Mitig Micin Bikin Bodoh Beredar dari Kesalahan Diagnosa Awal

Ningsih Arini
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – MSG atau micin sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dapur modern Indonesia. Penyedap rasa berbentuk kristal putih ini ditemukan dalam segala macam masakan, dari makanan jalanan hingga hidangan restoran. Namun, selama bertahun-tahun, mitos bahwa micin membuat otak menjadi lemot terus beredar di tengah masyarakat. Klaim ini muncul dari laporan awal yang tidak saksama dan berkembang tanpa ada verifikasi ilmiah yang memadai. Fakta ilmiah yang terbaru membuktikan sepenuhnya bahwa anggapan tersebut keliru dan tidak berdasar.

Mitos micin bikin bodoh pertama kali muncul pada tahun 1968 dalam laporan yang dikenal sebagai Chinese Restaurant Syndrome. Seorang dokter kulit di Amerika menulis surat singkat ke jurnal kedokteran yang melaporkan gejala sakit kepala dan mual setelah makan di restoran China. Media massa pada masa itu dengan cepat mengaitkan keluhan tersebut dengan MSG tanpa melakukan investigasi lebih lanjut terhadap bahan makanan lain yang mungkin berkontribusi. Dari sanalah narasi keliru mulai menyebar ke masyarakat umum dan berevolusi menjadi mitos lebih ekstrem bahwa micin secara langsung menurunkan kecerdasan.

Data empiris dari negara-negara dengan konsumsi MSG tertinggi justru menunjukkan hasil yang kontradiktif dengan mitos tersebut. Jepang, Korea Selatan, dan China merupakan tiga negara yang mengonsumsi MSG dalam jumlah terbesar di dunia. Penduduk Jepang dan Korea Selatan rata-rata mengonsumsi 1,2 hingga 1,7 gram MSG per hari, sementara di beberapa wilayah China angka konsumsi bisa jauh lebih tinggi dibanding negara-negara Eropa yang hanya sekitar 0,5 gram per hari. Meskipun demikian, rata-rata IQ Jepang tercatat sebesar 106,48, China berada pada kisaran 104,1 hingga 107,19, dan Korea Selatan pada angka 102,35 hingga 106,43. Statistik ini menjadi bukti konkret bahwa tidak ada hubungan inverse antara konsumsi MSG dan kecerdasan populasi.

dr. Johanes Chandrawinata, SpGK, dokter spesialis gizi dari Indonesia, secara tegas menegaskan bahwa anggapan micin bikin bodoh hanyalah mitos tanpa dasar ilmiah. Ia menjelaskan bahwa tidak ada mekanisme biologis yang menghubungkan konsumsi MSG dengan penurunan fungsi kognitif. Menurutnya, banyak faktor lain yang benar-benar memengaruhi kecerdasan dan performa belajar, seperti kebiasaan main game berlebihan, kurangnya aktivitas belajar, dan paparan layar berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa mitos micin hanyalah pelepas tanggung jawab bagi orang tua dan masyarakat yang enggan mengakui faktor-faktor lain yang sebenarnya lebih berdampak.

Bukti ilmiah juga diperkuat oleh penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Effect of Monosodium L-glutamate on cognitive function in people with dementia. Studi ini melibatkan 159 pasien demensia dan membuktikan bahwa konsumsi MSG secara rutin dalam jumlah wajar tidak menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Temuan yang lebih mengejutkan adalah indikasi bahwa MSG justru dapat membantu mempertahankan atau sedikit meningkatkan fungsi kognitif tertentu pada kelompok usia lanjut. Hasil penelitian ini menghancurkan dasar ilmiah mitos yang sudah melekat di benak masyarakat selama lebih dari lima dekade.

dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, ahli gizi lain, menambahkan bahwa MSG sebenarnya bukan zat berbahaya. Ia menjelaskan bahwa MSG dibuat dari proses fermentasi bahan alami seperti tetes tebu, kentang, atau ampas sayuran. Proses fermentasi tersebut menghasilkan glutamat, yaitu zat gizi yang termasuk dalam kategori amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Menurutnya, tidak ada alasan untuk mengkategorikan glutamat sebagai racun. Asalkan dikonsumsi sesuai takaran yang dianjurkan, MSG sepenuhnya aman dan bahkan memiliki manfaat sebagai sumber nutrisi.

World Health Organization menetapkan asupan MSG yang dapat diterima tubuh berada pada kisaran nol hingga 120 miligram per kilogram berat badan per hari. Untuk orang dewasa dengan berat badan normal sekitar 60 kilogram, batas amannya adalah sekitar 7,2 gram MSG per hari. Data konsumsi aktual di negara-negara Eropa menunjukkan bahwa rata-rata asupan glutamat dari makanan stabil pada kisaran 5 hingga 12 gram per hari, yang masih berada dalam rentang aman. Takaran ini jauh dari jumlah yang bisa menimbulkan efek samping apapun, apalagi menurunkan kecerdasan.

Kesimpulan yang jelas dari berbagai bukti ilmiah adalah bahwa mitos micin bikin bodoh merupakan klaim yang keliru dan tidak berdasar. Mitos ini berakar dari laporan awal yang kurang kritis, berkembang melalui media yang mengejar sensasi, dan bertahan karena kurangnya edukasi gizi di masyarakat. Micin atau MSG, jika dikonsumsi sesuai takaran yang dianjurkan, tidak memiliki hubungan dengan penurunan kecerdasan. Untuk menjaga kualitas otak, faktor yang lebih berpengaruh adalah pola makan seimbang secara keseluruhan, kebiasaan membaca, aktivitas fisik rutin, dan waktu tidur yang cukup. Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sumber asli untuk memahami konteks yang lebih mendalam dari klarifikasi ilmiah ini.

Berdasarkan temuan di atas, penting bagi setiap keluarga untuk tidak mudah percaya pada klaim yang belum terverifikasi secara ilmiah. Kebiasaan memeriksa sumber informasi dan mencari data yang terpercaya akan menjadi benteng terbaik terhadap misinformasi yang terus berkembang di era digital.

- Advertisement -
Share This Article