Mengenal Starlink: Internet Satelit Cepat dari Elon Musk yang Siap Cover Daerah Terpencil di Indonesia

Noer Huda
4 Min Read
Mengenal Starlink: Internet Satelit Cepat dari Elon Musk yang Siap Cover Daerah Terpencil di Indonesia
Mengenal Starlink: Internet Satelit Cepat dari Elon Musk yang Siap Cover Daerah Terpencil di Indonesia

jfid – Peluncuran Starlink di Indonesia menjadi sorotan utama minggu ini, membawa harapan baru bagi konektivitas internet di daerah-daerah terpencil.

Layanan internet satelit orbit rendah ini, yang merupakan inovasi dari miliarder teknologi Elon Musk, diklaim mampu memberikan kecepatan internet tinggi dengan latensi rendah.

Lalu, apa saja keunggulan dan potensi yang ditawarkan oleh Starlink?

Starlink adalah proyek ambisius dari SpaceX yang bertujuan menyediakan akses internet global melalui konstelasi satelit orbit rendah (LEO).

Keunikan dari Starlink terletak pada posisi satelitnya yang berada di ketinggian 340 km hingga 1.200 km di atas permukaan Bumi.

Posisi ini jauh lebih rendah dibandingkan satelit konvensional yang umumnya berada di orbit geostasioner (GEO), yaitu sekitar 35.786 km di atas Bumi.

Keuntungan utama dari orbit rendah adalah latensi yang lebih rendah dan kecepatan transmisi data yang lebih cepat, memungkinkan akses internet yang lebih responsif dan stabil.

Pada tanggal 19 Mei, peluncuran Starlink di Indonesia dilakukan di sebuah Puskesmas di Denpasar, Bali.

Dilansir dari antaranews, acara ini dihadiri oleh sejumlah menteri, termasuk Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi.

Menurut Luhut, kehadiran Starlink di Indonesia merupakan langkah penting untuk mengurangi titik buta internet di wilayah-wilayah terpencil, mendukung visi pemerataan akses teknologi di seluruh penjuru negeri.

Mengutip situs resmi Starlink, layanan ini dirancang untuk memberikan internet dengan kecepatan tinggi hingga 1Gbps dan latensi antara 25 ms hingga 35 ms.

Hal ini memungkinkan berbagai aktivitas online yang membutuhkan kecepatan tinggi, seperti panggilan video, permainan online, dan streaming.

Kecepatan dan latensi rendah ini menjadi salah satu daya tarik utama Starlink dibandingkan layanan internet satelit lainnya yang sering kali mengalami latensi tinggi.

Selain itu, satu peluncuran roket SpaceX mampu membawa puluhan hingga ratusan satelit Starlink, memungkinkan pembangunan jaringan yang luas dan terpadu.

Dengan bobot setiap satelit sekitar 227 kg hingga 295 kg, konstelasi satelit ini secara bertahap mencakup seluruh area Bumi, termasuk lokasi yang tidak terjangkau oleh jaringan fiber optik atau Base Transceiver Station (BTS).

Indonesia, dengan geografis yang luas dan beragam, menghadapi tantangan besar dalam menyediakan akses internet merata.

Meskipun proyek-proyek seperti Satelit Satria-1, BTS 4G BAKTI, dan Palapa Ring sudah berjalan, masih ada sekitar 20 persen penduduk yang belum menikmati layanan internet.

Survei Penetrasi Internet 2024 dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan tingkat penetrasi internet di Indonesia baru mencapai 79,5 persen.

Dirjen Informasi Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Usman Kansong, menyatakan bahwa layanan internet satelit Starlink masih sangat dibutuhkan.

Proyek pemerintah seperti Satelit Satria-1 belum mampu meng-cover seluruh wilayah, terutama di luar jangkauan 11 Stasiun Bumi yang ada.

Starlink dengan teknologi satelit orbit rendahnya diharapkan dapat mengisi celah ini, menyediakan konektivitas di daerah-daerah yang belum terjangkau.

Dengan peluncuran Starlink, Indonesia berada di ambang revolusi teknologi internet yang dapat membawa perubahan signifikan, terutama di daerah-daerah terpencil.

Kehadiran layanan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan akses internet, tetapi juga membuka peluang baru dalam pendidikan, kesehatan, dan ekonomi digital.

Sebagai inovasi yang menggabungkan teknologi canggih dan visi pemberdayaan global, Starlink membawa harapan besar untuk masa depan konektivitas di Indonesia.

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article