Pencitraan Tanpa Isi

honing alvianto bana
4 Min Read

jfid – Saat ini, di Indonesia, banyak orang lebih memperhatikan reputasi. Yang penting adalah apa yang tampak, apa yang dicitrakan ke masyarakat. Yang penting adalah kesannya, bukan isinya. Isi soal belakangan, bahkan seringkali tak jadi soal sama sekali.

Banyak orang sudah melakukan kritik pada pola semacam ini. Namun, pola ini tetap ada, tetap bersikukuh, seolah menguat, tak mau lepas. “Penyakit” pencitraan ini melanda berbagai segi kehidupan di Indonesia, terutama politik, budaya, dan bahkan juga pendidikan. 

Yang kemudian terjadi adalah pencitraan tanpa isi. Gelar akademik berderet tanpa kemampuan nyata. Jas necis dan rapih tanpa kekuatan karakter. Tampilan aduhai, tanpa jati diri yang kokoh. 

Yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Gelar akademik yang justru menandakan ketidakmampuan, yakni sikap patuh, tak kreatif, dan suka menipu. Jas necis dan rapih yang justru menandakan sikap licik dan korup. Mana ada koruptor yang bajunya berantakan? Mana ada koruptor kakap yang tidak mengenyam pendidikan tinggi? Semakin rapih bajunya, semakin berderet gelarnya, biasanya justru menandakan kesempatan korup yang juga semakin tinggi. Ironis.

Di dalam dunia pendidikan, penyakit pencitraan ini juga semakin kronis. Orang hanya mengejar ijazah, seringkali tanpa kemampuan yang nyata. Orang sekedar mengejar belajar di universitas atau sekolah ternama, walaupun tempat itu korup, tak mutu, dan hanya tinggal nama besar saja.

Mengutamakan politik inti

Sudah saatnya, kita mulai berpikir tentang “inti” di dalam hidup dan berbangsa kita. Saya menyebutnya sebagai politik inti. Seperti sudah kita tahu, inti adalah isi yang paling pokok atau penting; pokok isi; sari; pati; sari pati.

Politik inti mengajak kita berpikir tentang apa yang ada di dalam, dan tidak sekedar memperhatikan pencitraan, atau sekedar apa yang tampak. Inti di dalam politik adalah kepemimpinan yang berpijak pada pengembangan martabat semua manusia dari semua latar belakang. Ketika inti ini rusak, maka pencitraan pun hanyalah sekedar penipuan.

Di dalam dunia pendidikan, politik inti juga perlu untuk diciptakan. Dalam konteks ini, inti, atau isi, dari pendidikan adalah keutamaan dan ketrampilan diri manusia. Keutamaan berurusan dengan karakter dan jati diri. Sementara, ketrampilan terkait dengan sumbangan teknis manusia itu kepada masyarakatnya. 

Ketika politik inti di dalam pendidikan ini terlupakan, yang tercipta kemudian adalah orang-orang bergelar dan berijazah, namun korup, licik, penipu, opurtunis, dan tak bisa memberikan sumbangan yang baik untuk masyarakatnya. 

Saya yakin, politik inti akan menghasilkan paradoks yang baik. Ketika orang berfokus pada apa yang ada di dalam, yakni inti, atau politik isi, maka apa yang tampak pun akan koheren dengan apa yang ada di dalam. Artinya, fokuslah pada “inti” di dalam hidupmu, maka pencitraan dan penampilan yang baik pun akan tercipta dengan sendirinya. Inilah paradoks politik inti. 

Para penganut politik inti mungkin tidak wangi, tidak necis, tidak parlente. Akan tetapi, orang-orang sekitarnya tahu, bahwa ia orang yang trampil dan berkarakter kuat, lepas dari penampilannya yang sederhana. Orang-orang semacam inilah yang menghasilkan “komponen-komponen”utama yang membuat suatu masyarakat menjadi besar. 

Honing Alvianto Bana. Penulis kolom, Puisi dan Cerpen. Tulisannya terpercik dibeberapa media. 

*Ikuti jfid di Google News, Klik Disini.
*Segala sanggahan, kritik, saran dan koreksi atau punya opini sendiri?, kirim ke email faktual2015@gmail.com

Share This Article