jfid – Anggapan bahwa minum air dingin atau air es membuat tubuh gemuk masih kuat beredar di masyarakat Indonesia. Banyak yang percaya suhu air yang diminum bisa menumpuk lemak, bahkan ada klaim lemak akan membeku dan semakin sulit dibakar jika kerap konsumsi air berdingin. Klaim ini menuai perdebatan panjang, namun jawaban medisnya ternyata melenceng total dari keyapan umum.
dr. Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K, dokter spesialis penyakit dalam dengan keahlian di bidang metabolik, gastroenterologi, hepatologi, dan imunologi, menegaskan bahwa anggapan tersebut sepenuhnya merupakan mitos. Suhu air yang diminum sama sekali bukan faktor yang menyebabkan kenaikan berat badan. Pernyataan ini ia sampaikan secara jelas dalam unggahan Instagram pribadinya pada 6 September 2026, menghentikan perdebatan yang selama ini hanya didasari asumsi tanpa dasar ilmiah.
Mekanisme di balik klaim lemak yang membeku juga tidak memiliki dasar fisiologis. Tubuh manusia memiliki sistem termoregulasi yang menjaga suhu internal tetap konstan sekitar 36,8 derajat Celsius. Setiap kali seseorang meminum air dingin, suhu lambung akan turun sementara, namun organ dalam akan segera memulihkan suhu normal melalui proses metabolisme. Lemak tidak pernah membeku pada suhu yang terdapat dalam tubuh, apalagi akibat minuman yang masuk. Proses pembakaran lemak justru bergantung pada aktivitas sel dan keseimbangan kalori, bukan suhu minuman sehari-hari.
Yang lebih mengejutkan, minum air dingin justru bisa membantu mengendalikan berat badan jika dilakukan sebelum makan. Ketika seseorang meminum air dingin, dinding lambung akan mengalami peregangan ringan. Proses peregangan ini kemudian mengaktifkan reseptor rasa kenyang yang ada di otak. Sinyal tersebut menyuruh lambung untuk berkontraksi lebih lambat, sehingga orang merasa lebih cepat kenyang sebelum memulai asupan makanan.
Hasilnya, porsi makan yang dikonsumsi bisa berkurang secara natural tanpa perlu usaha psikologis yang berlebihan. Metode ini sebenarnya sejalan dengan prinsip dasar manajemen berat badan, yaitu menjaga asupan kalori agar tidak berlebih. Air, baik dingin maupun suam, tidak memiliki kalori. Justru dengan mengonsumsinya sebelum makan, tubuh mendapatkan isyarat awal bahwa kebutuhan cairan telah terpenuhi, sehingga dorongan untuk makan dalam porsi besar bisa berkurang.
Konsep yang dipopulerkan oleh mitos ini malah meruguhkan banyak orang. Banyak individu mulai memfilter hidrasi mereka karena takut bertambah berat, padahal dehidrasi justru menurunkan performa metabolik. Ketika tubuh kekurangan cairan, kinerja enzim metabolik menurun, sirkulasi nutrisi menjadi less efisien, dan energi untuk aktivitas fisik menurun drastis. Efeknya, tubuh justru lebih sulit membakar lemak karena sistem metabolik bekerja di bawah kapasitas optimal.
Air putih memegang peranan sentral dalam berbagai fungsi vital, mulai dari membantu pencernaan makanan, menjaga suhu badan, melancarkan sirkulasi oksigen dan nutrisi, hingga membersihkan racun yang menumpuk selama beraktivitas. Studi menemukan bahwa dehidrasi ringan saja cukup menurunkan konsentrasi dan tingkat energi. Dalam konteks manajemen berat badan, kondisi ini membuat orang lebih lelah dan cenderung menghindari gerak, yang pada akhirnya memperlambat proses pembakaran lemak.
dr. Vardian sendiri merupakan spesialis yang kompeten di bidang penyakit metabolik, gastroenterologi, dan imunologi. Pendapatnya didasari pengetahuan medis yang komprehensif, bukan tren media sosial. Ia menambahkan bahwa kebutuhan air setiap orang memang bervariasi, namun prinsip dasarnya tetap sama: hidrasi yang cukup adalah fondasi kesehatan yang tidak bisa digantikan oleh minuman manis atau suplemen tanpa dasar ilmiah.
Di luar kasus air dingin, banyak mitos lain seputar pola konsumsi air yang juga menyesatkan. Ada yang percaya air es menghambat pembakaran lemak, minum air saat makan membatalkan makanan, atau air lemon hangat bisa membakar lemak secara ajaib. Ketiga klaim itu sama-sama tidak memiliki dukungan bukti ilmiah yang kuat. Faktor yang benar-benar berpengaruh terhadap berat badan adalah keseimbangan kalori masuk dan keluar, pola makan bergizi, serta aktivitas fisik yang konsisten.
Pentingnya klarifikasi ini terletak pada dampak psikologis yang ditimbulkan oleh mitos yang berkembang. Banyak orang mulai memfilter hidrasi mereka karena takut bertambah berat, padahal dehidrasi bisa menurunkan performa metabolik. Informasi yang akurat dan berbasis bukti medis membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih baik untuk kesehatan. Selalu verifikasi klaim kesehatan yang viral melalui sumber terpercaya sebelum menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.
Untuk menjaga berat badan secara alami, kombinasi hidrasi yang cukup, pola makan seimbang, dan aktivitas fisik rutin tetap menjadi strategi yang paling terbukti efektif. Jangan sampai mitos-mitos yang berkembang di media sosial menghalangi Anda dari kebiasaan sehat yang seharusnya dilakukan. Konsultasi dengan tenaga medis profesional tetap menjadi langkah terbaik jika Anda memiliki kondisi kesehatan khusus atau pertanyaan lebih lanjut tentang pola hidrasi.
Ketenangan pikiran dalam menerima informasi juga menjadi bagian dari literasi kesehatan. Setiap kali Anda melihat klaim yang terdengar mengejutkan, luangkan waktu untuk memeriksa sumbernya. Apakah yang menyampaikan adalah ahli di bidangnya? Apakah ada referensi studi atau data yang mendukung? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bisa menjadi benteng dari misinformasi yang terus berkembang di era digital.
Klarifikasi dari dr. Vardian Mahardika ini menjadi contoh bagaimana informasi medis yang akurat bisa melawan mitos yang sudah melekat di masyarakat. Pendekatan berbasis data dan bukti ilmiah menjadi fondasi utama dalam mengevaluasi setiap klaim kesehatan yang viral. Masyarakat perlu lebih selektif dalam menerima informasi, terutama yang hanya bergantung pada unggahan tanpa referensi jelas. Dengan pemahaman yang tepat, setiap orang bisa mengambil keputusan yang lebih baik untuk tubuh dan kehidupan sehari-hari.

