Rompi Pintar Mahasiswa UB Bantu Anak Autis Cegah Tantrum Sebelum Terjadi

jfid
By jfid
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Tim mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil menciptakan rompi pintar bernama ADAPT-V yang dirancang khusus untuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Inovasi ini menggabungkan sensor fisiologis, kecerdasan buatan, dan tekanan lembut untuk mencegah tantrum sebelum meluap. Banyak keluarga dengan anak ASD masih kesulitan membaca sinyal awal stres, sehingga intervensi sering kali datang terlambat. Rompi pintar ini hadir sebagai alat preventif yang proaktif, memungkinkan anak mendapatkan tekanan menenangkan secara otomatis tanpa perlu penundaan.

Sistem ADAPT-V memanfaatkan sensor denyut nadi dan gerakan tubuh yang dipasang di dalam rompi. Data yang dikumpulkan kemudian diproses menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM) untuk mengenali pola stres fisiologis. Ketika sistem mendeteksi indikasi awal tantrum, actuator berbasis ESP32 akan mengaktifkan kantung udara untuk memberikan tekanan terkontrol di bagian tertentu. Tekanan ini dirancang untuk menyamarkan kelebihan sensori yang dialami anak, mirip dengan efek Deep Pressure Therapy yang selama ini hanya bisa diberikan secara manual. Dengan integrasi IoT, data kondisi anak juga bisa ditampilkan di aplikasi smartphone, memudahkan orang tua memantau perkembangan.

Tekanan yang dihasilkan terinspirasi dari konsep Deep Pressure Therapy (DPT), yaitu tekanan lembut yang memberikan efek menenangkan mirip pelukan. Tim juga memasang algoritma PID untuk memastikan tekanan tidak terlalu keras atau tidak sesuai kebutuhan anak. Seluruh proses berjalan secara real-time tanpa memerlukan bantuan orang dewasa di saat yang sama. Hal ini sangat penting karena saat fase awal stres, anak dengan ASD sering kali tidak bisa menerima arahan lisan. Rompi pintar memberikan intervensi yang tidak mengganggu dan tetap menjaga rasa aman anak. Uji coba awal menunjukkan respons yang positif terhadap penurunan kecemasan sesaat setelah tekanan diberikan.

ADAPT-V juga terhubung dengan aplikasi smartphone melalui IoT. Orang tua atau terapis dapat memantau kondisi anak dari jarak jauh, melihat data sensor, dan menyesuaikan sensitivitas sistem sesuai karakter masing-masing anak. Fitur ini memudahkan pengawasan berkelanjutan tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari anak. Data historis yang tersimpan juga dapat membantu terapis memahami pola stres yang muncul dalam lingkungan tertentu. Dengan demikian, rompi bukan sekadar alat bantu sesaat, tetapi juga sumber data berharga untuk penyesuaian terapi jangka panjang.

Inovasi ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 dan telah melalui uji coba teknis serta evaluasi bersama terapis. Hasilnya menunjukkan bahwa rompi mampu mengenali pola stres sebelum anak bereaksi secara emosional. Dukungan teknologi ini diharapkan mengurangi beban psikologis bagi orang tua dan meningkatkan kenyamanan anak dengan ASD. Banyak kasus di mana orang tua merasa tidak cukup memahami apa yang dirasakan anak sebelum meluapkan emosi. ADAPT-V bertujuan menutup kesenjangan tersebut dengan solusi yang terukur dan berbasis bukti.

Secara lebih luas, ADAPT-V menjadi contoh nyata bagaimana kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk bidang kesehatan, bukan sekadar industri komersial. Banyak penelitian seputar ASD yang berfokus pada terapi perilaku, namun pendekatan teknologi wearable masih tergolong baru di Indonesia. Rompi pintar ini membuka peluang pengembangan alat bantu lain yang proaktif, bukan reaktif. Pemerintah dan LSM yang fokus pada penyandang disabilitas bisa menjadikan ADAPT-V sebagai model kolaborasi antara akademisi dan praktisi. Jika dimassalkan, biaya produksi bisa ditekan sehingga lebih mudah diakses oleh keluarga dari berbagai latar belakang ekonomi.

Pengembangan wearable untuk kesehatan mental anak akan membutuhkan kerjasama antar disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, psikologi, rekayasa mesin, hingga data science. Universitas Brawijaya melalui tim ini sudah menunjukkan langkah konkret. Semakin banyak mahasiswa yang menekuni bidang ini, semakin besar harapan agar inovasi dalam negeri bisa menjangkau komunitas yang membutuhkan secara lebih luas. Teknologi yang humanis, yang benar-benar meresakkan masalah nyata, adalah arah pengembangan yang paling dibutuhkan. ADAPT-V adalah langkah awal yang menjanjikan menuju ekosistem inklusif berbasis data.

Banyak keluarga dengan anak ASD di Indonesia masih bertarung dengan stigma sosial dan keterbatasan akses terapi. Biaya terapi perilaku yang rutin bisa memberatkan, apalagi jika harus menambah peralatan pendukung. ADAPT-V hadir dengan harapan menjadi solusi yang lebih terjangkau jika diproduksi secara massal. Kolaborasi dengan industri manufaktur lokal bisa menjadi langkah strategis berikutnya. Jika biaya produksi bisa ditekan, rompi pintar bisa menjadi bagian dari program jaminan kesehatan nasional bagi penyandang disabilitas.

Tim mahasiswa UB kini berencana mengembangkan versi kedua ADAPT-V yang lebih ringkas dan ramah anak dengan tambahan sensor suara. Mereka juga membuka peluang kerja sama dengan rumah sakit dan sekolah inklusif untuk uji coba lebih lanjut. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah bisa mempercepat proses sertifikasi dan distribusi. Anak-anak dengan ASD membutuhkan alat yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetik dan nyaman dipakai sehari-hari. Versi selanjutnya dijadwalku siap dalam enam bulan ke depan.

Selain manfaat langsung bagi anak, ADAPT-V juga memberi nilai edukasi tinggi bagi mahasiswa yang mengembangkannya. Proses riset dari sensor, algoritma, hingga desain casing menuntut integrasi ilmu yang komprehensif. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa program kewirausahaan mahasiswa bisa menghasilkan produk yang siap bersaing dan memiliki dampak sosial. Universitas lainnya bisa meniru pendekatan serupa untuk memecahkan masalah komunitas.

Masa depan ASD semakin cerah jika lebih banyak inovasi seperti ini yang muncul. Teknologi tidak dimaksudkan untuk mengganti perawat manusia, melainkan memperkuatnya. Rompi pintar ini adalah asisten yang selalu siaga, memberikan kenyamanan tanpa menimbulkan tekanan sosial. Ketika anak merasa aman, mereka bisa belajar dan berinteraksi dengan lebih baik. Inovasi ini adalah kemenangan kecil yang berdampak besar.

- Advertisement -
Share This Article