jfid – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat korban meninggal dunia akibat gempa NTT bertambah menjadi 75 orang per Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB. Data terbaru ini disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers daring pada sore hari. Jumlah korban luka-luka juga bertambah menjadi 907 orang. Kenaikan ini menunjukkan bahwa dampak bencana alam yang mengguncang Nusa Tenggara Timur masih berkembang seiring berjalannya waktu dan upaya pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan di lapangan.
Empat orang meninggal dunia berasal dari tiga kabupaten berbeda. Kabupaten Sikka mencatat dua korban tambahan, sedangkan Kabupaten Manggarai dan Nagekeo masing-masing menambah satu korban. Sementara itu, sembilan orang luka-luka baru berasal dari Kabupaten Ngada. Berton menjelaskan bahwa data tersebut merupakan pembaruan dari jumlah korban yang tercatat sehari sebelumnya, yaitu 71 orang meninggal dan 898 orang luka. Setiap tambahan angka ini menjadi duka yang mendalam bagi keluarga korban dan menambah beban psikologis serta logistik bagi tim tanggap darurat di lapangan.
Gempa bumi yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) pagi terjadi di patahan aktif bawah laut yang membentang sepanjang ribuan kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengidentifikasi bahwa sumber guncangan utama berkaitan dengan tekanan tektonik kompleks di kawasan Wallacea antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Getaran dahsyat yang berdurasi lebih dari satu menit itu menghancurkan ribuan rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan di empat kabupaten utama. Masyarakat yang baru terbangun dari tidur terkejut dan berlarian keluar rumah tanpa sempat membawa harta benda yang bernilai. Sebagian besar kerusakan terkonsentrasi di daerah pegunungan dengan kondisi akses yang sulit.
Pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana masih menangani evakuasi, distribusi logistik, dan pemulihan infrastruktur dasar. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian darurat dengan kondisi sanitasi yang minim. Tim medis dari Pusat Krisis Kesehatan dan Rumah Sakit Umum Daerah terus menangani pasien dengan luka berat dan pneumonia akibat terendam air hujan. Vaksin dan obat esencial masih didistribusikan untuk mencegah wabah penyakit di area pengungsian yang padat. Relawan dari organisasi kemanusiaan juga ikut membantu mendata keluarga yang masih terisolasi di pegunungan. Dinas Sosial bekerja keras untuk memastikan setiap pengungsi mendapatkan paket makanan minimal setiap hari.
Aktivitas gempa susulan masih berlangsung tinggi hingga Kamis sore. BNPB mencatat total 3.752 gempa susulan terdeteksi sejak jaman utama. Salah satu guncangan susulan terasa kembali pada pagi hari sekitar pukul 10.47 waktu setempat dengan kekuatan magnitudo 5,7. Getaran tersebut membuat warga kembali merasa cemas dan memaksa banyak orang beraktivitas di luar ruangan. Beberapa bangunan yang sudah retak akibat guncangan utama mengalami kerusakan lebih parah akibat gempa susulan tersebut. BMKG berkomitmen untuk terus memantau aktivitas seismik dan memberikan peringatan dini melalui media sosial dan pesan singkat kepada masyarakat. Stasiun-stasiun seismolog di Maumere dan Ende terus beroperasi tanpa henti.
Berton menegaskan bahwa masyarakat di wilayah terdampak harus tetap waspada terutama ketika hendak memasuki bangunan setelah guncangan. Pemerintah meminta setiap rumah dan fasilitas publik diperiksa strukturnya sebelum digunakan. Bangunan yang retak atau tergeser berpotensi runtuh tanpa tanda terlebih dahulu. Tim engineering BNBP dan Dinas Pekerjaan Umum terus melakukan survei kelayakan struktur di sekolah, puskesmas, dan balai pertemuan yang menjadi tempat pengungsian. Hanya bangunan yang dinyatakan aman yang diperbolehkan untuk dihuni kembali. Masyarakat yang rumahnya tidak layak huni akan diberikan tenda darurat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Konseling psikologis juga disediakan untuk anak-anak dan orang tua yang mengalami trauma akibat guncangan berkekuatan tinggi.
Sementara itu, jumlah pengungsi gempa NTT mencapai 92.735 jiwa yang tersebar di berbagai titik pengungsian. Pemerintahprovinsi dan kementerian terkait berupaya memenuhi kebutuhan makan, air bersih, dan selimut. PT Pertamina juga ikut membantu dengan memastikan pasokan bahan bakar tetap lancar meskipun infrastruktur jalan terputus di beberapa wilayah. Dukungan dari lembaga donor dan relawan domestik mulai masuk ke lokasi terdampak, tetapi distribusi masih dihadapkan pada tantangan akses jalan yang rusak parah akibat longsor dan retakan jalan. Tim SAR juga masih mencari korban yang masih tertimbun di reruntuhan. Helikopter militer digunakan untuk mengangkut logistik dan evakuasi korban di area yang tidak bisa dijangkau kendaraan darat.
Krisis kemanusiaan di NTT membutuhkan perhatian berkelanjutan dari seluruh komponen bangsa. Setiap pembaruan angka korban menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak mengenal waktu dan sebar. Koordinasi antara BNPB, TNI, Polri, dan relawan menjadi kunci utama dalam menekan angka korban berikutnya dan mempercepat pemulihan. Masyarakat Indonesia diharapkan tetap solid mengirim bantuan dan tidak terpapar pada informasi yang belum terverifikasi. Tabungan nasional dan dana tanggap darurat akan terus dialokasikan untuk memastikan layanan kesehatan dan rekonstruksi rumah bisa segera dilaksanakan. Kesiapsiagaan bencana di seluruh Indonesia juga perlu ditingkatkan melalui edukasi berkelanjutan dan perbaikan tata bangunan yang lebih tahan gempa.

