jfid – Stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, namun biaya penanganan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk penyakit tersebut hanya berada di urutan keempat. Ketimpangan angka ini menggarisbawahi perlunya penanganan yang lebih cepat dan akurat sejak dini, terutama dengan memanfaatkan teknologi pencitraan medis generasi terbaru.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti anomali tersebut saat menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-30 Perhimpunan Bedah Saraf Indonesia di Batam, Jumat (28/8/2026). Menurutnya, stroke menewaskan sekitar 350 ribu orang setiap tahun, tetapi belanja BPJS untuk penyakit ini tidak sebanding dengan tingkat kematian yang tinggi.
Budi menduga sebagian besar pasien stroke meninggal sebelum sempat mendapatkan penanganan di rumah sakit. Alasan sederhananya adalah waktu. Stroke adalah kondisi gawat darurat yang membutuhkan diagnosis dan tindakan medis dalam hitungan menit, bukan jam.
Dokter spesialis radiologi Tio Ananda Steven dari Bethsaida Hospital Gading Serpong menjelaskan bahwa ketepatan dan kecepatan diagnosis sangat menentukan prognosis pasien. Saat seseorang mengalami stroke, aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.
Kondisi ini membuat jaringan otak kehilangan pasokan oksigen dan nutrisi. Semakin lama jaringan tersebut tanpa suplai, semakin banyak sel otak yang mati permanen. Pencitraan otak menjadi kunci untuk mengidentifikasi jenis stroke dan area yang terdampak sebelum dokter memulai terapi.
Teknologi MRI 3 Tesla kini mulai diperkenalkan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Perangkat ini mampu menghasilkan gambaran jaringan otak dengan detail jauh lebih tinggi dibanding MRI konvensional. Dukungan kecerdasan buatan semakin mengoptimalkan kualitas hasil pencitraan untuk mendukung keputusan klinis dokter.
Hasil penelitian detikHealth (4/8/2026) mengungkapkan bahwa stroke tidak hanya menyerang lansia. Pasien usia muda juga berisiko tinggi, terutama mereka dengan hipertensi, diabetes, atau pola hidup tidak sehat. Faktor risiko ini bisa berkembang tanpa gejala yang jelas selama bertahun-tahun.
MRI 3 Tesla mendeteksi kelainan pembuluh darah otak sebelum terjadi stroke besar. Magnetic Resonance Angiography dan Magnetic Resonance Venography membantu dokter melihat penyempitan, sumbatan, maupun kelainan pada arteri dan vena otak.
RS Tria Dipa di Jakarta baru-baru ini mengumumkan transformasi layanan dengan teknologi pencitraan medis generasi terbaru. Rumah sakit itu mengklaim teknologi yang mereka gunakan bahkan belum tersedia di Jepang, Singapura, Malaysia, maupun Thailand.
Sistem pencitraan tersebut menghasilkan gambar tajam dengan radiasi minimal, dan hasilnya bisa dibaca dalam waktu kurang dari satu menit. Kemajuan ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengejar ketertinggalan akses teknologi diagnostik tingkat tinggi.
Namun, teknologi canggih tetap tidak berarti banyak jika aksesnya hanya terbatas di kota besar. Menkes Budi menekankan pentingnya deteksi dini melalui program pemeriksaan kesehatan gratis yang saat ini sudah menjangkau sekitar 70 juta orang.
Targetnya adalah meningkat menjadi 130 juta orang tahun ini dan 200 juta orang pada tahun berikutnya. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, lemak darah, kolesterol, dan indeks massa tubuh diharapkan bisa mendeteksi faktor risiko kardiovaskular sejak dini.
Budi optimistis bahwa pendekatan pencegahan dan deteksi dini secara luas dapat menekan kematian akibat stroke dari 350 ribu menjadi di bawah 170 ribu orang per tahun. angka itu setara dengan penurunan lebih dari 50 persen.
Kombinasi antara teknologi pencitraan yang semakin akurat dan program deteksi dini yang lebih masif membuka harapan baru. Stroke bisa dipetuhkan bukan lagi sebagai musuh yang tak terhentikan, melainkan penyakit yang bisa dicegah atau ditangani lebih baik jika terdeteksi lebih awal.

