Pada Sebuah Daging

Heru Harjo Hutomo
4 Min Read

jfID – Pada hari raya korban seperti ini, satu hal yang menarik adalah kelakar perihal daging kambing hasil penyembelihan dan penyincangan. Mulai dari “torpedo” dan pirantinya, sungsum tulang-belakang ternyata menjadi bahan pembagian khusus buat para lelaki ketika waktu penyembelihan dan penyincangan. Naas bagi para lelaki yang tanpa atau belum beristeri. Kelakar kemudian menjadi selingan dari penat kehidupan yang terjeda oleh hari raya.

Meskipun pernah mengalami kegelapan abad pertengahan sebagaimana agama Katolik, tumbuh-kembangnya agama Islam ternyata tak sempat terjebak pada dualisme Platonian. Menurut Plato, tubuh atau daging hanyalah sekedar sangkar bagi sang jiwa yang dipandang suci. paradigma semacam ini kemudian pernah dilembagakan oleh gereja (The Use of Pleasure, Michel Foucault, 1985). Dalam hal ini, secara implisit, Plato telah meminggirkan peran daging dari wacana filsafat, agama dan kebudayaan.

Berbeda dengan Islam dalam perspektif al-Ghazali. Filosof-sufi yang wafat pada tahun 1111 H ini justru meletakkan daging sesuai dengan proporsinya. Dalam ‘Ajaibul Qulub, sang kakak Ahmad al-Ghazali ini mendefinisikan qalbu sebagai latifah rabaniyah-ruhaniyah yang keberadaannya tak dapat dilepaskan dari apa yang menurut istilahnya disebut sebagai “segumpal daging hitam” (Wedhatama dan “Kuluban” di Bulan Ramadhan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Dalam hal ini, kearifan lokal nusantara sama pula dalam menampik dualisme Platonian. Taruhlah nafsu amarah yang bagi orang-orang nusantara berhubungan dengan empedu dimana ketika orang marah akan terasa sesak dadanya. Pandangan ini jelas tak meletakkan daging pada wilayah pinggiran. Saya membahasakan paradigma anti-Platonian semacam ini sebagai paradigma Semar (Hikayat Sang Kopek: Mengarungi Alam Pikir Jawa dalam Pertunjukan Wayang Purwa, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev).

Barangkali, orang yang terlalu Platonian akan memandang bahwa tubuh atau daging dapat rusak, sementara jiwa adalah kekal. Tapi ternyata tak selamanya pendapat ini dapat dipertanggungjawabkan. Dalam khazanah pesantren yang kental dengan tradisi tasawufnya acap orang menemukan jasad, yang meskipun telah terbenam sekian tahun, masih terbujur utuh dan bahkan lengkap dengan kain kafannya. Adapun pada tradisi Hindu, Buddha, dan kapitayan terdapat istilah muksa dimana secara sederhana tubuh melenyap seiring dengan jiwa (Natarata: Kembara Sang Sufi Jawa, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id/webdev).

Dalam kancah ilmu fisika, konon teori ekuivalensi massa-energi Einstein, secara logis, dapat menjelaskan peristiwa lempit Bumi (melipat ruang), sepi angin (melipat waktu), dan muksa yang dikenal baik dalam jagat kapitayan maupun dunia pesantren. Dalam Serat Dewa Ruci karya Yasadipura I, eyang Ronggawarsita, terdapat sebuah penggambaran tentang relasi yang organik antara tubuh dan jiwa:

Badan njaba wujud kita iki

Badan njero munggwing jroning kaca

Ananging dudu pangilon

Pangilon jroning kalbu

Yeku wujud kita pribadi

Tinitah jro panyipta

Ngeremken pandulu

Luwih gedhe berkahira

Lamun janma wus gambuh ing

badan batin sasat srira Bathara

Demikianlah hikayat daging pada hari raya korban, selain menyingkapkan hikayat lainnya, juga menyisakan seringai linu pada tulang dan tubuh para orang lanjut usia.  

(Heru Harjo Hutomo/ penulis kolom, peneliti lepas, menggambar dan bermain musik)

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article