Perusahaan Naikkan Anggaran Siber Imbas AI, Tapi Risiko Baru Juga Hadir

Ningsih Arini
7 Min Read
{"prompt":"cybersecurity AI network futuristic","originalPrompt":"cybersecurity AI network futuristic","width":940,"height":627,"seed":42,"model":"sana","enhance":false,"nologo":false,"negative_prompt":"undefined","nofeed":false,"safe":false,"quality":"medium","image":[],"transparent":false,"isMature":false,"isChild":false,"trackingData":{"actualModel":"sana","usage":{"completionImageTokens":1,"totalTokenCount":1}}}
- Advertisement -

jfid – Perusahaan di seluruh dunia kini menghadapi dilema baru. Semakin banyak mereka memakai kecerdasan buatan untuk percepatan bisnis, semakin tinggi juga kebutuhan untuk mengamankan infrastruktur digital. Studi terbaru dari Kaspersky mencatat bahwa 41 persen perusahaan meningkatkan anggaran keamanan informasi mereka sebagai dampak langsung dari adopsi AI. Fenomena ini membuktikan bahwa teknologi yang seharusnya memudahkan pekerjaan justru membawa pertanyaan baru seputar perlindungan data di tengah arus transformasi digital.
Laporan yang disusun dari survei 1.800 pemangku keputusan TI dan keamanan siber di 18 negara ini juga mengungkap bahwa ancaman kerentanan AI kini berada di peringkat ketiga terbesar. Sebanyak 19 persen responden menempatkannya sebagai ancaman paling berbahaya, hanya kalah dari phising sebesar 22 persen dan serangan massal malware sebesar 20 persen. Peringkat ini menunjukkan bahwa keamanan siber tidak lagi hanya tentang virus atau peretas konvensional, tetapi juga tentang model AI yang bisa dimanipulasi, diubah keputusannya, atau bahkan digunakan untuk menyebarkan kampanye phising yang lebih personal dan sulit dilacak.
Sektor finansial, teknologi informasi, dan pemerintah menjadi daerah paling rentan karena sifat aset digital mereka yang sangat krusial. Setiap celah keamanan di sektor ini bisa menggerus ribuan miliar rupiah, membocorkan data rahasia, bahkan menghentikan layanan publik yang penting. Menurut Kaspersky, kerugian akibat pelanggaran data di sektor finansial saja bisa mencapai ratusan juta dolar per insiden, belum lagi kerusakan reputasi yang membutuhkan bertahun-tahun untuk pulih. Kesadaran akan risiko AI kini bukan lagi teori para pembuat kebijakan, melainkan realitas operasional yang langsung mempengaruhi anggaran, strategi, dan bahkan reputasi perusahaan di mata konsumen.
Di luar ancaman teknis, ada masalah yang tak kalah mengkhawatirkan dari dalam perusahaan. Fenomena yang disebut Shadow AI terjadi ketika karyawan secara massal dan tak ter kontrol menggunakan alat AI pihak ketiga seperti ChatGPT atau DeepSeek untuk menyelesaikan tugas kerja. Sebanyak 31 persen perusahaan mengaku menjadi korban dari perilaku ini. Tanpa pengawasan yang jelas, data sensitif perusahaan bisa bocor ke layanan eksternal yang tidak memenuhi standar keamanan, menciptakan celah yang sulit dideteksi oleh tim IT.
Hanya sedikit perusahaan yang benar-benar menguasai cara kerja Shadow AI. Survei menemukan bahwa 59 persen organisasi memperbolehkan penggunaan alat AI eksternal dengan beberapa batasan seperti melarang unggah nama perusahaan atau dokumen internal. Sementara itu, 23 persen lainnya membebaskan akses penuh asalkan karyawan mendapat panduan dan pelatihan tentang praktik aman. Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan keamanan siber di tempat kerja masih berjalan di dua laju yang berbeda, sehingga risiko bocor data tetap tinggi jika tidak ada pengawasan berkelanjutan.
Meskipun risiko terus mengintai, adopsi AI internal di perusahaan tetap berjalan cepat. Sebanyak 81 persen organisasi sedang mengeksplorasi atau menerapkan tools AI dalam negeri berbasis Large Language Model, dan 18 persen sudah mengintegrasikannya ke dalam alur kerja sehari-hari. Alasan utama perusahaan masuk ke dalam AI adalah meningkatkan efisiensi proses, mengurangi kesalahan manusia, dan meningkatkan kualitas layanan kepada klien. Transformasi ini juga memaksa departemen keamanan siber untuk beradaptasi dengan skill set baru, termasuk kemampuan menganalisis perilaku model AI dan melatih algoritma deteksi anomali yang lebih cerdas. Target yang sama juga mendorong mereka menambal keamanan siber sebagai bagian tak terpisahkan dari transformasi digital yang berkelanjutan.
Vladislav Tushkanov, Group Manager di Kaspersky AI Technology Research Center, menilai bahwa perlindungan terbaik adalah menggabungkan solusi keamanan komprehensif yang sudah memiliki kemampuan AI bawaan. Kaspersky Next, misalnya, menawarkan perlindungan real-time, visibilitas ancaman, serta investigasi dan respons insiden dalam satu platform. Pendekatan ini diharapkan bisa menekan biaya breach dan menyederhanakan manajemen keamanan tanpa harus menambah jumlah staf, menjadikan operasional perusahaan lebih tangguh dan adaptif.
Di samping produk terpadu, Kaspersky juga merekomendasikan perusahaan memperkuat intelligence ancaman. Data Threat Intelligence Kaspersky menyediakan konteks lengkap sepanjang siklus manajemen insiden, mulai dari identifikasi risiko sampai pemulihan. Fitur machine learning dan generative AI di dalamnya mampu mengelompokkan malware, menganalisis data ancaman berskala besar, serta merangkum indikator kompromasi dalam bahasa yang mudah dipahami oleh tim keamanan. Dengan begini, perusahaan tidak hanya bereaksi terhadap serangan, tetapi juga dapat memprediksi dan mencegahnya sebelum meluas.
Bagi perusahaan di Indonesia, temuan ini menjadi isyarat penting. Banyak organisasi yang masih melihat AI hanya sebagai alat meningkatkan produktivitas tanpa menyadari bahwa Shadow AI bisa menjadi pintu masuk bagi peretas. Edukasi karyawan, pembatasan yang jelas, serta investasi pada platform keamanan berbasis AI menjadi langkah konkret untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan data. Pemerintah juga diharapkan dapat menyusun regulasi yang mendukung adopsi AI yang aman dan bertanggung jawab, serta mengadakan kampanye kesadaran bagi pelaku usaha kecil menengah agar tidak tertinggal dalam transformasi digital yang aman.
Transformasi digital tidak akan berhenti, apalagi di era ketika AI semakin menjadi tulang punggung operasional perusahaan. Yang berganti adalah cara kita mengamankannya. Kolaborasi antara vendor keamanan, perusahaan, dan karyawan akan menentukan seberapa cepat kita bisa merespons ancaman baru tanpa mengorbankan kecepatan bisnis. Informasi lebih lanjut tentang studi ini dapat diakses di laporan resmi Kaspersky untuk memandu langkah strategis perusahaan ke depan. Dengan pola pikir yang tepat, AI tidak harus menjadi musuh, melainkan mitra dalam membangun pertahanan siber yang lebih tangguh.

- Advertisement -
Share This Article