Bakul Dawet Ayu Pasrah Meski Dicekam Wabah

Herry Santoso By Herry Santoso
3 Min Read

Catatan : Herry Santoso

jfID – SARI (25) memang  tak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Cukup SMA, tetapi dalam menghadapi terjangan badai Covid 19 tak pernah gundah. 

Terbukti, meski kabut masih membalut pagi ia sudah bekerja meramu menu dawet ayu.   

“Entah, sampai kapan Om, saya bertahan action di dawet ayu seperti ini, ” ucapnya datar saat ditemui Jurnalfaktual.id di rumahnya Desa Jatilengger, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. 

Bagi desa yang letaknya 5 km sebelah barat kota. Blitar itu, dawet ayu memang cukup ikonis. lantaran ada sekitar 14 stand yang berjajar di pinggir jalan provinsi (sekarang jalan nasional B, Red ) Blitar – Kediri.

“Sehari dapat berapa ?” tanya penulis pada gadis cantik bersahaja itu. Ia pun mengaku jika rame mampu mengantongi Rp 300 ribu.

“Tapi sekarang sepi. Dapat seratus saja ngoyo,” akunya setengah mendesah.

Image Buruk

Sari Hapsari (begitu nama panjangnya), merasa cuek dengan image miring yang melekat konon rata-rata penjual dawet ayu “nakal”.

“Itu fitnah nan kejam, Om !” sergahnya, “kami di sini juga pengusaha binaan perbankan. Kami mengais rejeki halal, dan pelaku ekonomi kerakyatan, ” lanjutnya berkilah. Sari cukup sedih dengan tudingan miring itu.

Sungguhpun demikian, ia cukup banyak maklum (mungkin) karena nila setitik rusaklah susu sebelanga.


“Yang penting saya jujur. Karena di depan sana ada mimpi, potensi dan kesempatan yang menanti, Om ” ujarnya berfilsafat.

Covid 19

Ketika ditanya tentang merebaknya wabah corona, Sari menyatakan semoga cepat berlalu.

 “Ya, semoga cepat berlalulah, Om. Jujur omset saya merosot nich, hehe…” 

Rasa dawet ayu itu sendiri memang khas, legit dan harum. Air gulanya kental dan bersih, pertanda dari gula merah pilihan. Artinya gula dari nira kelapa murni yang dalam proses pembuatannya tanpa tambahan obat. Setelah jadi dawet per mangkok cuma dibandrol Rp 4.000 ribu.

“Hati-hati lho Om, jangan hanya tergoda karena manisnya saja, bisa-bisa di balik itu ada racun yang berbahaya hehe…” pungkasnya sembari mengerlingkan matanya.

“Seperti, kamu ?” tukas penulis. Ia tertunduk menahan senyum, mengakhiri perbincangan dengan Jf.id ***

TAGGED:
Share This Article