6,7 Juta Orang Indonesia Hidup dengan Hepatitis B Tanpa Tahu, Gejala dan Cara Cegahnya

Rasyiqi
By Rasyiqi - Writer, Saintific Enthusiast
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia diperkirakan terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta lainnya terinfeksi hepatitis C. Kedua jenis hepatitis ini berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis maupun kanker hati. Keberadaan penyakit hepatitis mungkin tak lagi asing di telinga masyarakat, namun hingga saat ini eksistensinya masih kerap disalahpahami. Banyak orang masih mengaitkannya hanya dengan gejala kulit dan mata yang menguning, padahal hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi virus, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, hingga efek samping obat tertentu.

Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, dr. Fahmi Indrarti, menjelaskan bahwa hepatitis paling banyak disebabkan oleh infeksi virus hepatitis yang terdiri atas jenis A, B, C, D, dan E dengan cara penularan yang berbeda-beda. Hepatitis A dan E menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses penderita. Hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh, terutama melalui paparan darah, transfusi darah yang tidak steril, penggunaan jarum suntik bersama, serta dari ibu ke anak saat persalinan. Sedangkan hepatitis D hanya dapat menginfeksi seseorang yang telah mengalami hepatitis B dan dapat memperberat penyakitnya secara signifikan.

Mitos penularan hepatitis masih banyak beredar di masyarakat dan sering menimbulkan stigma yang tidak adil. Sebagian orang percaya bahwa hepatitis B dan C dapat menular melalui makan bersama, berpelukan, menyentuh, atau menggunakan barang pribadi penderita. Padahal, penelitian medis membuktikan bahwa aktivitas sehari-hari tersebut sama sekali tidak menularkan virus. Orang dengan hepatitis tidak perlu dijauhi ataupun menghentikan seluruh aktivitasnya. Virus hepatitis hanya bertahan di luar tubuh dalam waktu sangat singkat dan tidak bisa menular melalui kontak casual. Stigma yang muncul justru membuat penderita enggan berobat dan berkonsultasi dengan tenaga medis.

Pencegahan hepatitis A dan E dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mulai dari mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah ke toilet, menyiapkan makanan yang higienis, hingga memastikan air minum layak konsumsi. Sementara itu, hepatitis B dan C dapat dicegah dengan menghindari penggunaan jarum suntik bersama, tidak berbagi sikat gigi, alat cukur, atau gunting kuku, serta memastikan tindakan medis, termasuk tindik dan tato, dilakukan menggunakan jarum yang steril. Vaksinasi hepatitis B pada bayi baru lahir juga menjadi langkah strategis untuk menekan penyebaran hepatitis B di komunitas dan melindungi generasi mendatang.

Vaksin hepatitis B memberikan perlindungan efektif lebih dari 95 persen terhadap infeksi hepatitis B dan secara tidak langsung mencegah hepatitis D. Sedangkan hingga saat ini, vaksin hepatitis C belum tersedia secara komersial, sehingga pencegahannya berfokus pada upaya menghindari paparan darah yang terinfeksi melalui skrining donor darah rutin dan sterilisasi alat medis. Pengobatan hepatitis A dan E umumnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa perlu perawatan khusus. Hepatitis C dapat disembuhkan pada lebih dari 95 persen kasus melalui pengobatan antiviral langsung. Sementara itu, hepatitis B dan D kronis memerlukan pengobatan yang lama dan harus dilakukan sesuai panduan serta pengawasan ketat dari tenaga medis spesialis.

Masyarakat diimbau segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami kulit dan mata menguning, urine berwarna pekat seperti teh, perut membesar, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, atau penurunan kesadaran. Gejala-gejala tersebut bisa menjadi pertanda kerusakan hati yang sudah parah dan memerlukan penanganan segera. Orang yang memiliki faktor risiko, seperti pekerja medis, penerima transfusi darah, atau memiliki riwayat kontak dengan penderita hepatitis, juga dianjurkan untuk mempertimbangkan pemeriksaan meskipun merasa sehat. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih efektif dan mencegah perkembangan penyakit menjadi lebih serius.

Melalui deteksi dini, vaksinasi, pengobatan yang tepat, dan meningkatnya kesadaran masyarakat, upaya eliminasi hepatitis di Indonesia diharapkan dapat semakin dipercepat. Pemerintah dan lembaga kesehatan terus melakukan kampanye untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat tentang hepatitis. Pengetahuan yang akurat tentang penularan, pencegahan, dan pengobatan menjadi kunci untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Dengan kerja sama antarinstansi dan partisipasi aktif masyarakat, target eliminasi hepatitis sebagai masalah kesehatan global masih dapat dicapai di masa depan.

Vaksinasi tidak hanya penting untuk bayi dan anak-anak, tetapi juga untuk kelompok dewasa yang memiliki risiko tinggi, seperti tenaga medis, pekerja seks komersial, dan pengguna narkoba suntik. Program vaksinasi hepatitis B untuk kelompok dewasa ini mulai digalakkan di berbagai rumah sakit dan puskesmas di seluruh Indonesia. Upaya pencegahan yang komprehensif dan berkelanjutan diharapkan dapat menekan angka prevalensi hepatitis B dan C secara signifikan dalam lima tahun ke depan.

Data terbaru dari Pusat Kedokteran Tropis UGM menegaskan bahwa sekitar 6,7 juta orang Indonesia hidup dengan hepatitis B tanpa mengetahui status mereka. Angka ini menunjukkan perlunya skrining massal untuk mengidentifikasi penderita secara dini. Tanpa deteksi yang tepat, banyak penderita baru mengetahui kondisi mereka setelah penyakit sudah mencapai tahap kronis. Upaya skrining harus difokuskan pada kelompok usia produktif, khususnya anak-anak dan remaja yang merupakan kelompok paling rentan terhadap penularan hepatitis B sejak lahir. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian Kesehatan telah memulai program skrining hepatitis B di puskesmas-puskesmas sejak tahun ini.

- Advertisement -
Share This Article