jfid – Parade kata asing di label makanan memang kerap memicu kepanikan. Kali ini, maltodekstrin menjadi bulan-bulanan tuduhan di grup WhatsApp dan feed TikTok. Di satu sisi, netizen menyebutnya gula berbahaya yang menyamar. Di sisi lain, mereka yang paham sedikit demi sedikit mulai mempertanyakan apakah ini cuma hoaks belaka. Fakta vs Mitos mengupas tuntas dengan data dari BPOM, FDA, dan penelitian gizi terbaru agar kamu tidak lagi terhipnotis klaim tanpa bukti.
Maltodekstrin sebenarnya bukan zat ajaib yang lahir dari tabung reaksi laboratorium gelap. Ia berasal dari pati alami seperti jagung, kentang, gandum, atau tapioka yang diolah melalui hidrolisis. Proses ini memecah rantai molekul pati menjadi bagian-bagian pendek sehingga membentuk bubuk putih tanpa rasa manis. FDA bahkan mengemas maltodekstrin dalam kategori GRAS alias bahan yang diakui aman secara umum untuk konsumsi pangan. Artinya, otoritas pangan Amerika Serikat sudah memetakan risiko sebelum izin penggunaan tersebar luas di produk olahan.
Di Indonesia, BPOM turut mengawasi jalur distribusi dan penggunaan maltodekstrin lewat Peraturan BPOM No. 11 Tahun 2019. Bahan ini masuk dalam daftar 27 golongan bahan tambahan pangan yang boleh dipakai sebagai pengawet, penguat rasa, filler, penstabil tekstur, hingga perisa. Dr. Rosyanne Kushardina dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta menekankan bahwa maltodekstrin justru sering menjadi pengganti laktosa bagi penderita intoleransi laktosa. Kalau benar-benar berbahaya, BPOM tidak akan memberinya nomor registrasi resmi.
Isu paling meluas di dunia maya menyangkut hubungan maltodekstrin dengan peningkatan gula darah. Padahal, tingkat kemanisan maltodekstrin diukur dengan nilai dextrose equivalent yang cenderung sangat rendah, yakni antara 3 hingga 19. Dr. Rosyanne menjelaskan bahwa susu yang memakai maltodekstrin bukan berarti lebih manis atau lebih tinggi gula; angka tersebut bisa diverifikasi langsung dari kemasan. Klaim bahwa bahan ini memicu lonjakan glukosa darah justru bertentangan dengan standar keamanan pangan internasional.
Tuduhan lain yang menakutkan ialah dugaan maltodekstrin memicu gagal ginjal pada anak. Namun, Jurnal Gizi Klinik Indonesia pada tahun 2020 justru mempublikasikan temuan sebaliknya. Penambahan resistant maltodekstrin dalam susu pertumbuhan terbukti membantu menyeimbangkan mikrobiota usus dan meningkatkan daya tahan tubuh anak. Artinya, alih-alih merusak organ, varian tertentu dari maltodekstrin malah menjadi prebiotik yang menyehatkan saluran cerna.
Mitos ini juga kerap dibaurkan dengan gula tersembunyi, seolah-olah maltodekstrin adalah senjata rahasia industri makanan untuk menjerat anak dengan manis buatan. Padahal, fungsi utamanya bukan sebagai pemanis, melainkan sebagai stabilizer dan pengisi yang menjaga konsistensi produk. Dr. Rosyanne menambahkan bahwa susu formula yang memuat maltodekstrin tetap harus diolah sesuai standar, sehingga konsumsi dalam jumlah wajar tidak menimbulkan efek samping apapun.
Penelitian oleh Kishimoto dkk. (2006) dan Okuma & Matsuda (2002) mengungkap sisi lain yang jarang dibicarakan. Resistant maltodekstrin dapat difermentasi di usus besar menjadi asam lemak rantai pendek yang bermanfaat bagi bakteri baik. Bifidobacterium dan Lactobacillus justru bertambah ketika asupan serat fungsional ini terpenuhi. Jadi, tuduhan bahwa maltodekstrin hanya berisi gula kosong ternyata tidak mencakup seluruh fakta; ada jenis yang juga menyediakan serat pangan.
Kuncinya ada pada pendidikan label dan kemampuan membaca informasi pangan secara utuh. Ketika kamu melihat maltodekstrin di daftar bahan, periksa apakah ada keterangan resistant maltodekstrin. Jika tidak, jumlah yang ada dalam produk olahan biasanya masih sangat aman dan tidak menimbulkan risiko kesehatan. Membuang produk hanya karena satu nama yang terdengar menyeramkan tanpa konteks adalah cara termudah untuk terjebak mitos.
BPOM dan FDA terus meninjau data baru tentang bahan tambahan pangan. Jika memang ada temuan berbahaya, izin penggunaan akan langsung dibekukan. Selama maltodekstrin tetap berada dalam daftar aman, konsumen hanya perlu kalkulasi porsi makan. Pola makan berlebih pada makanan olahan memang harus dihindari, tapi itu berlaku untuk semua bahan, bukan hanya maltodekstrin. Literasi pangan adalah benteng terbaik dari gempuran rumor yang tidak berdasar.
Kesimpulan dari investigasi ini jelas: maltodekstrin bukan musuh yang harus dihindari sekalian. Ia adalah bahan tambahan yang teruji aman, memiliki fungsi penting dalam industri pangan, dan bahkan ada varian yang bermanfaat bagi kesehatan usus. Yang berbahaya bukan maltodekstrinnya, melainkan ketidakmampuan kita membedakan antara fakta dan isapan jempol di tengah derasnya arus informasi palsu. Jadi, kali ini, mitos harus ditaklukkan oleh data, bukan sebaliknya.
Semua klaim yang tercantum di atas telah diverifikasi berdasarkan peraturan BPOM No. 11 Tahun 2019, pengakuan FDA dalam kategori GRAS, serta hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Gizi Klinik Indonesia (2020) dan studi internasional dari Kishimoto et al. serta Okuma & Matsuda. Untuk informasi lebih lanjut, konsultan gizi atau website BPOM bisa menjadi acuan yang andal.

