Demokrasi Cap “Tahi Kucing”

Herry Santoso By Herry Santoso
3 Min Read
Gambar ilustrasi (Foto: Twitter gema demokrasi)
Gambar ilustrasi (Foto: Twitter gema demokrasi)

jfid – ERA demokratisasi di Indonesia rupanya sempat menghadirkan banyak dampak : (1) Rivalitas ideologi kanan ( khilafah ) dan sekuler yang kian menguat. (2) Cenderung retaknya rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan (3) Ketidak-konsistennya terhadap konstitusi bangsa yang terwakili oleh perubahan sistem pemerintahan. Alhasil jargon dan euforia demokrasi di Indonesia identik dengan cap “demokrasi tahi kucing” (cat’s dung of democracy).

Rivalitas ideologi Islam ( baca : khilafah) versus Sekuler ( baca : nasionalis ) misalnya, selain menguras energi, pun hanya menghadirkan “retaknya” integritas khususnya di akar rumput ( gross root ) serta pelan namun pasti terkikisnya rasa keadilan sosial.

Kehidupan semakin terkotak-kotak dan bias. “Jangankan di ranah institusi-organisasi, di grup whatsApp saja bisa terpolarisasi.” ujar pengamat politik Tjipta Lesmana pada sebuah acara televisi.

Fenomena di atas akan menjadi tengara bahwa sistem demokrasi liberal tidak bisa dipaksakan terhadap bangsa Indonesia.

Karena secara empiris, Negara ini terbentuk dan disanggah oleh kultur-kuktur kebangsaan yang kental dan rekat. Alhasil demokrasi ala neoliberalism bukan alat yang tepat diterapkan di republik sebagai variabel politik dan alat pendidikan politik. Sebab dalam ideologi nasional kita telah memiliki “garis demarkasi” yang jelas tanpa menjadi barikade yang saling berhadapan dan saling memusuhi.

Sebagaimana Bung Karno pernah bilang, “Jikalau menjadi orang Islam jangan jadi orang Arab, jikalau jadi orang Nasrani jangan jadi orang Barat atau Vatican, jikalau jadi orang Hindu janganlah jadi orang India !”.

Sayangnya, akibat terkooptasi oleh demokrasi barat, rakyat yang menjadi korban. Layaknya kasus Pilpres / pileg yang lalu, sempat membawa ratusan korban anggota PPS. Juga dalam peristiwa 22 Mei, sempat menorehkan luka dan menggores hati bangsa.

Setelah terdapat korban meninggal dan deretan orang yang dibui sebagai tumbal proses demokrasi, kita yang bebas tak berbatas. Dan ironisnya, ketika luka demokrasi “cap tahi kucing” masih terasa perih, kedua top figur ( Prabowo – Jokowi ) sudah saling berangkulan dengan mesra. Heheh.

Tentang Penulis : Herry Santoso adalah Dosen, pemerhati sosial-politik, wartawan JurnalFaktual.id menetap di Blitar, Jawa Timur

Share This Article