Pesawat TNI Tergelincir Lagi di Makassar, Bandara Tutup dan Warga Dihimbau Waspada

Rasyiqi
By Rasyiqi - Writer, Saintific Enthusiast
4 Min Read
- Advertisement -

jfid – Badan pesawat angkut milik TNI tergelincir di Runway 03-21 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, pada Selasa 25 Agustus 2026 sekitar pukul 11.25 WIB. Insiden ini terjadi hanya sehari setelah jet tempur Sukhoi Su-30 Mk2 milik TNI AU juga tergelincir di runway yang sama, menimbulkan kekhawatiran serius atas keselamatan operasi penerbangan di salah satu bandara tersibuk di kawasan Indonesia Timur. Dua insiden dalam waktu kurang dari 24 jam membuat masyarakat bertanya-tanya apakah ini kebetulan atau ada masalah sistemik yang perlu segera ditangani oleh otoritas terkait. Kejadian ini juga menggelitik perhatian publik karena Bandara Sultan Hasanuddin merupakan pintu gerbang utama untuk wilayah Sulawesi dan bagian timur Indonesia yang dilalui ribuan penumpang setiap harinya. Situasi ini kembali mencuatkan isu keselamatan penerbangan di Indonesia yang selama ini menjadi concern publik.

Video yang beredar di media sosial menampilkan sejumlah armada pemadam kebakaran (Damkar) dan personel bandara yang langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi kru dan badan pesawat. Proses evakuasi berjalan cepat dan tidak ada laporan korban jiwa hingga saat ini. Namun, dampak terhadap operasional bandara cukup signifikan karena Runway 03-21 ditutup sementara tanpa estimasi waktu pembukaan kembali. Beberapa penerbangan komersi terpaksa dialihkan ke bandara alternatif atau ditunda, menimbulkan ketidaknyamanan bagi ratusan penumpang yang tengah beraktivitas. Maskapai penerbangan besar pun mulai mengeluarkan pengumuman resmi untuk menyesuaikan jadwal dan memberikan opsi refund atau penundaan bagi penumpang yang terdampak. Penumpang yang sedang transit di Makassar pun diliburkan sementara menunggu perkembangan selanjutnya.

Taufan Yudhistira selaku PGS Branch Communication & CSR Department Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sultan Hasanuddin membenarkan adanya kejadian tersebut. Dia menyampaikan bahwa berdasarkan video viral yang beredar, memang benar terjadi insiden tergelincirnya pesawat angkut milik TNI di area landasan pacu utara selatan atau Runway 03-21 pada pukul 11.25 WIB. Namun, Taufan tidak menjelaskan jenis pesawat angkut tersebut dan milik unit TNI yang mana. Informasi yang minim ini menambah spekulasi di tengah masyarakat yang menuntut transparansi penuh dari pihak berwajib. Keterbukaan informasi menjadi kunci untuk mencegah berita hoaks yang dapat memicu ketakutan tanpa dasar nyata dan merusak tatanan sosial di daerah. Masyarakat berharap penjelasan lebih detail segera diberikan untuk meredakan ketegangan yang muncul di berbagai platform media sosial.

Kemunculan insiden kedua dalam waktu kurang dari 24 jam menimbulkan pertanyaan serius regarding standar keselamatan pendaratan di Bandara Sultan Hasanuddin. Para ahli penerbangan menyarankan perlu dilakukan audit menyeluruh terhadap kondisi runway, sistem penanganan cuaca, dan prosedur landing yang diterapkan pilot. Beberapa pihak juga meminta Kodal (Komando Daerah Angkatan Udara) VI Makassar untuk memberikan klarifikasi resmi. Tanpa transparansi yang memadai, kepercayaan publik terhadap keamanan bandara akan terus menurun dan berdampak pada sektor pariwisata serta perekonomian Sulawesi Selatan yang bergantung pada konektivitas udara nasional dan internasional. Pelaku industri pariwisata khawatir image Bandara Sultan Hasanuddin sebagai gerbang wisata Sulawesi akan tercemar jika insiden berlanjut dan tidak ada tindakan konkret dari pihak pengelola. Kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara menjadi hal penting yang harus dijaga oleh seluruh stakeholder.

Pihak Kodal VI Makassar hingga berita ini diturunkan belum merilis pernyataan resmi. Begitu juga dengan PT Angkasa Pura Indonesia yang masih menunggu hasil investigasi internal. Masyarakat diminta untuk menghindari informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti update resmi dari pihak berwenang. Bagi penumpang yang memiliki jadwal penerbangan, disarankan untuk melakukan pengecekan ulang terhadap status flight sebelum berangkat ke bandara. Aplikasi resmi bandara dan maskapai menjadi referensi terbaik untuk mendapatkan informasi terkini tentang perubahan jadwal dan status keselamatan penerbangan. Media sosial dapat menjadi sumber informasi yang cepat, tetapi tidak semua konten yang beredar terverifikasi dan akurat. Pihak berwajib harus hadir untuk memberikan klarifikasi secara langsung dan transparan.

Kejadian ini juga mengingatkan kembali pentingnya budaya keselamatan (culture of safety) dalam operasi militer dan sipil. Setiap insiden, sekecil apapun, seharusnya menjadi pembelajaran untuk meningkatkan protokol keselamatan. Dua kali tergelincir dalam waktu singkat adalah pola yang tidak boleh diabaikan. Pihak berwajib segera melakukan investigasi transparan dan mempublikasikan temuan untuk menjamin kepercayaan publik terhadap sistem transportasi udara Indonesia. Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga diharapkan dapat turun tangan untuk melakukan audit independen guna memastikan tidak ada lagi korban di kemudian hari.

Para ahli penerbangan menambahkan bahwa insiden ini perlu ditangani dengan serius karena Bandara Sultan Hasanuddin adalah bandara internasional yang melayani ratusan penerbangan setiap minggu. Kejadian yang berulang dalam waktu singkat dapat menimbulkan dampak psicolologis terhadap pilot dan kru kabin yang juga merasa kurang nyaman dengan kondisi runway. Peningkatan standar inspeksi runway menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan segera untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

- Advertisement -
Share This Article