gizi menjadi kunci utama agar masyarakat tidak mudah tertipu pada tren yang hanya mengutamakan estetika. Kesehatan yang berkelanjutan dibangun dari pemahaman, bukan sekadar mengikuti gaya hidup orang lain. Setiap tegukan matcha harus didasari oleh pengetahuan tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.

- Advertisement -
Share This Article