jfid – Sebuah kelompok pedagang muda dari Jakarta baru saja membuktikan bahwa momentum acara besar bisa menjadi lahan usaha yang menguntungkan. Di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Azwar Anas dan sesama pedagang suvenir telah membuka lapak sejak Rabu (26/8/2026). Barang yang ditawarkan cukup bervariasi, mulai dari pin NU seharga Rp10 ribu hingga Rp35 ribu, peci, tasbih, kaos bertuliskan Muktamar ke-35, sampai jas yang dijual dengan harga sekitar Rp350 ribu. Setiap barang diatur dengan harga berbeda-beda untuk menjangkau kalangan pengunjung dari berbagai latar belakang ekonomi.
Azwar Anas (46) memilih lokasi strategis di sekitar pintu masuk pesantren karena menjadi salah satu titik yang dilalui ribuan muktamirin. Ia mengaku telah mengikuti kegiatan serupa selama tiga periode, dan pendapatannya bisa mencapai puluhan juta rupiah selama berjualan di arena Muktamar. Namun, pada hari pertama, transaksi masih kurang ramai. Sebagian besar pengunjung baru sebatas melihat-lihat dan menanyakan harga. Anas berharap puncak kegiatan, terutama menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU pada 29 Agustus, bisa meningkatkan penjualan. Keyakinan itu lahir dari pengalaman sebelumnya, dimana momentum pemilihan selalu menarik perhatian lebih banyak peserta dan masyarakat umum.
Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 dan dihadiri peserta dari berbagai daerah. Selain menjadi forum permusyawaratan warga nahdliyin, gelaran ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Berbagai stand pedagang berjajar di sepanjang Jalan KH Wahab Hasbullah, menawarkan pernak-pernik khas NU. Fenomena ini menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dan sosial tidak hanya menyejahterakan secara spiritual, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi mikro di tingkat akar rumput. Pendapatan yang dihasilkan bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk menabung dan mengembangkan usaha ke depannya.
Model pendapatan yang dibuka Muktamar NU ini sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai event nasional, mulai dari perayaan Idul Fitri, haul wali, hingga festival budaya, para pedagang kecil selalu memanfaatkannya sebagai ajang promosi dan penjualan. Yang membedakan adalah skala dan persiapan. Pedagang seperti Azwar Anas telah memiliki pengalaman selama bertahun-tahun, sehingga mampu membaca tren dan menyesuaikan stok dengan kebutuhan pengunjung. Strategi lokasi, variasi harga, dan persiapan mental menjadi kunci utama dalam mengukir hasil yang memuaskan. Setiap event memiliki karakteristik pengunjung yang berbeda, dan pedagang harus menyesuaikan produk yang ditawarkan agar relevan.
Bagi UMKM pemula, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman Azwar Anas. Pertama, lokasi adalah segalanya. Berdiri dekat dengan pintu masuk atau area sesungguhnya memberikan eksposur lebih tinggi. Kedua, variasi harga penting. Menawarkan barang mulai dari Rp10 ribu hingga ratusan ribu memungkinkan setiap pengunjung menemukan produk sesuai budget. Ketiga, persiapan mental dan stok barang harus cukup, karena event besar bisa berlangsung selama beberapa hari dengan fluktuasi pengunjung. Keberanian memulai dari nol dan kesiapan menghadapi risiko adalah modal utama yang dimiliki oleh para pelaku usaha kecil.
Pemerintah dan berbagai lembaga sekarang juga mulai menyadari potensi ekonomi kreatif dan UMKM dalam event-event nasional. Program pendampingan sertifikasi, akses perbankan, dan promosi digital terus digulirkan agar pelaku usaha kecil bisa bersaing di pasar yang lebih luas. Ketika UMKM punya ketahanan finansial dan pengetahuan pasar yang memadai, mereka tidak hanya bertahan saat momentum event, tapi juga bisa membangun basis pelanggan tetap yang tumbuh secara berkelanjutan. Transisi dari pedagang event menjadi pelaku usaha yang stabil membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.
Kisah Azwar Anas adalah cermin dari ekonomi rakyat yang tangguh. Berdari dari nol, membawa stok dari Jakarta, dan berjualan di pinggir jalan dekat pondok pesantren, ia menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tidak harus dimulai dari tempat mewah atau modal besar. Yang dibutuhkan adalah kerja keras, keberanian, dan kemampuan membaca peluang. Ketika ribuan orang berkumpul di satu tempat, kebutuhan akan barang dan jasa ikut bertambah. Menjawab kebutuhan itu dengan produk berkualitas dan harga adil adalah formula sederhana yang terus berjalan dan membuka jalan bagi mereka yang mau berusaha tanpa putus asa.
Ke depannya, diharapkan ada lebih banyak program yang mendukung pedagang seperti Azwar Anas. Bisa berupa pelatihan manajemen usaha, akses modal usaha, atau fasilitasi izin berjualan di area event. Dengan ekosistem yang mendukung, UMKM tidak hanya bisa menangkap momen Muktamar, tapi juga mengubahnya menjadi tulang punggung perekonomian keluarga dan komunitas. Ketika usaha kecil tumbuh, ekonomi nasional ikut bertambah kokoh dan inklusif, serta menciptakan efek domino positif bagi sektor lain. Semua berawal dari keberanian berjualan di pinggir jalan dan komitmen untuk terus maju meskipun kondisi tidak selalu mudah.
Dengan memadukan semangat kewirausahaan dan dukungan yang tepat, para pelaku UMKM memiliki peluang besar untuk berkembang. Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa ekonomi sejati tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan makro, tetapi juga dari kemampuan masyarakat kecil memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan sekitar. Ketika satu UMKM berhasil, dampaknya bisa menyentuh banyak kehidupan. Dan ketika banyak UMKM yang tumbuh, Indonesia akan semakin kuat dari bawah.

