Surat Romantis untuk Najwa Shihab

By
8 Min Read

Kepada Yth.
Redaksi Jurnalfaktual.id
Di – Tempat

Dengan hormat

Sehubungan dengan artikel yang saudara turunkan pada tanggal 09 Mei 2020, berjudul: “ Najwa Shihab dan Kebodohan”, perkenankan dengan ini saya berpartisipasi memberikan penilaian pada salah satu konten artikel tersebut.

Artikel tersebut dimulai dengan kalimat berupa pertanyaan, yakni: “ Apa yang anda bayangkan pada wanita ini?

Nah, karena ada pertanyaan yang demikian, maka patut Redaksi mempertimbangkan penilaian orang lain tentang Najwa Shihab. Bukan pertanyaan dijawab sendiri.

Tentang Najwa Shihab, saya pernah menilainya pada 2 tahun yang lalu. Saya uploud di Facebook pada tanggal 27 Februari 2020. Saya juga memuja kecantikannya, tapi sekaligus membencinya!

Berikut isi penilaian saya:

MATA BOLA 1

Perempuan Bengal itu Bernama MATA NAJWA

Najwa,
Tak pernah aku menduga bila engkau ini anak seorang Mufassir besar yang kenamaan di zaman ini: QURAISY SHIHAB. Tampilan, senyummu, kata-katamu, dan perilakumu, sedikitpun tak membayangkan kalau engkau adalah seorang putri Ulama’ Besar.

Najwa,
Tatap matamu, senyummu dan caramu berjalan mengingatkan aku tentang sosok seekor kuda betina milik kaisar Jengis Khan yang sering diceritakan para sastrawan masa lampau. Perkasa dan indah meski hanya sedang melenggang congklang diatas rumput hijau yang tebal.

Najwa, engkau membawa imajinasiku tentang kisah putri-putri saudagar yang sering digambarkan oleh para pujangga yang katanya seperti bunga teratai, bermata bintang, pandai menyuling, menyulam, bersajak, memiliki gerak gemulai dengan tubuh ramping, padat dan segar. Kalau buah, tentu engkaulah yang disebut dengan buah yang ranum dan segar itu, Najwa.

Najwa, kupikir engkaulah simbol keindahan yang sempurna dari seorang perempuan yang didamba oleh kaum Pangeran, bangsawan dan putra-putra polisi nakal.

Najwa,
Pernah aku mencermatimu dalam-dalam saat kau bicara di depan layar telivisi mengenai Sepak Bola Indonesia. Kata-katamu tajam, retorikamu cukup bagus, pandai menyesuaikan gerak badanmu dengan isi perkataanmu.

Sampai disini, tentang gaya dan tampilanmu, aku kagum kepadamu, Najwa. Lalu betapa sering aku mengimpikan memperoleh kesempatan bisa dapat melihat kamu berdiri didekat batang bunga pada sebuah telaga yang berair bening kehijauan, berpose memiringkan sedikit badanmu ke samping kanan dan kiri, menggerakkan pinggul ke kanan dan ke kiri secara memutar, mengangkat kedua tangan ke atas, lalu menurunkannya ke bawah sambil menghembuskan nafasmu kuat-kuat lewat mulutmu yang kecil mungil itu. Tentu betapa indahnya kamu, Najwa.

Tapi sayang, Najwa. Isi perkataanmu ternyata kurasai seolah racun yang maha jahat. Mengipasi bangsa dan pecinta bola Indonesia untuk membenci PSSI dan menggiring bangsa untuk menjadi Pemuja Polisi yang bernama Satgas Anti Mafia Bola. Kau tak adil, Najwa, kau tak bisa mensejajarkan personel Polisi dengan personel PSSI, keduanya entitas yang sama sekali berbeda dan tak boleh disandingkan, polisi makan dari keringat dan darah rakyat sedangkan PSSI menjual dan menggadaikan harta sendiri demi bola Indonesia.

Najwa, jauh sebelum PSSI kau gambarkan jahat, polisi sudah memenuhi kualifikasi itu sejak dari Sononya, terutama di masa rezim otoritarian Suharto. Ia dilumuri darah dan dosa sejarah yang gak dapat dilupakan oleh seluruh anak negeri dan tumpah darah Indonesia. Menggebuki pegiat demokrasi dijalanan, termehek-mehek, dan berdarah-darah dijalanan, kini kau puja ia, Najwa. Maka sama saja kau telah memberi sayap pada singa. Dimana perasaanmu, Najwa?

