jfid – Sebuah secarik kertas ber tulisan tangan murid sekolah dasar di Bekasi baru-baru ini memancing perdebatan besar di media sosial. Dalam surat yang ditujukan ke petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, siswa itu mengeluh bahwa menu telur yang terlalu sering disajikan membuatnya dan teman-temannya terus terkena bisul. Video yang menampilkan tulisan tangan anak tersebut langsung viral di TikTok, menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan panjang tentang hubungan antara konsumsi telur dan munculnya bisul. Apakah klaim ini benar atau hanya mitos yang berkembang dari kesalahpahaman yang sudah berakar di tengah masyarakat?
Pernyataan bahwa telur menyebabkan bisul sebenarnya sudah ada sejak lama dan beredar di berbagai komunitas, terutama di kalangan orang tua yang ingin memastikan pola makan anaknya tetap sehat. Namun, tidak ada satu pun penelitian atau data medis yang mendukung hubungan langsung antara konsumsi telur dan timbulnya bisul. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara tegas menyatakan bahwa telur merupakan pangan padat gizi yang aman dikonsumsi dan tidak memiliki kaitan dengan infeksi kulit. Telur mengandung protein tinggi, vitamin B kompleks, zat besi, serta lemak sehat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh anak.
Bisul sendiri secara medis didefinisikan sebagai infeksi pada kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus masuk melalui folikel rambut atau luka kecil. Benjolan berisi nanah yang terbentuk bukan karena makanan yang dikonsumsi, melainkan karena pertumbuhan kuman di dalam kulit. Kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, gangguan sistem kekebalan tubuh, atau kebersihan kulit yang kurang menjadi faktor utama yang memicu bisul. Dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, menegaskan bahwa larangan makan telur saat menstruasi atau saat bisul muncul sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah. Menurutnya, banyak mitos kesehatan yang beredar justru muncul dari kebiasaan generasi tua yang menular tanpa ada verifikasi medis yang memadai. Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian bagi tenaga medis dan pendidik untuk terus meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
Alasan mengapa mitos ini bisa begitu melekat di masyarakat adalah karena cara otak manusia bekerja dalam memproses kebetulan. Ketika seseorang mengalami bisul setelah makan telur, dia cenderung mengingat peristiwa tersebut lebih jelas dibandingkan saat makan telur tanpa gejala apapun. Fenomena ini dikenal sebagai bias konfirmasi, di mana orang hanya melihat bukti yang mendukung keyakinan mereka dan mengabaikan bukti yang bertentangan. Akibatnya, sebuah kejadian kebetulan bisa menjadi dasar keyakinan yang diwariskan turun-temurun, meskipun tidak ada hubungan sebab-akibat yang nyata. Sosialisasi yang kurang tentang literasi gizi juga memperparah penyebaran mitos ini di komunitas.
Perlu juga dibedakan dengan jelas antara bisul dan reaksi alergi terhadap telur. Alergi telur bisa menimbulkan gejala kulit seperti gatal, biduran, kemerahan, atau pembengkakan yang biasanya muncul dalam waktu singkat setelah konsumsi. Namun, gejala-gejala tersebut bukan termasuk bisul karena tidak terjadi infeksi bakteri. Bisul memiliki ciri khas berupa benjolan yang terasa nyeri, memerah, dan dapat berkembang menjadi kumpulan nanah yang membutuhkan perawatan khusus. Jika seseorang berulang kali mengalami keluhan kulit setelah makan telur, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan apakah itu alergi atau infeksi bakteri yang membutuhkan pengobatan medis.
Kebersihan tetap menjadi faktor penentu utama dalam mencegah bisul daripada menghindari telur. Mandi secara teratur, tidak memencet benjolan sembarangan, menjaga kebersihan luka kecil, serta tidak berbagi handuk atau pakaian pribadi adalah langkah-langkah efektif untuk menghindari infeksi Staphylococcus aureus. Orang dengan riwayat diabetes atau gangguan sistem kekebalan juga perlu lebih waspada karena kondisi tersebut membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi bakteri pada kulit. Menerapkan pola makan seimbang yang mencakup telur, sayur, buah, dan makanan bergizi lain justru akan meningkatkan sistem imun dan membantu tubuh melawan berbagai penyakit.
Tidak ada batas konsumsi telur yang baku yang harus dianut oleh seluruh orang dewasa. Seseorang yang aktif secara fisik dan memiliki kondisi kesehatan normal bisa mengonsumsi satu hingga dua butir telur setiap hari tanpa risiko apapun. Masalah sebenarnya bukan pada telur, tetapi pada kebiasaan gizi yang tidak seimbang dan kurangnya pengetahuan tentang nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Ketika masyarakat terus menyebarkan mitos tanpa verifikasi, yang akhirnya terkena dampaknya adalah generasi muda yang kehilangan akses terhadap sumber protein berkualitas dan terjebak dalam pola pikir yang keliru. Edukasi gizi yang tepat mulai dari lingkungan keluarga adalah kunci untuk menghentikan siklus penyebaran mitos ini.
Kesimpulan yang jelas dari berbagai bukti medis adalah bahwa mitos telur menyebabkan bisul sepenuhnya keliru dan tidak berdasar. Bisul terjadi karena infeksi bakteri pada kulit, bukan karena makanan tertentu. Mempertahankan kebersihan tubuh, mengelola stres, dan menjaga pola makan seimbang jauh lebih efektif dalam mencegah bisul daripada menghindari telur. Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sumber asli untuk memahami konteks yang lebih mendalam dari klarifikasi ilmiah ini. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat bisa membedakan antara fakta dan mitos serta mengambil keputusan kesehatan yang lebih baik untuk keluarga. Informasi akurat adalah langkah pertama menuju gaya hidup yang lebih sehat dan bebas dari kesalahpahaman.

