Gunung Bawakaraeng Menyikat 31 Pendaki Kena Hipotermia Apa yang Sebenarnya Terjadi di Tubuh Mereka

jfid
By jfid
6 Min Read
- Advertisement -

jfid – Tim SAR gabungan mengevakuasi 31 pendaki yang mengalami hipotermia hingga asma di Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Perayaan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di puncak gunung tersebut diikuti 3.786 pendaki, namun cuaca ekstrem dan jalur yang padat memicu gangguan kesehatan serius. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan jumlah pendaki dengan kendala fisik melonjak tajam menjadi 31 orang pada Selasa pagi.

Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Pada kondisi tersebut, jantung berdetak lebih lambat, aliran darah berkurang, dan organ vital mulai tidak berfungsi optimal. Di ketinggian, suhu udara bisa mencapai di bawah nol derajat Celsius, terutama pada malam hari. Pendaki yang tidak menggunakan pakaian cukup tebal atau beraktivitas berlebihan tanpa istirahat sangat rentan mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Studi medis di Journal of High Altitude Medicine and Biology menunjukkan risiko hipotermia meningkat pesat di atas 2.500 meter jika tidak ada perlindungan cuaca yang memadai.

Asma kelelahan parah muncul akibat kombinasi udara dingin kencang dan usaha fisik berlebih. Udara dingin memicu penyempitan saluran napas, sementara debu dan partikel halus di jalur pendakian memperparah iritasi. Pada puncak Gunung Bawakaraeng, oksigen tersedia hanya sekitar 60 persen dari kadar normal di permukaan laut. Tubuh terpaksa bekerja lebih keras untuk mempertahankan sirkulasi, menambah beban bagi sistem pernapasan. Pulmonologi Universitas Hasanuddin menambahkan bahwa asma high-altitude berbeda dari asma biasa karena dipicu kekurangan oksigen, bukan alergen.

Proses evakuasi SAR memerlukan timing yang tepat. Tim medis terlebih dahulu menstabilisasi korban dengan menyediakan selimut termal, oksigen, dan cairan hangat. Setelah kondisi stabil, pendaki dibawa turun menggunakan peralatan penyeberangan gunung. Tiap korban dievaluasi secara individual karena tingkat keparahan bisa bervariasi dari ringan hingga mengancam nyawa. Basarnas Makassar menekankan bahwa respons cepat dalam 30 menit pertama adalah faktor penentu kelangsungan hidup.

Data Basarnas Makassar menunjukkan sebagian besar korban adalah pendaki tanpa persiapan fisik memadai. Banyak yang memakai alas kaki tidak sesuai medan, tidak membawa perlengkapan antihujan, dan tidak mengenal gejala awal gangguan ketinggian. Kondisi padat jalur pendakian juga memperburuk situasi karena waktu istirahat terbatas dan ketinggian terasa lebih cepat. Dalam catatan resmi, 78 persen korban tidak pernah mengikuti pelatihan survival high-altitude sebelumnya.

Psikolog olahraga ekstrem menekankan bahwa kesiapan mental sama pentingnya dengan kondisi fisik. Pendaki perlu memahami batas diri, mengenali tanda kelelahan, dan berani membalikkan langkah jika kondisi tidak memadai. Tekanan sosial untuk mencapai puncak sering kali membuat orang mengabaikan sinyal bahaya dari tubuh, yang berakhir dengan cedera atau gangguan kesehatan serius. Penelitian di Journal of Sports Psychology menunjukkan pendaki dengan emotional intelligence tinggi memiliki risiko cedera 35 persen lebih rendah.

Selain hipotermia dan asma, cedera kaki akibat permukaan jalan yang kasar juga umum terjadi. Tanah berbatuan dengan sudut tajam berisiko mencederai pergelangan kaki dan lutut. Pemakaian sepatu boots dengan grip baik dan teknik pernapasan yang benar dapat mengurangi risiko cedera sebesar 40 persen menurut studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin. Orthopedic specialist menambahkan bahwa sekitar 60 persen cedera di jalur pendakian disebabkan oleh alas kaki yang tidak sesuai.

Pihak pengelola Gunung Bawakaraeng telah meningkatkan sistem registrasi digital dan briefing keselamatan sebelum pendakian. Setiap pendaki diwajibkan mengecek kondisi kesehatan di klinik pos dan tidak diperbolehkan melanjutkan jika terdeteksi tekanan darah tinggi atau penyakit pernapasan kronis. Langkah ini diimplementasikan setelah insiden serupa pada 2024 yang menewaskan dua pendaki karena hipotermia. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat kenaikan 22 persen insiden hipotermia di gunung-gunung tinggi Indonesia sejak 2023.

Meteorologi terkini memperkirakan suhu di kawasan Gunung Bawakaraeng akan terus menurun pada akhir pekan ini. Angin kencang dari Selat Makassar berpotensi menambah risiko gangguan kesehatan bagi pendaki yang masih bertahan di puncak. Tim SAR meminta masyarakat yang masih berada di area gunung untuk segera turun dan memeriksakan diri ke pos kesehatan terdekat jika merasakan gejala pusing mual atau kesulitan bernapas.

Adaptasi fisiologis tubuh manusia terhadap ketinggian memerlukan waktu sekitar 48 hingga 72 jam. Proses aklimatisasi meningkatkan produksi sel darah merah dan meningkatkan kapasitas paru-paru, tetapi pendaki yang terlalu cepat naik ke puncak tidak memberi waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri. Dokter spesialis kedokteran olahraga dari RSUP Dr. Wahidin Makassar menyarankan pendaki naik secara bertahap dengan jeda istirahat setiap 500 meter ketinggian untuk menghindari acute mountain sickness.

Untuk menghindari kejadian serupa, Basarnas menyarankan pendaki mempersiapkan fisik minimal dua minggu sebelum pendakian, membawa perlengkapan layering yang sesuai, dan tidak memaksakan diri jika merasakan gejala pusing mual atau kesulitan bernapas. Pendakian gunung adalah aktivitas yang menghibur, bukan kompetisi. Menghormati alam dan batas diri adalah cara terbaik untuk kembali dengan selamat. Sejarah pendakian telah membuktikan bahwa kesiapsiagaan adalah perbedaan antara petualangan yang berakhir baik dan bencana yang mengerikan.

- Advertisement -
Share This Article