Ginjal Bisa Rusak Sebelum Terdeteksi, Pentingnya Skrining sejak Usia Muda

Deni Puja Pranata
4 Min Read
Ginjal Bisa Rusak Sebelum Terdeteksi, Pentingnya Skrining sejak Usia Muda (Ilustrasi)
- Advertisement -

jfid – Gangguan ginjal bukan lagi masalah eksklusif lansia. Dokter konsultan urologi subspesialis trauma dan rekonstruksi saluran kemih di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Donny Eka Putra, memperingatkan bahwa kelompok usia produktif antara 25 hingga 35 tahun sebenarnya berada di zona risiko yang tidak kecil. Alasananya, kebanyakan orang di usia ini masih menganggap kesehatan ginjal bukan prioritas, padahal kerusakan organ penyaring racun itu bisa berlangsung tanpa gejala khas hingga mencapai tahap yang sudah parah.

Menurut Donny, deteksi dini pada usia dewasa muda sangat krusial karena gangguan ginjal yang tidak tertangani secara tepat akan langsung menurunkan produktivitas kerja. Ia menekankan bahwa pemeriksaan yang dibutuhkan cukup sederhana, mulai dari urinalisis atau tes urine rutin hingga ultrasonografi jika memungkinkan. Tes urine dapat mengidentifikasi adanya abnormalitas seperti protein atau darah yang tidak terlihat secara kasat mata, sedangkan USG membantu mendeteksi adanya batu, kista, atau kelainan struktur organ. Sayangnya, banyak karyawan dan profesional muda yang hanya melakukan medical check-up minimum dan mengabaikan bagian ini.

Pencegahan batu ginjal, kata Donny, dimulai dari kebiasaan hidrasi yang cukup. Orang dengan aktivitas normal disarankan minum air putih sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari, tetapi jumlah tersebut bisa bertambah bagi mereka yang banyak berolahraga atau bekerja di luar ruangan. Suhu panas tropis seperti di Indonesia membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan melalui keringat, sehingga risiko dehidrasi dan pengendapan kristal metabolisme di dalam ginjal semakin tinggi. Minum air yang cukup berperan sebagai cara alami untuk membilas kristal-kristal pembentuk batu agar keluar bersama urine sebelum sempat mengendap dan menumpuk.

Selain asupan cairan, pola makan juga menentukan kesehatan ginjal jangka panjang. Donny menyarankan untuk membatasi makanan yang mengandung oksalat tinggi, seperti kacang-kacangan, teh hitam, serta sejumlah makanan laut termasuk kerang dan kepiting. Konsumsi vitamin C dalam dosis tinggi juga sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko pembentukan batu. Ia juga mengingatkan bahwa gangguan metabolisme sering menjadi pemicu tersembunyi. Berat badan yang tidak proporsional atau obesitas bisa menjadi tanda bahwa tubuh memproduksi atau menyerap kalsium secara berlebihan, yang pada akhirnya memicu kristalisasi.

Di Indonesia, tiga jenis kristal penyusun batu ginjal yang paling sering ditemukan adalah asam urat, oksalat, dan kalsium. Ketika gaya hidup tidak diimbangi dengan pola makan seimbang dan kebiasaan hidrasi yang baik, kristal-kristal ini akan bertambah banyak hingga membentuk batu yang menyakitkan dan berbahaya. Donny menambahkan bahwa edukasi publik tentang pentingnya minum cukup harus terus digalakkan, apalagi di musim kemarau atau wilayah dengan iklim panas ekstrem.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi yang sama, Mutalib Abdullah, menambahkan bahwa penyakit ginjal sering berkembang tanpa gejala khas di tahap awal. Pasien biasanya baru sadar setelah fungsi ginjal sudah mulai menurun drastis atau setelah mengalami nyeri hebat di pinggang. Kondisi ini membuat kontrol rutin menjadi kunci utama. Bahkan bagi pasien yang telah menjalani prosedur medis seperti Shock Wave Lithotripsy atau terapi laser untuk menghancurkan batu, pengawasan tetap harus berlanjut. Batu dapat terbentuk kembali jika pemicu awalnya, seperti pola hidrasi dan diet, tidak diubah secara menyeluruh.

Kesimpulannya, gangguan ginjal bisa dicegah dengan langkah-langkah sederhana yang konsisten. Skrining rutin sejak usia 25 tahun, menjaga asupan cairan, memperhatikan makanan yang dikonsumsi, serta memantau berat badan adalah bentuk investasi jangka panjang untuk produktivitas dan kualitas hidup. Ketika individu mulai membuka mata akan pentingnya deteksi dini, beban penyakit ginjal di masa depan dapat berkurang secara signifikan.

- Advertisement -
Share This Article