PERSIS dan Sejarah Kebangkitan Sepak Bola Sumenep

Rasyiqi By Rasyiqi - Writer, Digital Marketer
4 Min Read
Gambar Ilustrasi supporter PERSIS Solo (foto: bolabisnis.com)
Gambar Ilustrasi supporter PERSIS Solo (foto: bolabisnis.com)

jf.id – Jika para penggemar sepak bola di era kejayaan PERSIS (Persatuan Sepak Bola Sumenep), mungkin akan mengingat nama pak Taha atau Gus Taha. Yang bernama lengkap, R. P. Moh Taha, Mantan Sekda Sampang di Tahun 1990 an.

Gus Taha, Putra daerah Sumenep, asal Kepanjen tersebut, melakukan re -organisasi dari sebuah organisasi sepak bola bernama PERSIS (Sebelum ada PERRSU). Tepat pada tahun 1978, pertamakali dan satu-satunya organisasi sepak bola di Sumenep yang eksis selain TROPIK.

PERSIS menjadi barometer kebangkitan sepakbola Sumenep. Karena awal didirikan pada tahun 1959. Dunia sepak bola Sumenep, masih belum menunjukkan kekuatannya.

Dunia Sepak Bola Sumenep Bangkit pada tahun 1978. Seperti, keterangan dari Rahmat, pengurus ASKAB Sumenep di Komisi Wasit (saat ini). Dirinya menyampaikan, jika Gus Taha adalah orang yang paling berjasa di Dunia Sepak Bola Sumenep.

“Gus Taha adalah Tokoh Sepak Bola Sumenep. Beliau orang paling berjasa dalam membangkitkan dunia Sepak Bola Sumenep. Di Madura, hanya Sumenep yang bisa mendatangkan Pesepak Bola kelas Nasional seperti Hadi Ismanto, Budi Johannes, Rudi Karces dan Klub-klub Papan atas seperti Persebaya, IM Surabaya, Assyabab. Dan Gus Taha, benar-benar orang paling berjasa dan sangat peduli pada Sepak Bola Sumenep,” terang Rahmat, saksi sejarah yang kini menjabat sebagai Komisi Wasit di Askab Sumenep.

Rahmat menambahkan, jika Gus Taha adalah  satu-satunya bos yang mendanai dunia persepakbolaan Sumenep. “Jika kebangkitan sepakbola Madura diawali Persepam-MU, dan Kebangkitan sepakbola Sumenep diawali PERSIS,” imbuhnya.

Dilain hal, Imam (66) saksi sejarah, mengungkapkan pada jurnalfaktual.id, jika selain PERSIS, dulu ada nama klub Garuda Hitam (GH). Namun, secara organisasi tidak tertata rapi seperti PERSIS.

“Di era PERSIS ada klub sepak bola Sumenep bernama GH. Namun, hanya sebatas kelompok pemain sepakbola yang tidak ter- organisir dengan baik. Jika klub PERSIS, kala itu, pernah laga tanding dengan klub Belanda seri A,” terang Imam, saksi sejarah.

Imam, bercerita, tentang para pemain top dan pemain legenda PERSIS kala itu. Kiper handalnya pak Kifli, pemainnya: Rapek, Kem, Rahmat, Shaleh dan lain-lain.

Disisi lain, Yakum (67) yang juga saksi sejarah, menyebut Gus Taha sebagai bapak Sepak Bola Sumenep. Karena pengabdiannya pada dunia sepakbola Sumenep, begitu panjang dan meletihkan.

“Gus Taha, orang yang sangat pro aktif dalam membangun dunia sepakbola Sumenep. Beliau berfikir maju, Beliau peduli pada para pemuda kala itu. Gus Taha, membangun sebuah komunitas, yang diberi nama WAHANA. Tempat para pemuda beraktualisasi,” terang Yakum, saksi sejarah dan penikmat sepak bola di zamannya.

Yakum menambahkan, jika Gus Taha, kala itu sebagai pejabat daerah disalah satu instansi dan sahabat karib Bupati Sumenep kala itu R. Sumaroem. Dan dukungan pemerintah untuk dunia sepakbola Sumenep, menjadikan PERSIS besar di seantero Nusantara menembus puncak kejayaannya.

Cerita Gus Taha, sebagai sosok pemersatu pemuda yang disegani di Madura. Juga dikisahkan oleh Imam.

” Dulu ada segerombolan grup pemuda Sumenep bernama Brutal-Brutal Sex (BBS). Segerombolan Pemuda yang dikenal pemberani itu, sempat bentrok. Dalam pertandingan sepak bola PERSIS Vs Pamekasan mengakibatkan bentrok massal yang dimotori oleh BBS. Ketika Gus Taha datang, semuanya berdamai dan BBS serta para pemuda Pamekasan tunduk dan patuh pada Gus Taha,” ungkap Imam.

Dengan pengaruh Gus Taha. Akhirnya, PERSIS memiliki pendukung atau supporter tidak hanya di Sumenep. PERSIS mempunyai supporter dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Sehingga kekuatan suporter menjadikan PERSIS memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Share This Article