jfid – Apple dikabarkan semakin dekat dengan peluncuran iPhone lipat pertamanya. Beberapa orang di luar perusahaan sudah mencoba unit pra-rilis dan memberikan tanggapan positif. Perangkat ini diperkirakan diberi nama iPhone Ultra dan akan menempati posisi paling atas dalam jajaran lini smartphone Apple. Informasi ini berasal dari laporan Mark Gurman melalui newsletter Bloomberg Power On yang dikutip AppleInsider, Selasa (25/8/2026).
Badan perangkat ini memang terasa cukup tebal ketika dilipat, namun masih cukup masuk ke dalam saku. Mekanisme engsel menjadi salah satu bagian yang mendapat pujian dari mereka yang telah memegang unit langsung. Engsel terasa kokoh dan memberikan keyakinan akan durabilitasnya. Apple dikenal ketat dalam menguji komponen sebelum resmi merilis, dan feedback awal ini menandakan prototipe sudah dekat dengan bentuk final yang akan dijual ke publik.
Layar besar menjadi salah satu daya tarik utama dari iPhone Ultra. Ukuran layar ini memungkinkan tata letak aplikasi yang menyerupai pengalaman menggunakan iPad. Pengguna bisa melihat lebih banyak konten sekaligus tanpa harus terus menggulir layar. Ketika perangkat dibuka, area kerja membesar signifikan dan Apple menyiapkan mode multitasking yang sebelumnya hanya ada di tablet. Fitur ini mengubah cara pengguna bekerja dan bermain di ponsel.
Sektor perekaman video juga mendapat penyempurnaan besar pada lini ini. Varian tertinggi dilengkapi ZEISS Ultra Dynamic Main Camera yang mengandalkan sensor kustom Phantom 900 hasil kolaborasi Sony dan tim pencitraan Vivo Blueprint. Sensor ini mampu menghasilkan dynamic range hingga 17 stop, memungkinkan detail terlihat jelas di area terang maupun gelap dalam satu frame. Bagi kreator konten, kemampuan ini mengurangi kebutuhan edit pasca-produksi untuk menyeimbangkan pencahayaan.
Kecepatan perekaman video menjadi sorotan lain. iPhone Ultra mendukung slow-motion 4K pada 240 frame perDetik serta HDR 4K pada 120 frame perDetik. Stabilisasi gambar juga naik level dengan Optical Image Stabilization hingga 3 derajat pada varian tertinggi. Standar CIPA 7.0 dijamin untuk seluruh lini pro, sehingga rekaman tetap stabil meski diambil sambil berjalan atau dalam kendaraan bergerak.
Absennya kamera telefoto menuai perhatian karena harga perangkat diperkirakan sangat tinggi. Apple dikabarkan akan menjual iPhone Ultra dengan harga mulai USD 2.000 atau sekitar Rp36 juta. Tanpa lensa telefoto, pengguna tetap bisa memanfaatkan layar utama yang besar sebagai viewfinder untuk memotret dengan presisi. Pengaturan digital zoom akan menjadi solusi untuk jarak jauh, meski hasilnya mungkin tidak sebaik optik telefoti sungguhan.
Apple juga diharapkan mengubah sistem keamanan biometrik. Alih-alih Face ID, perusahaan kabarnya kembali menggunakan Touch ID yang mungkin terintegrasi dengan tombol daya atau bagian bodi lainnya. Keputusan ini menuai spekulasi karena Face ID sudah menjadi identitas iPhone selama beberapa generasi. Namun, Touch ID bisa jadi pilihan lebih nyaman bagi pengguna yang sering memakai masker atau bekerja dalam kondisi pencahayaan minim.
Pasar ponsel lipat saat ini sudah dipasrahkan oleh Samsung, Huawei, dan vendor China lainnya. Apple masuk terlambat, tetapi ekosistem pengguna yang sudah besar berpotensi mendorong adopsi massal. Konsumen yang sebelumnya ragu dengan ponsel lipat bisa berubah pikiran setelah Apple meluncurkan produknya. Dampaknya, kategori ponsel lipat premium diperkirakan akan mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang 2027.
Spesifikasi lengkap dan harga resmi masih dirahasiakan. Apple biasanya mengadakan acara peluncuran di bulan September dan kali ini tidak mengecualikan kemungkinan yang sama. Rilis iPhone Ultra dijadwalkan berbarengan dengan iPhone 17 standar dan varian Plus-nya. Pengguna yang menunggu teknologi lipat bisa menabung lebih awal karena harga prediksi memang berada di angka dua puluh juta rupiah ke atas.
Perbandingan dengan pesaing juga akan menjadi pertimbangan utama bagi calon pembeli. Samsung Galaxy Z Fold series sudah memiliki empat generasi pengalaman, sementara Huawei Mate X series menawarkan desain ramping dan kamera andal. Apple berusaha mengejar ketertinggalan dengan memainkan keunggulan ekosistem macOS, iOS, dan iPadOS yang mulus. Transfer data antar perangkat, iCloud sync, dan dukungan aksesori menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki pesaing dalam jumlah yang sama.
Bagi developer aplikasi, hadirnya iPhone Ultra membuka peluang baru untuk menciptakan interface responsif yang beradaptasi antara layar kecil dan layar besar. Apple kemungkinan akan memberikan SDK baru yang memudahkan penyesuaian layout. Hal ini mirip dengan transisi dari iPhone ke iPad beberapa tahun silapan, tetapi kali ini dalam satu perangkat yang bisa dilipat. Perusahaan software yang sudah optimalkan aplikasi untuk iPad akan mendapatkan keuntungan lebih awal.
Ketersediaan aksesori juga diperkirakan melimpah saat iPhone Ultra resmi hadir. Pelindung layar, casing, dan dock charging khusus akan dirancang khusus untuk mekanisme lipat yang unik. Apple biasanya bekerja sama dengan produsen aksesori sejak fase awal development, sehingga pelanggan bisa mendapatkan perlindungan lengkap sejak hari pertama pembelian.
Konsumen yang tertarik dengan iPhone Ultra sebaiknya menunggu pengumuman resmi dari Apple sebelum memutuskan pembelian. Semua informasi saat ini masih sebatas rumor dan bocoran dari sumber yang dekat dengan perusahaan. Harga dan spesifikasi bisa berubah hingga akhir peluncuran. Namun, antisipasi terhadap perangkat ini sudah mengubah dinamika pasar ponsel lipat secara keseluruhan sejak awal 2026.
Dunia teknologi menunggu dengan napas tertahan setiap kali Apple mengeluarkan produk baru. iPhone Ultra bukan sekadar ponsel lipat biasa, melainkan evolusi dari filosofi desain yang telah Apple usung selama bertahun-tahun. Performa chip, integrasi ekosistem, dan kualitas build yang tinggi menjadi standar yang diharapkan konsumen. Apakah iPhone Ultra akan memenuhi ekspektasi itu, jawabannya akan terbuka di acara peluncuran nanti.

