jfid – Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA) mengungkapkan bahwa maraknya informasi tidak akurat seputar gizi anak di media sosial kini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi generasi muda Indonesia. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena banyak orang tua tanpa menyadari telah mengandalkan saran yang tidak memiliki dasar ilmiah untuk menentukan asupan makanan anak. Padahal, pemenuhan gizi pada setiap tahap usia merupakan fondasi utama yang tidak bisa ditawar untuk tumbuh kembang anak yang optimal.
Poppy Kumala, Direktur Eksekutif APPNIA, menjelaskan bahwa derasnya arus informasi di platform digital membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara saran gizi yang dapat dipertanggungjawabkan dengan konten yang hanya menyesatkan tanpa bukti. Banyak akun di media sosial memberikan rekomendasi pola makan yang justru berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi esensial jika diikuti secara buta oleh orang tua yang kurang informasi. Setiap hari, ratusan ribu postingan bertema gizi muncul di layar ponsel, namun hanya sebagian kecil yang benar-benar ditulis oleh tenaga medis atau ahli gizi.
Selama peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Makara Art Center,Universitas Indonesia,Depok, APPNIA menekankan bahwa pemenuhan gizi tidak hanya bergantung pada ketersediaan pangan bergizi di pasar atau warung terdekat, tetapi juga sangat ditentukan oleh akses orang tua terhadap edukasi yang akurat dan berbasis sains. Tanpa pemahaman yang benar, stok makanan yang mahal justru bisa disia-nyiakan karena cara penyimpanan atau penanganan yang kurang tepat. Sebuah penelitian dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar tiga puluh persen rumah tangga di Indonesia masih salah dalam menyimpan dan menyiapkan makanan, sehingga nilai gizinya berkurang signifikan sebelum sampai di piring anak.
Oleh karena itu, APPNIA bersama perusahaan-perusahaan anggotanya telah menggandeng akademisi dari berbagai perguruan tinggi, dokter anak spesialis, serta ahli gizi klinis untuk memberikan sesi edukasi langsung kepada orang tua. Program ini tidak sekadar berbicara di depan umum, tetapi juga menyediakan materi yang mudah diakses secara daring sehingga ibu yang bekerja atau tinggal di daerah terluar tetap bisa mendapatkan informasi yang valid tentang menu MPASI, pola makan sehari-hari, dan tanda kekurangan gizi yang harus diwaspadai. Setiap modul edukasi yang dihasilkan telah melalui verifikasi tim medis independen untuk memastikan bahwa tidak ada klaim yang berlebihan atau tidak terbukti.
Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menambahkan bahwa hak anak atas gizi yang layak memerlukan keterlibatan dari seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya pemerintah atau industri saja. Kolaborasi antara Kementerian PPPA, Kemenkes, dunia usaha, dan organisasi masyarakat civile menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa program gizi benar-benar menjangkau keluarga di tingkat akar rumput. Veronica menekankan bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam, tetapi dampaknya akan terasa signifikan jika setiap pihak yang memiliki komitmen bisa bekerja bersama dengan transparansi dan akuntabilitas yang jelas.
Program Asta Cita Presiden yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan menjadi landasan strategis untuk menguatkan upaya pencegahan stunting dan gizi buruk di seluruh tanah air. Pemerintah telah menyalurkan anggaran signifikan untuk pengembangan infrastruktur gizi, mulai dari pembentukan posyandu hingga distribusi suplemen untuk ibu hamil dan anak di wilayah tertinggal. Namun, tanpa dukungan literasi gizi di kalangan masyarakat, upaya tersebut bisa terhambat oleh keyakinan yang salah terhadap pendekatan medis modern.
Di tingkat komunitas, posyandu dan puskesmas memiliki peran sentral dalam menyaring anak yang mengalami pertumbuhan kurang. Pemerintah telah mengeluarkan standar asupan gizi terbaru yang disesuaikan dengan karakteristik anak Indonesia, termasuk pedoman untuk anak dengan kondisi khusus seperti alergi makanan atau gangguan metabolisme. Namun, standar tersebut hanya akan bermanfaat jika disebarkan secara luas dan dipahami dengan benar oleh kader kesehatan maupun orang tua. Banyak kasus stunting yang sebenarnya bisa dicegah dengan intervensi sederhana justlu terlewat karena kurangnya edukasi keluarga.
Beberapa mitos yang masih banyak beredar di media sosial antara lain klaim bahwa susu formula lebih baik dari ASI, bahwa makanan organik selalu lebih bergizi, atau bahwa suplemen vitamin bisa menggantikan asupan makanan utama. Setiap klaim tersebut sejatinya memerlukan verifikasi dari tenaga medis sebelum diterapkan pada anak, apalagi jika anak memiliki riwayat alergi atau kondisi kesehatan khusus yang memerlukan penyesuaian diet khusus. Pola makan yang seimbang tetap didasari pada variasi pangan lokal yang terjangkau, bukan pada produk impor dengan harga fantastis yang hanya bisa dimiliki segelintir orang.
APPNIA juga mengingatkan bahwa edukasi gizi bukan sekadar transfer ilmu satu arah dari pakar kepada masyarakat, melainkan proses dialogis yang mempertimbangkan kebiasaan lokal, sistem kepercayaan, dan kondisi ekonomi keluarga. Masyarakat di daerah pedalaman mungkin tidak memiliki akses ke supermarket dengan pilihan organik, tetapi pangan lokal seperti ikan sungai, umbi-umbian, dan sayur hutan seringkali justru mengandung nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan makanan olahan yang dijual di kota besar. Mengapresiasi Kearifan lokal dalam pola makan bisa menjadi jembatan antara sains gizi dan kebiasaan sehari-hari yang sudah ada selama bertahun-tahun.
Pentingnya literasi gizi bagi orang tua tidak bisa diremehkan dalam era digital seperti saat ini. Setiap konten yang ditonton atau dibagikan di grup keluarga sebaiknya diverifikasi terlebih dahulu melalui situs resmi Kementerian Kesehatan, World Health Organization, atau akun dokter spesialis gizi yang terverifikasi. Membiasakan diri membaca label nutrisi sebelum membeli makanan kemasan juga menjadi langkah konkret yang bisa dilakukan sehari-hari untuk memastikan asupan yang masuk ke dalam tubuh anak memenuhi standar mutu yang dibutuhkan. Pemerintah dan industri berhak menuntut akun pembuat konten untuk mencantumkan sertifikasi sumber jika klaim gizi ditampilkan kepada publik.
Ketika seluruh elemen masyarakat mulai memahami bahwa gizi anak adalah tanggung jawab bersama, maka target menurunkan angka stunting dan gizi kurang di Indonesia bisa tercapai lebih cepat. Setiap langkah kecil yang dilakukan mulai dari verifikasi informasi di grup WhatsApp keluarga hingga partisipasi dalam kegiatan posyandu memiliki nilai strategis dalam membangun generasi yang lebih sehat dan produktif di masa depan. Komitmen bersama antara pemerintah, industri gizi, tenaga medis, dan keluarga adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan asupan nutrisi yang layak tanpa harus terganggu oleh gelombang misinformasi yang tak berujung.

