Selesaikan Covid Cara Bossman

By
8 Min Read

jfID – Mengapa setiap penampilan pimpinan di indonesia jajarannya tidak ada di samping nya? Demikian pertanyaan dari seorang pengamat ekonomi dari negeri jiran kepada saya via WA. Trump setiap saat ada wakilnya di belakangnya dan beberapa pejabat di sekelilingnya di masa covid ini, begitu juga Xi Jing Ping, jangan tanya Kim Jong un Korut ya. Lebih lengkap lagi.

Itu hanya signal bahwa pemimpn bekerja dengan teamnya.

Apakah takut tertular? Berapa lah harga proteksi buat seorang pejabat Negara tertinggi dan kabinetnya, tak seberapa, rakyat harus di perlihatkan yang kerja banyak dan kompak bukan hanya 4 L yang bekerja. Hal ini sungguh penting jika mengerti cara bernegara, hal ini untuk membuat rakyat melihat, symbol, rakyat itu lihat symbol.

Perlihatakan kalau kalian berkerja wahai menteri kabinet, pak wakil presiden, beradalah di sekeliling pemimpin kalian. Setrilkan kondisi kalian.

Lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah pandemic ini yang saya lihat sampai sekarang tidak ada strategi perang nasionalnya yang ada hanya MEMBANGUN NARASI NASIONAL. Ini versi saya loh ya, kalau saya pegang mandate maka apa yang saya lakukan?

Ada baiknya kita melakukan percepatan test PCR corona ini dan mulainya dari mana? Dari desa!!!

Gunakan kekuatan babinsa, dan jika daerah tersebut hijau, kasih gelang hijau di tangan mereka, dan lokalisir daerah tersebut. Begitu hijau, disana mereka mengerjakan apa saja seperti keseharian. Jaga perbatasannya dengan team aparat.

Semakin luas tersisir daerah hijau, karena hanya DARI PENDATANG LAH covid itu menular. Pendatang yang gelang hijau lah yang boleh masuk dan tidak boleh keluar masuk, kecuali barang.

Perluas daerah hijau, utamakan untuk kekuatan pangan. Lumbung padi, sayuran, peternakan dan berbagai kebutuhan pangan lainnya. Setiap 2 hari rakyat datang ke posyandu untuk di beri vitamin gratis. Wajib!!!

Jaga daerah hijau tadi dan perluas dan pastikan yang keluar masuk hanya barang. Di dalam daerah hijau, silahkan mengerjakan semua yang normal.

70% daerah di Indonesia adalah kaum rural pedesaan ini, lalu kepung kearah urban perkotaan, daerah kuning, yang terdapat beberapa pasien, segera hijaukan dengan bawa pasien keluar ke tempat pengobatan. Dan diamkan 14 hari daerah tersebut dengan isolasi mandiri setelah itu daerah itu jadi hijau, normal lagi. Terus hal ini di kerjakan dengan cepat semua mengepung arah kota. Arah urban.

Babinsa dan aparat kesehatan pertahanan dan keamanan bisa melakukan test 1 juta per hari, semua wilayah Jawa dulu misalnya.

Lalu petakan.

Daerah hijau normal, daerah kuning isolasi 2 minggu, daerah merah lockdown sebulan (semua di tanggung Negara kebutuhan dasar) 9 bahan pokok. Kurang apa, WA no babinsa setempat, akan dikirim, ada yang sakit hubungi babinsa akan di jemput dan tenaga medis datang.

Sekedar pembanding strategi ini desa mengepung kota di pakai oleh pemerintah China kemarin dengan mengunakan hal yang sama , hanya mereka menggunakan hal yang lebih canggih, data base dari handphone masing masing penduduk.

Di Wuhan misalnya ketika di bulan Januari semua orang harus men-download satu apps di ponsel mereka. Nama apps itu: baca: jian kang bao. Artinya: Sehat Itu Harta Karun.

Dengan men-download apps tersebut semua orang terhubung dengan pusat kesehatan nasional.

Sejak itu di layar ponsel penduduk muncul status kesehatan mereka masing-masing: Hijau, Kuning, atau Merah.
Ponsel telah berfungsi pula sebagai kartu kesehatan.

Kalau layar ponsel mereka warna hijau berarti diizinkan bergerak di zona hijau. Tapi kalau layar di ponselnya warna kuning mereka tidak boleh ke mana-mana. Apalagi warna merah.

Dari mana asal status kesehatan itu? Siapa yang memberi status hijau, kuning, atau merah itu?

Semua itu berasal dari big data.

Kita sekarang buat versi kita, tak perlu handphone buat semua orang kemahalan, kasih gelang karet. Karena ada babinsa yang mendata, biarkan team babinsa aparat pertahanan keamanan yang punya bigdatanya. Yang terus menjaga perbatasan wilayah yang semakin lebar. 400.000 aparat keamanan bisa di gunakan di deploy

segera.

Sesederhana hal itu.

Sekarang Amerika lakukan strategi lain lagi, mereka memperbanyak test. dalam waktu 1 bulan sudah melakukan 40 juta test lebih sehinga terdapat data hingga 650.000 orang Amerika terpapar per hari ini. Itu karena cepatnya dilalukan test dan jujur.

Kembali kita dengan team babinsa ke desa desa, kita memperbanyak test dan secepatnya membangun daerah hijau. membuat zona hijau dimana mana, kepung urban kepung kota dengan zona hijau.

Gabungkan big data China dari desa ke kota gabungkan dengan cepat test dan banyak test di lakukan seperti Amerika. Indonesia hingga saat ini baru 36.000 test di lakukan, terlalu pelan, dan sedikit.

Biayanya ? dari pada 5.6 triliun buat pelatihan online, mending buat perangi covid. Hari gini duit segitu buat pelatihan online, mau dapat apa mereka, mau kerjain apa mereka? dari pada kasih keuntungan 500 milyar ke anak anak kecil yang ngak punya integritas, mending buat dana desa melalui aparat keamanan.

Sekali lagi, mending kasih team medic militer dan kepolisan gerak dari babanisa polsek terkecil. Berbarengan.

Buat adakan PCR test covide dari desa ke kota,.

Dengan banyaknya daerah hijau di pedesaan, supplay mata rantai makan ke kota tidak akan masalah, bisnis tidak terputus. Ngak perlu import.

Pejabat pusat mikir jangan dari kota terus dari istana terus melihatnya. Orang sekitar istana mah kinclong kinclong, mewah mewah, makan sehat semua, punya deposito, kami rakyat UKM dan rakyat pinggiran yang penyuplai makanan ke kota, di desa desa masak kami stay at home, ya ngak pas lah kebijakan seperti begitu.

Kami daerah hijau jangan di samain dengan kota yang sudah merah. Jangan semua orang di suruh stay at home. kami daerah hijau boss. Makan apa kami?

Kembali ke strategi desa mengepung kota. Kita jelaskan, pakai kaki organik, babinsa polsek dan jaringan keamanan terkecil lainnya, lakukan zoning hijau sebanyak banyaknya, dengan test covid dalam 1 bulan kedepan, saya yakin 80% wilayah Indonesia masih hijau.

Di wilayah hijau, Kerja normal semua, jaga perbatasan dengan ketat pakai big data di tangan masing-masing personel keamanan daerah tersebut, tidak ada “crossing man” yang ada crossing barang.

Jadi itulah strategi yang akan sontoloyo pakai kalau di kasih mandate yang ngak mungkin di kasih khan ya? Atau tiru aja, ngak usah malu. #peace

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article