Lampung Dorong Hilirisasi Komoditas Desa dengan Teknologi Tepat Guna

Ningsih Arini
7 Min Read
- Advertisement -

jfid – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengukuhkan visi hilirisasi komoditas berbasis desa saat membuka Seminar Nasional IPTEK Terapan di Gedung Serba Guna Politeknik Negeri Lampung, Sabtu (29/8/2026). Dihadapan para akademisi, praktisi, dan perwakilan masyarakat, gubernur menekankan bahwa sains dan teknologi harus menjadi solusi nyata bagi persoalan masyarakat, bukan sekadar pengetahuan teoritis yang hanya bertumpu di Laboratorium.

Semenari berlangsung, Gubernur Mirza memaparkan data besar yang dimiliki Lampung. Dengan luas daratan sekitar 3,3 juta hektare dan populasi 9,6 juta jiwa, provinsi ini menyumbang produksi padi nasional sekitar 3,5 juta ton per tahun. Di luar padi, komoditas unggulan seperti jagung, singkong, nanas, pisang, kopi, lada, tebu, kakao, kelapa sawit, karet, serta hasil peternakan dan perikanan juga mendominasi perekonomian lokal.

Kekayaan itu sayangnya belum sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat. Sebagian besar komoditas masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah melayang ke tangan pengolahan luar. Gubernur Mirza mencontohkan kopi Lampung yang masih diekspor dalam bentuk green bean. Kondisi serupa terjadi pada berbagai hasil pertanian yang dikirim ke luar daerah untuk diolah lebih lanjut sebelum kembali ke pasar dalam bentuk jadi.

Kita tidak hanya bicara bagaimana menghasilkan pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu harus bisa menjadi solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. Kalau kita hanya menghasilkan pengetahuan tapi tidak bisa dipakai, itu tidak ada gunanya. Gubernur Mirza menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar nama atau slogan, tetapi langkah konkret untuk mengangkat kesejahteraan petani dari tingkat akar rumput.

Langkah konkret pertama yang diusung Pemprov Lampung adalah pembangunan fasilitas pengering atau dryer komoditas di tingkat desa. Mesin ini memungkinkan hasil pertanian diproses sebelum dijual ke pasar atau dilanjutkan ke tahap pengolahan berikutnya. Keberadaan dryer tidak hanya memperpanjang umur simpan hasil, tetapi juga memberi ruang bagi warga untuk menyeleksi kualitas sebelum menentukan harga jual.

Setelah dryer tersedia, langkah berikutnya adalah menyediakan mesin pencetak pakan ternak. Pakan yang dihasilkan dari komoditas lokal seperti jagung atau singkong bisa langsung dimanfaatkan untuk mengembangkan peternakan ayam, ikan, atau ternak lainnya. Rangkaian itu membentuk siklus ekonomi yang tertutup di mana desa tidak lagi hanya menyerahkan bahan baku, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tinggi.

Dengan pola itulah desa bisa berdaulat pangan. Ketika ada desa yang menghasilkan padi, desa itu harus bisa memberi makan warganya dengan beras, bukan hanya gabah mentah. Ketika ada jagung, desa harus bisa mengolahnya menjadi pakan untuk ternak sendiri. Konsep ini dijunjung oleh Gubernur Mirza sebagai fondasi kedaulatan pangan yang sesungguhnya.

Teknologi menjadi kunci utama dalam perancangan siklus itu. Namun Gubernur Mirza memperingatkan agar teknologi tidak dipaksakan secara umum. Setiap desa memiliki ekosistem usaha dan karakter komoditas yang berbeda. Riset dan inovasi harus disesuaikan dengan kondisi lokal agar nilai tambah yang dihasilkan benar-benar terintegrasi sampai ke level paling bawah, bukan hanya memihak pada skala industri besar.

Di sini Politeknik Negeri Lampung memainkan peran strategis. Gubernur Mirza secara langsung meminta kampus tersebut menjadi garda terdepan dalam pengembangan teknologi terapan. Dari mesin pengering, pencetak pakan, mixer bahan pakan, hingga mekanisasi pertanian, semuanya membutuhkan rancangan yang responsif terhadap kebutuhan petani dan pelaku usaha mikro di desa.

Selain peralatan, manusia menjadi faktor penentu. Lampung sudah memiliki sumber daya alam, akses perbankan, dan jaringan pasar. Aspek yang masih membutuhkan penguatan adalah ketersediaan SDM yang mampu mengelola teknologi dan mengembangkan usaha. Gubernur Mirza mengakui bahwa tanpa SDM yang kuat, semua infrastruktur dan peralatan hanya menjadi benda mati yang tidak terpakai optimal.

Untuk mengatasi kesenjangan SDM, Pemprov Lampung menyiapkan skema beasiswa yang diarahkan bagi mahasiswa desa. Penerima beasiswa tidak hanya dididik di perguruan tinggi, tetapi juga diharapkan kembali ke desa asal setelah lulus. Mereka menjadi motor hilirisasi yang memadukan pengetahuan akademik dengan konteks lokal, sehingga inovasi yang dibawa benar-benar relevan dan dapat diadopsi masyarakat.

Kita jangan hanya menciptakan mahasiswa untuk mencari lapangan pekerjaan di kota besar. Kita harus menciptakan SDM yang siap menjadi penggerak transformasi ekonomi di desa. Kalau para lulusan hanya lari ke kota, desa tetap tertinggal. Gubernur Mirza menegaskan bahwa generasi muda Lampung harus melihat potensi luar biasa yang ada di kampung halaman masing-masing.

Sinergi menjadi kunci untuk percepatan. Pemerintah provinsi dan kabupaten kota, Politeknik Negeri Lampung, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat harus bergerak sebagai satu ekosistem. Setiap pihak memiliki peran yang tidak bisa digantikan. Tanpa kolaborasi, konsep hilirisasi dan kedaulatan pangan hanya akan berhenti di tahap wacana tanpa tercapai.

Langkah yang dijalankan Pemprov Lampung ini juga diharapkan menjadi model yang dapat ditiru oleh provinsi lain yang memiliki basis ekonomi serupa. Hilirisasi komoditas berbasis desa bukan hanya cara meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga strategi menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi kemiskinan, serta memperkuat daya saing nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Pembangunan manusia dan inovasi terapan memang membutuhkan waktu, tapi momentumnya harus diambil sekarang. Gubernur Mirza menutup sambutan dengan mengajak semua pihak untuk terus mendukung riset yang berorientasi pada solusi. Teknologi tepat guna, penguatan SDM, dan kemauan bersama adalah tiga pilar yang menegakkan kedaulatan pangan dari desa. Pembaca setia jurnalfaktual.id akan terus mendapatkan kabar terbaru tentang program ini.

- Advertisement -
Share This Article