jfid – El Nino kini tak lagi berjalan sepenuhnya mengikuti siklus alami seperti dulu. Studi terbaru yang dipublikasikan pada akhir Agustus 2026 membuktikan bahwa intensitas fenomena ini telah meningkat sekitar 36 hingga 37 persen sejak era pra-industri, dan peningkatan itu didorong oleh pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil. Para ilmuwan mengekstrak data sejarah suhu permukaan laut selama 1.000 tahun terakhir dengan menganalisis sisa-sisa kimia pada kerangka karang kuno dan modern di Kepulauan Galapagos. Hasilnya menunjukkan lonjakan kekuatan El Nino hingga mendekati 40 persen hanya dalam empat dekade terakhir.
Kepulauan Galapagos menjadi kunci utama dalam penemuan ini. Terumbu karang di wilayah Pasifik timur itu bertindak seperti arsip alami yang mencatat variabilitas suhu laut dari abad ke abad. Melalui analisis isotop oksigen pada fosil karang, para peneliti dapat membaca suhu laut saat karang itu tumbuh berabad-abad silam. Metode ini mengisi kekosongan data iklim yang selama ini tidak tertutup oleh instrumen modern. Data yang dihasilkan membuktikan bahwa El Nino pada masa kini benar-benar lebih kuat dibandingkan periode pra-industri. Penelitian ini dilakukan oleh tim internasional dari lembaga oseanografi terkemuka dan diterbitkan dalam jurnal sains terkemuka.
Peningkatan intensitas ini berkaitan erat dengan pemanasan laut global. Ketika suhu permukaan laut naik, energi yang tersimpan dalam samudra pun bertambah. Energi inilah yang kemudian memperkuat siklus El Nino Southern Oscillation. Proses ini menciptakan lingkaran setan di mana pemanasan global membuat El Nino lebih sering dan lebih kuat, sementara El Nino yang diperkuat itu pula yang memicu cuaca ekstrem lebih parah di berbagai belahan bumi. Laporan ini mengonfirmasi dugaan yang selama ini dibahas di kalangan klimatolog tanpa data sejarah yang memadai.
Dampak dari El Nino yang diperkuat ini sudah terasa di banyak wilayah. Gelombang panas berkepanjangan, kekeringan yang mengakibatkan kegagalan panen, hingga banjir bandang yang menghancurkan infrastruktur menjadi lebih sering terjadi. Masyarakat rentan di negara-negara berkembang menjadi korban utama karena sistem pertanian dan infrastruktur mereka tidak dirancang untuk menahan fluktuasi cuaca yang semakin ekstrem. Studi ini juga menegaskan bahwa bencana iklim yang kita alami bukan lagi sekadar anomali alami, melainkan konsekuensi langsung dari aktivitas manusia.
Sebuah perdebatan ilmiah masih berlangsung mengenai keselarasan data observasi instrumen modern dengan temuan jangka panjang dari fosil karang. Namun, korelasi antara kenaikan suhu bumi dan ketidakstabilan samudra sudah terlalu jelas untuk diabaikan. Laporan ini menjadi peringatan keras bagi kebijakan energi global. Mencekak konsumsi bahan bakar fosil bukan lagi sekadar pilihan lingkungan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih parah di masa depan.
Para ilmuwan menekankan bahwa data ini harus menjadi dasar penyesuaian model prediksi iklim di seluruh dunia. Sistem peringatan dini untuk El Nino perlu diperbarui agar dapat menangkap karakteristik baru dari fenomena yang telah diperkuat ini. Tanpa aksi nyata untuk membatasi pemanasan global, masyarakat di seluruh dunia akan terus berhadapan dengan ancaman cuaca ekstrem yang semakin tak terduga dan tak terelakkan. Penemuan ini menempatkan urgensi transisi energi pada level yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Di Indonesia sendiri, ancaman El Nino yang lebih kuat berarti kemarau panjang bisa menjadi lebih parah dan berkepanjangan. Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan dan perkebunan, sangat rentan terhadap gangguan cuaca ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memperingatkan masyarakat untuk tetap siaga menghadapi potensi peningkatan frekuensi dan intensitas El Nino di tahun-tahun mendatang. Penelitian ini menambah landasan ilmiah mengapa mitigasi dan adaptasi iklim tidak bisa lagi ditunda.
Menanggapi temuan ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan bahwa Indonesia perlu mempercepat program penurunan emisi karbon. Target netralitas karbon pada tahun 2060 atau lebih awal harus dijadikan acuan utama dalam perencanaan pembangunan nasional. Kolaborasi internasional juga dianggap perlu karena perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Ancaman yang sama melanda seluruh dunia meskipun kontribusi emisi bervariasi antarnegara.
Klimatolog dari BRIN menambahkan bahwa data dari fosil karang Galapagos memberikan perspektif jangka panjang yang sangat berharga. Data instrumen modern hanya mencatat sekitar satu abad, sementara rekaman karang ini membentang selama 1.000 tahun. Kedua data tersebut saling melengkapi dan menunjukkan tren yang konsisten: El Nino semakin kuat seiring berjalannya waktu, terutama sejak revolusi industri mengubah lanskap energi global. Memahami pola masa lalu adalah kunci untuk menyiapkan diri terhadap masa depan yang tidak menentu.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa perubahan iklim bukan sekadar masalah para pembuat kebijakan. Setiap individu berkontribusi terhadap jejas karbon yang memicu pemanasan global. Pengurangan konsumsi energi, pilihan transportasi ramah lingkungan, dan dukungan terhadap energi terbarukan adalah langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan bersama. Artikel ini menggarisbawahi bahwa fenomena El Nino yang lebih kuat bukan takdir, melainkan hasil dari pilihan energi yang bisa kita ubah jika mulai sekarang.

