Jeda 4,5 Jam Bisa Habiskan Kesempatan Menyelamatkan Otak Pasien Stroke

jailangkung
4 Min Read
- Advertisement -

jfid – Stroke dikuak sebagai salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan permanen di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Tanpa penanganan cepat, jaringan otak mengalami kerusakan progresif yang tak bisa dibalik.

Dokter spesialis radiologi Tio Ananda Steven dari Bethsaida Hospital Gading Serpong menekankan pentingnya kecepatan diagnosis dalam kasus stroke. Menurutnya, ketepatan dan kecepatan diagnosis menjadi faktor penentu prognosis pasien. Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan dan MRI berperan vital untuk mengidentifikasi jenis stroke serta area otak yang terdampak.

Di masa kini, teknologi MRI 3 Tesla mulai banyak diadopsi di rumah sakit swasta di Indonesia. Perangkat ini menghasilkan gambaran jaringan otak dengan resolusi lebih tinggi dibanding MRI konvensional. Dengan dukungan kecerdasan buatan, kualitas gambaran bisa semakin optimal untuk menunjang keputusan klinis dokter. Hal ini memungkinkan tim medis melihat perubahan jaringan otak dengan lebih jelas.

Namun, peralatan canggih bukan satu-satunya kunci. Dokter spesialis saraf tetap perlu menilai kondisi klinis pasien secara menyeluruh. Ada pasien yang cukup ditangani dengan terapi medis, namun ada juga yang membutuhkan evaluasi bedah saraf jika terjadi perdarahan atau peningkatan tekanan di dalam kepala.

DetikHealth (23/09/2024) melaporkan bahwa dalam penanganan stroke sumbatan, dokter memiliki dua pilihan utama. Terapi trombolitik intravena diberikan untuk meluruhkan gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah. Obat seperti alteplase harus diberikan sedini mungkin, ideally dalam jendela waktu emas empat setengah jam pertama sejak gejala muncul.

Jika trombolitik tidak memungkinkan atau tidak efektif, prosedur trombektomi menjadi alternatif. Tindakan ini dilakukan di cath lab dengan memasukkan kateter kecil melalui pembuluh darah di paha untuk menarik sumbatan. Trombektomi masih bisa memberikan manfaat hingga 24 jam sejak gejala pertama, meski hasil optimal diraih dalam enam jam pertama.

Mayapada Hospital misalnya, menerapkan protokol internasional door-to-needle kurang dari 60 menit. Tim multidisiplin yang terdiri dari dokter saraf, radiologi, dan bedah saraf bekerja secara terkoordinasi. Fasilitas cath lab dan pencitraan lengkap memungkinkan penanganan stroke dalam satu sistem terintegrasi.

Liputan6.com (22/08/2026) menambahkan bahwa hasil pencitraan bukan satu-satunya dasar penentuan terapi. Kolaborasi antara hasil CT scan atau MRI dengan penilaian klinis dan diagnosis dokter saraf menjadi fondasi penanganan yang tepat. Stroke Response Unit di Bethsaida Hospital Gading Serpong menerapkan pendekatan serupa dengan tim medis terlatih menangani kasus akut.

Kompas.com (26/08/2026) melaporkan bahwa pengembangan terapi sel punca juga mulai diarahkan untuk penyakit degeneratif seperti stroke. Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar mengatakan terapi sel punca di Indonesia berkembang pesat dan mulai difokuskan pada penyakit yang menjadi beban kesehatan serta belum memiliki pengobatan efektif.

Pemeriksaan MRI 3 Tesla yang sudah dilengkapi AI memang mampu memberikan detail lebih baik. Namun, akses terhadap teknologi tersebut masih terbatas di rumah-rumah sakit besar di kota besar. Banyak daerah di Indonesia masih mengandalkan CT scan sebagai pilihan utama karena keterbatasan biaya dan infrastruktur.

DetikHealth (23/09/2024) mencatat bahwa golden period atau jendela waktu empat setengah jam menjadi batas kritis. Setelah itu, risiko kerusakan otak permanen meningkat drastis. Oleh karena itu, edukasi masyarakat untuk mengenali gejala stroke dan segera ke rumah sakit sangat menentukan hasil pasien.

Penanganan stroke membutuhkan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. Setiap menit yang terbuang adalah jaringan otak yang hilang. Teknologi pencitraan yang semakin berkembang memberi harapan baru, namun tetap membutuhkan sistem layanan gawat darurat yang responsif dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

- Advertisement -
Share This Article