IPK 4.0 di Era 4.0, Menjaminkah Dunia Kerja?

M. Rizwan
7 Min Read

jfID – Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam memberikan pelajaran kepada masyarakat. Pendidikan sendiri bertujuan untuk membentuk menusia menjadi paripurna, memanusiakan manusia sehingga mengenal jati dirinya yang sebenar-benarnya.

Amanat UUD 1945 menjelaskan tentang tujuan pendidikan di Indonesia sendiri. Yakni, tertuang dalam Undang-Undang Dasar alenia ke-IV yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bahwasanya, sejak Indonesia merdeka prioritas pertama dan yang paling utama yaitu merubah dan menuntaskan kebodohan seluruh rakyat sampai ke akar-akarnya melalui jalan pendidikan.

Manusia terjajah dan tertindas pada dasarnya atas kebodohan pada dirinya sendiri. Kebodohan dikatagorikan sebagai ancaman dan musuh paling besar yang harus dilawan, dilenyapkan dengan pendidikan. Maju dan mundurnya suatu negara terletak pada maju dan merosotnya pendidikan.

Dilema dunia pendidikan dalam menjawab kemajuan zaman serta problemanya sangat akut untuk diselesaikan, masalah ini tidak berkesudahan. Di samping, negara yang masih berkembang namun ditekan terus dengan kemajuan industri 4.0 yang signifikan.

Dunia kerja, persaingan yang begitu ketat ruang-ruang yang kerja yang begitu diperebutkan hanyalah untuk orang -orang yg bisa membaca peluang. Kualitas bukanlah menjadi prioritas tetapi Skill dan daya jual dalam diri seorang menjadi keberuntungan sendiri dalam dunia kerja. Tidak mengenal gelar dan tidak mengenal angka IPK, skill dan kemampuan berkomunikasi serta keahlian yang lainnya adalah yang utama.

Dunia kerja saat ini sudah tidak menghitung nilai belajar yang tertera di atas kertas tetapi lebih memperioritaskan kemampuan skill dan talenta yang baik, Sejauh mana bisa mengkonfrontir antara human relationship dengan life skill.

IPK tak lebih sekadar angka yang menjadi sebuah pajangan didalam almari yang lapuk dan usang. Angka yang disebut nilai sudah tidak bernila di mata dunia kerja, serta sudah tidak diperebutkan dalam dunia kerja tetapi kemampuan dalam bidangnya sendiri.

Pengaruh industri 4.0 ini sudah mengancam daya manusia, lain waktu juga mendorong daya fikir manusia yang kreatif. Manusia dalam mengarungi zaman modern maka fikiran juga harus modern. Maka manusia dituntut untuk lebih melatih diri dalam setiap bidang yang digelutinya.

Kemajuan industri four point zero (4.0) saat ini merubah segala tatanan kehidupan. Baik dalam dunia ekonomi, pendidikan, serta sosial. Memotong zaman dan waktu menjadi lebih singkat dan merubah keadaan yang lebih mudah. Di dunia ekonomi sendiri dari mekanisme barter sampai ke pertukaran elektronik memotong waktu yang begitu singkat dengan kemajuan industri mesin.

Disisi lain dalam menyimpan uang di bank 20 tahun yang akan datang bisa jadi manusi tidak lagi digunakan. karena bisa jadi perangkat bangk sendiri akan menggunakan mesin semua. Sehingga penggunaan jasa manusia sendiri sudah terganti dengan mesin.

Pada bidang pendidikan, kita ketahui media belajar saat ini sudah begitu maju mulai dari penggunaan power point dan alat belajar lainnya yang begitu canggih di sini juga jasa manusia sudah sedikit di perhitungkan.

Mahasiswa mau tidak mau harus menerima kemajuan industri 4.0 karena bagaimanapun itu menjadi kebutuhan mahasiswa sendiri yang segala tindak tanduknya tergantung dengan mesin. Sehingga pergeseran moral mahasiswa sudah tidak perhitungkan apalagi kemajuan dalam spiritualnya.

Mahasiswa saat ini lupa dan tidak sadar dizaman apa dia menginjakkan kaki. Mahasiswa lebih suka dengan kebiasaan dan rutinitas. seharusnya dari sisi kehidupan yg serba ada maka manusia harus up grade baik dari bidang pendidikan ekonomi dan sosial Lebih-lebih Up grade dalam segi pemikiran.

Tuntutan mahasiswa saat ini harus mampu menciptakan sesuatu yang berbeda sesuai dengan perkembangan zaman. Yang membawa manfaat bagi dirinya maupun orang lain. Yang mampu mempersingkat pekerjaan yang membutuhkan waktu yang panjang dengan memberikan kemudahan dengan waktu yang singkat. Terlebih menciptakan sebuah aplikasi kehidupan yang mudah.

Mahasiswa hari ini dituntut untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan bagus. Namun mahasiswa yang mendapatkan nilai yang tinggi tidak bisa menerapkan serta pengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penjejalan mata pelajaran menjadikan memiliki banyak beban tetapi penerapan pelajaran kurang maksimal. Begitupula dalam dalam dunia akademisi.

Mahasiswa yang mengejar ketertinggalan nilai dan menyandang nilai yang begitu tinggi ketika membawa ilmu dan teori pulang ketengah kehidupan masyarakat dia bemum mampu menerapkan teori tersebut dalam masyarakat. karena pada dasarnya tingkatan belajar ygpaling bawa adalah memahami daj titik terkahir adalah implementasi atau aktualisasinya Bloom mengatakan learning of to do.

Selain learning to do, Mahasiswa diharapkan mampu untuk Learning to know, learning to be dan learning to Life together. Pada aspek Learning to Know, mahasiswa di lapangan dan dunia nyata harus mampu sebagai fasilitator, pengelola, sekaligus evaluator diri sebagai suksesor kemandirian dalam sikap.

Learning to be dipandang mampu menjadi senjata atas konsep diri, serta motivasi diri untuk terbebas dari kebiasaan lama dan zone nyaman dari title IPK 4.0.

Learning to life together adalah konsep networking, yang mampu menjadi legitimasi penjamin pekerjaan di lapangan dibandingkan IPK 4.0.

Akhirnya, konsep IPK 4.0 di era 4.0 akan mampu tertangani, ada solusi yang mungkin bisa menjadi refrensi bagi semua kalangan mantan mahasiswa dalam dunia kerja, yakni dengan mengutip GBH empat pilar pendidikan Unesco, yakni dengan memetakan.

  1. Kekuatan personal, menggali potensi yang ada dalam diri pribadi untuk dijadikan potensi pribadi.
  2. Kelemahan personal, perbaiki apa yang menjadi kelemahan dan kekosongan pribadi.
  3. Peluang personal, yang bisa di konfirmasikan menjadi jaminan hidup serta
  4. Ancaman personal, yang sekiranya bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan karir.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article