Najwa, aku yakin, mereka yang terlibat dalam persepakbolaan, Pengurus PSSI dan Para Ketua Club, tak sejahat seperti yang hendak kau yakinkan kepada seluruh pecinta sepak bola Indonesia. Karena yang ku tau, mereka bekerja keras justru mengorbankan harta kekayaan sendiri, dan bahkan hingga ada yang jatuh bangkrut.

Najwa, cobalah lakukan investigasi yang jujur, pelajari latarbelakang keluarganya, sepak terjangnya dalam dunia bola. Kurasa mereka jauh dari maksud mencari kaya dari kehidupan bola, melainkan hanya untuk memberi pertunjukan yang seru dan haru biru bagi bangsa pecinta sepak bola. Kau tanyalah istri dan anak mereka, pasti kau mencucurkan air mata. Kecuali hatimu benar-benar telah buta.

Bila kau tau ada diantara mereka yang tak sportif dan tidak jujur, merugikan klub, tak benar kalau engkau menggiringnya untuk diadili polisi, kawan karibmu itu, Najwa. Karena mengenai pelanggaran dalam dunia bola ada hukumnya sendiri dan diatur dalam rumah tangganya sendiri-sendiri.

Najwa, taukah engkau bahwa hukum negara tidaklah seberwibawa hukum bola? Hukum bola jauh lebih mengerikan, Najwa. Suap dalam hukum negara hanya berdenda Rp. 15 Juta, sedangkan dalam dunia bola berdenda Rp. 150 juta.

Najwa, Match Fixing itu bukan tindak pidana, melainkan pelanggaran dalam suatu pertandingan bola. Najwa, taukah engkau, bahwa hukum bola tidak tunduk pada hukum negara melainkan tunduk pada hukum pemiliknya, yakni: FIFA. Bahkan, pernahkah engkau tau seberapa besar kontribusi negara kepada Sepak Bola Indonesia? Negara ambil pajak, ambil retribusi, iuran dan tetek bengek lainnya. Lalu, pernahkah kau bertanya sudah seberapa bagus dan layak infrastruktur Bola kita?

Najwa, kurasa Negara telah diselewengkan oleh oknum-oknum keparat hina, akan tetapi Para Keparat ini hendak kau gambarkan seolah dewa. Najwa, kukira kau salah bila menganggap Bola milik Negara. Bola adalah milik FIFA. Bola kita akan terancam punah bila negara ikut campur dalam urusan ini. Maka kau telah menanam dosa bagi tumpah darah Indonesia. Kau mengotori nama besar keluargamu, Najwa.

Najwa, marilah jangan kau kurang ajar, kau cantik jelita dambaan kaum pangeran, ayolah kita ke sorga, aku akan tendang bola dan engkaulah penjaga gawangnya. Sungguh itu jauh lebih indah dari sekedar kau jadi juru bicara kaum brengsek hina, Najwa.

Najwa, negara telah salah urus, boro-boro ngurusi bola, ngurusi kesejahteraan rakyat yang menjadi tugas utamanya justru yang didapat adalah kebangkrutan rakyat.

Najwa, bila benar engkau berharap hukum tegak, tidakkah engkau malu betapa Si Penyuap dalam kasus Johar dan Dwi Iriyanto itu ternyata tak diapa apakan. Padahal, hukuman Si Penyuap dalam hukum negara jauh lebih berat daripada Si Penerima. Kau belajarlah yang benar, Najwa, engkau figur publik. Omonganmu yang salah bisa menjadi racun bagi bangsa dan bila berbuah dendam, maka racun itu akan membunuh dirimu sendiri.

Najwa, engkau yang cantik dan jelita, kurangilah bergaul dengan kaum brengsek hina yang makan dari keringat rakyat, tapi justru paling suka menggebuki rakyat yang daripadanya justru ia menghidupi dirinya, istri dan anak-anaknya.

Dibuat di sebuah stasiun kereta malam, perjalanan pulang dari ibu kota Hantu Jakarta ke Dusunku, ujung timur Pulau Madura.

Jakarta, 27 Februari 2019;

Bersambung……. Episode Berikutnya: Bola bukan milik negara.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article