Enam Bulan Latihan HIIT Bisa Lindungi Otak Hingga Lima Tahun Kemudian

Deni Puja Pranata
7 Min Read
- Advertisement -

jfid – Para peneliti dari Universitas Queensland, Australia, membuktikan bahwa latihan interval intensitas tinggi atau HIIT bisa mengaktifkan perubahan positif di otak.

Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Aging and Disease pada 2025. Kabar ini penting mengingat angka penderita demensia di Indonesia terus meningkat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya untuk otot. Olahraga juga bertugas melindungi fungsi otak seiring bertambahnya usia.

Perry Bartlett adalah ahli saraf dari Universitas Queensland. Ia menjelaskan bahwa enam bulan latihan HIIT sudah cukup untuk mengaktifkan neuroplastisitas.

Neuroplastisitas adalah kemampuan otak membentuk koneksi saraf baru. Kemampuan ini bisa bertahan sepanjang hayat jika didukung aktivitas fisik.

Tanpa stimulasi fisik yang cukup, koneksi saraf bisa memudar. Hal ini terjadi seiring bertambahnya usia tanpa olahraga yang teratur.

Penelitian ini melibatkan 151 peserta berusia 65-85 tahun. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok dengan intensitas latihan berbeda-beda.

Kelompok pertama melakukan peregangan ringan. Kelompok kedua berjalan di treadmill dengan kecepatan sedang.

Kelompok ketiga melakukan latihan sepeda statis dengan intensitas tinggi secara bergantian.

Hanya kelompok HIIT yang menunjukkan peningkatan fungsi otak secara signifikan.

Pemindaian otak menggunakan resonansi magnetik membuktikan adanya perubahan struktural yang menguntungkan.

Analisis sampel darah juga mendukung temuan tersebut. Perubahan positif terlihat segera setelah latihan dan tetap bertahan dalam jangka panjang.

Daniel Blackmore juga dari Universitas Queensland. Ia menambahkan temuan menarik lainnya.

Lima tahun setelah program latihan berakhir, peserta kelompok HIIT masih mengalami peningkatan kognisi.

Mereka tidak melanjutkan latihan intensif setelah program selesai. Namun otak mereka tetap lebih tajam dibanding kelompok lain dalam tes memori dan perhatian.

Manfaat olahraga ternyata bisa bertahan lama setelah latihan berakhir. Temuan ini memberikan harapan baru bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan otak.

Faktor genetik memang berperan dalam merespons olahraga. Namun demikian, HIIT terbukti memberikan manfaat luas.

Manfaat ini terasa meskipun populasi dan kebugaran awal berbeda-beda.

Para peneliti kini melanjutkan penelitian lebih lanjut. Mereka ingin melihat bagaimana faktor genetik memengaruhi hubungan ini di kelompok orang yang lebih besar.

Bagi orang usia lebih tua, Harvard Health memberikan saran penting. Menyesuaikan intensitas latihan dengan kondisi tubuh masing-masing adalah cara yang tepat.

Fokus pada peningkatan tantangan secara bertahap lebih aman. Jangan memaksa diri meniru atlet profesional.

Konsultasi dengan dokter sebelum memulai program baru juga disarankan.

Di Indonesia, demensia menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 1,2 juta orang usia 60 tahun ke atas mengalami gangguan kognitif.

Angka ini diproyeksikan akan terus naik. Hal ini seiring bertambahnya harapan hidup penduduk. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama.

Dokter spesialis saraf dr Sardiana Salam, SpS, MKes, menekankan pentingnya olahraga. Ia mengatakan olahraga merupakan salah satu pilar utama kesehatan otak.

Selain HIIT, olahraga ringan seperti jogging juga sangat bermanfaat. Rutinitas fisik membantu memompa darah ke otak dengan lebih efisien.

Darah membawa oksigen yang dibutuhkan untuk fungsi kognitif. Inilah mekanisme sederhana namun sangat efektif untuk menjaga kesehatan otak setiap hari.

dr Sardiana menambahkan saran bagi pasien yang pernah stroke. Mereka sangat disarankan untuk rutin berolahraga ringan secara teratur.

Aktivitas fisik membantu memperbaiki sirkulasi darah. Ia juga mencegah kekambuhan stroke di masa depan. Kebiasaan sederhana ini menyelamatkan nyawa.

Sementara itu, pola makan juga tak kalah penting. dr Sardiana menyarankan mengatur asupan gizi seimbang dan menghindari obesitas.

Pola makan yang buruk dapat merusak kesehatan otak secara bertahap. Jika memiliki masalah berat badan, konsultasi ke dokter gizi sangat disarankan.

Pola mediterania sering direkomendasikan untuk kesehatan otak. Pola ini kaya sayuran, ikan, dan minyak zaitun. Nutrisi dari makanan ini melindungi sel otak.

Selain olahraga dan pola makan, aktivitas kognitif menjadi kunci lain. Membaca buku, bermain TTS, atau mempelajari hal baru dapat memberikan stimulasi bagi otak.

Aktivitas ini membantu mencegah prademensia. Prademensia adalah kondisi penurunan daya ingat sebelum masuk tahap demensia penuh.

Pencegahan dini adalah cara termurah dan paling efektif. Tak perlu biaya mahal, hanya butuh komitmen untuk tetap aktif berpikir dan bergerak.

Penelitian dari Australia kini memberikan landasan ilmiah baru. Olahraga bukan hanya untuk kebugaran fisik, tetapi juga untuk ketahanan otak seumur hidup.

Bahasapikun dan demensia bisa dipantau sejak dini dengan kebiasaan sederhana. Kebiasaan ini harus dilakukan secara konsisten setiap hari.

Yang terpenting adalah memulai dari langkah kecil. Bagi pemula, lari cepat atau sepeda statis selama 10 sampai 15 menit sudah memberikan manfaat.

Tidak perlu langsung melakukan latihan ekstrem. Mulailah dengan durasi singkat lalu tingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.

Over time, durasi dan intensitas dapat ditingkatkan. Konsistensi lebih bernilai daripada intensitas yang berlebihan tapi tidak teratur.

Kebiasaan kecil yang konsisten akan membawa hasil besar.

Sebuah studi lain dari jurnal Aging and Disease menunjukkan hal serupa. Perubahan positif pada otak bisa terlihat hanya dalam waktu singkat.

Para peneliti ingin mengetahui berapa banyak olahraga yang dibutuhkan untuk membuat perbedaan nyata.

Hasilnya mengejutkan. Bahkan dengan intensitas sedang, otak menunjukkan respons lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali.

Namun HIIT memberikan efek yang lebih dramatis dan berkelanjutan.

Setiap orang berbeda dalam merespons olahraga. Program latihan harus disesuaikan dengan kondisi individu masing-masing.

Yang terpenting adalah membuat kebiasaan yang berkelanjutan.

Lima tahun dari sekarang, otak Anda akan berterima kasih. Investasi kesehatan otak tidak harus mahal atau rumit. Cukup bergerak, makan sehat, dan tetap aktif berpikir.

Kombinasi sederhana ini adalah kunci untuk menjaga ketajaman pikiran. Semua orang bisa mulai sekarang, tanpa perlu menunggu hari esok.

- Advertisement -
Share This Article