Penyakit Tak Menular Terselubung di Balik 56,9 Persen Skrining Warga Purwokerto

Deni Puja Pranata
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Setengah dari 464 warga yang ikut skrining kesehatan gratis di Purwokerto, Jawa Tengah, ternyata membawa risiko penyakit tidak menular di dalam tubuh mereka. Hasil pemeriksaan yang digelar PT Dexa Medica melalui Dharma Dexa pada 23 Agustus 2026 itu membuka mata: 56,9 persen peserta memiliki sedikitnya satu faktor risiko, mulai dari tekanan darah tinggi, kolesterol melambung, hingga gula darah yang melenceng. Fakta itu menegaskan bahwa ancaman penyakit tidak menular tidak lagi hanya menimpa kelompok usia tua, tetapi juga menjangkau komunitas produktif di seluruh pelosok negeri.

Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah cermin dari kebiasaan sehari-hari yang selama ini diabaikan. Dari 464 peserta, 35,8 persen menunjukkan tekanan darah tinggi, 30,6 persen hidup dengan kolesterol di atas ambang normal, dan 9,5 persen lainnya punya kadar gula darah yang mengkhawatirkan. Mayoritas dari mereka adalah lansia di atas 50 tahun, namun sejumlah peserta muda juga muncul dengan hasil yang tidak bisa diabaikan. Kondisi ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia yang mencatat penyakit tidak menular sebagai penyebab kematian utama di Indonesia, dengan hipertensi, diabetes, dan stroke mendominasi angka kematian setiap tahunnya.

“Ada peserta dengan tekanan darah 181 mmHg bahkan 197 per 107 mmHg. Ada juga yang kolesterolnya sampai 283, 257, dan 264 mg/dL,” kata Dokter Erri Wulandari dari RS Islam Purwokerto. Ia menambahkan bahwa mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit perlu melanjutkan pengobatan secara rutin, sementara yang baru teridentifikasi risiko diingatkan untuk segera mengubah pola hidup. Menurutnya, angka-angka itu seharusnya tidak dianggap remeh, karena tekanan darah di atas 140 mmHg sudah masuk kategori hipertensi dan memerlukan intervensi medis segera.

Penyakit tidak menular bukan hanya masalah medis. Bagi perekonomian nasional, angka ini menjadi ancaman tersembunyi yang bisa merusak stabilitas. Biaya pengobatan hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular yang didasari pola hidup buruk bisa menghabiskan anggaran rumah tangga dan bahkan anggaran negara. Kemenkes dan berbagai lembaga internasional memperingatkan bahwa beban ekonomi penyakit tidak menular bisa menyentuh puluhan triliun rupiah dalam dua dekade mendatang jika tren ini dibiarkan tanpa penanganan serius. Kerugian itu tidak hanya berupa biaya perawatan, tetapi juga produktivitas tenaga kerja yang anjlok karena kecelakaan kerja atau absensi yang tinggi akibat komplikasi penyakit.

“Pola makan perlu diperhatikan sejak usia muda. Untuk gula darah, misalnya, konsumsi karbohidrat dan gula perlu diatur. Karbohidrat tidak hanya dari nasi atau mie, tetapi juga dari minuman manis dan camilan yang sering kita anggap kecil,” ujar Erri. Deteksi dini bukan sekadar mencegah kematian, tetapi juga mencegah kerugian ekonomi yang lebih besar di kemudian hari. Konsumsi gula berlebih, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok adalah segelintir faktor risiko yang bisa dicegah melalui pendidikan kesehatan yang konsisten dan terjangkau.

Pemeriksaan di Purwokerto merupakan titik ke-23 dari rangkaian program Cek Kesehatan Gratis OGB Merah yang telah berjalan sejak 2024. Program ini sudah menjangkau lebih dari 17.000 peserta di 12 kota di Indonesia. Setiap peserta tidak hanya mendapatkan hasil skrining tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, tetapi juga edukasi dan konsultasi langsung dengan dokter. Pendekatan ini berbeda dari layanan kesehatan konvensional yang sering kali hanya menangani gejala setelah penyakit muncul dan sudah menimbulkan kerusakan permanen yang mahal untuk diobati.

“Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika sudah sakit, tetapi juga melalui deteksi dini dan langkah pencegahan,” jelas Mateus Ramidi, Manager Dharma Dexa. Ia menilai pendekatan ini selaras dengan strategi pemerintah yang kini menekankan promotif dan preventif di bidang kesehatan. Kemenkes sendiri memang menargetkan penurunan prevalensi faktor risiko penyakit tidak menular melalui gerakan masyarakat sehat yang melibatkan Keluarga Beres, Posyandu, dan berbagai komunitas olahraga masyarakat di tingkat kelurahan.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki akses layanan kesehatan, terutama mereka dengan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional yang tidak aktif, program seperti ini menjadi satu-satunya peluang untuk tahu kondisi tubuh mereka. “Tidak semua orang memiliki akses yang mudah. Dengan adanya pemeriksaan gratis, masyarakat bisa mengetahui kondisi kesehatannya dan mendapatkan edukasi dari tenaga medis,” ujar Erri. Ketidakmampuan akses ini menjadi kunci mengapa angka penyakit tidak menular terus bertambah di daerah dengan fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Tanpa skrining berkala, gangguan ini bisa berlangsung tanpa gejala sampai komplikasi muncul.

Program Cek Kesehatan Gratis OGB Merah akan terus diperluas ke wilayah lain. PT Dexa Medica berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran deteksi dini penyakit tidak menular dan mendorong kebiasaan hidup sehat di seluruh Indonesia. Setiap skrining ini adalah langkah kecil, tetapi implikasinya bisa menyelamatkan jutaan orang dari beban penyakit dan kemiskinan yang tidak perlu terjadi. Pemerintah dan sektor swasta perlu melanjutkan kolaborasi ini, karena investasi kesehatan masyarakat saat ini adalah investasi menghindari krisis ekonomi yang lebih besar di masa depan.

- Advertisement -
Share This Article