AI Bisnis Masih di Zona Eksperimen, BATIC 2026 Tegaskan Waktunya Implementasi Nyata

Deni Puja Pranata
7 Min Read
- Advertisement -

jfid – Forum enterprise ignitePRO dalam Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 mengubah cara pandar perusahaan terhadap adopsi kecerdasan buatan. Daripada terus berdebat apakah AI perlu diterapkan, forum yang berkolaborasi dengan Tech in Asia ini memaksa peserta untuk berkutat pada pertanyaan yang lebih penting:bagaimana AI dapat dijalankan dalam skala besar dan menghasilkan nilai yang terukur. Lebih dari seratus pemimpin perusahaan, pembuat kebijakan, dan penyedia teknologi berkumpul untuk menandai titik balik transformasi digital di Asia Pasifik. Mereka sepakat bahwa tahun 2026 adalah saat tepat untuk meninggalkan fase eksperimen dan melangkah ke implementasi yang benar-benar terintegrasi dalam strategi bisnis.

Chief Commercial Officer Telin Kharisma membuka keynote speech dengan menyentuh inti masalah yang dihadapi perusahaan saat ini. Tantangan terbesar bukan lagi memilih apakah AI, cloud, maupun otomasi perlu diadopsi, melainkan memastikan data, infrastruktur, keamanan, sumber daya manusia, dan mitra telah benar-benar siap mendukung eksekusi yang andal. Banyak perusahaan terburu-buru mengikuti tren tanpa fondasi yang memadai, yang pada akhirnya hanya menghasilkan proyek-poyek AI yang mandek di Tahap pembuktian konsep. Kharisma menekankan pentingnya membangun enablement sebagai dasar operasi yang terintegrasi, didukung konektivitas handal, infrastruktur kuat, operasi yang aman, serta kemitraan ekosistem yang dapat dipercaya.

Dalam konteks ini, TelinPRO hadir sebagai tulang punggung konektivitas yang memungkinkan perusahaan beradaptasi dan berkembang di tengah perubahan yang terus berlangsung. Peran ini tidak hanya sekadar menyediakan jaringan, tetapi juga memastikan setiap perusahaan memiliki akses ke infrastruktur digital yang dibutuhkan untuk menskalakan implementasi AI. Tanpa fondasi konektivitas yang kuat, bahkan algoritma AI paling canggih pun tidak akan bisa berjalan optimal. TelinPRO berupaya menjembatani kesenjangan ini dengan menyediakan solusi yang dapat diandalkan oleh perusahaan dari berbagai skala, mulai dari startup hingga korporasi multinasional.

Perspektif pemerintah menyentuh aspek strategis yang tidak kalah penting. Dr. Sonny Hendra Sudaryana dari Kementerian Komunikasi dan Digital mengungkapkan tiga prioritas utama bagi Indonesia di era AI, yaitu Terhubung untuk perluasan konektivitas inklusif, Tumbuh untuk menciptakan ekosistem digital produktif dan memperkuat talenta, serta Terjaga untuk penguatan perlindungan data pribadi dan keamanan digital nasional. Ia menekankan bahwa pengembangan AI harus dilakukan dengan strategi yang berdaulat, interoperabel, dan tepercaya. Infrastruktur yang memadai, modal yang cukup, kompetensi yang tinggi, tata kelola yang baik, serta kemitraan yang solid adalah syarat mutlak agar pertumbuhan digital memberikan dampak positif dalam bentuk peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi yang lebih besar.

Agenda ignitePRO disusun berdasarkan empat pilar yang saling mendukung: Intelligence, Trust, Infrastructure, dan Collaboration. Pilar Intelligence berfokus pada langkah-langkah mengubah AI dari fase eksperimen menjadi aplikasi yang memberikan nilai tambah bagi bisnis. Hal ini tidak mungkin tercapai tanpa kesiapan data, sistem, dan infrastruktur yang handal serta aman. Pilar Trust menekankan pentingnya penerapan AI secara bertanggung jawab dengan meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan tata kelola. Penyesuaian cara kerja organisasi juga diperlukan agar AI dapat diintegrasikan dengan baik dalam proses bisnis tanpa memicu konflik atau ketidaknyamanan among karyawan.

Pilar Infrastructure membahas kesiapan fondasi teknologi dan arsitektur yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan AI. Dalam hal ini, aspek kinerja, keamanan, regulasi, dan kedaulatan data harus dipertimbangkan secara menyeluruh. Kesiapan manusia untuk mengadopsi teknologi secara berkelanjutan juga menjadi bagian penting dari pilar ini. Sementara itu, Collaboration menjadi elemen krusial untuk mempercepat proses transformasi. Dalam sesi khusus, Direktur Enterprise dan Business Service Telkom Veranita Yosephine hadir sebagai panelis untuk membahas sinergi antara perusahaan, penyedia teknologi, investor, dan mitra ekosistem dalam memfasilitasi transformasi AI yang berkelanjutan.

Veranita menegaskan bahwa ambisi mengadopsi AI memang besar, namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membawa AI dari sekadar pembuktian konsep menjadi implementasi yang benar-benar terintegrasi dalam strategi bisnis. Organisasi perlu memiliki fondasi data yang kuat, tata kelola yang baik, serta komitmen kepemimpinan dalam membangun kapabilitas AI secara berkelanjutan. AI harus mampu menciptakan nilai melalui peningkatan produktivitas, percepatan inovasi, maupun pengalaman pelanggan yang lebihpersonal. Tanpa komitmen ini, perusahaan hanya akan menghabiskan anggaran tanpa mendapatkan hasil yang signifikan.

Secara global, tahun 2026 ditandai sebagai tahun otonomi AI di mana perusahaan-perusahaan mulai beralih dari eksperimen mandiri sistem cerdas ke operasi yang mandiri dan terintegrasi. Negara-negara di Asia Pasifik berlomba-lomba untuk menjadi pusat inovasi AI, dan Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan populasi muda, pertumbuhan digital yang cepat, serta dukungan pemerintah yang semakin kuat. Perusahaan lokal yang mulai sekarang membangun kapabilitas AI akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi di tahun-tahun mendatang. Transformasi ini bukan lagi tentang cara bertahan, melainkan cara untuk menjadi pemain utama di ekonomi digital global.

Dokumen State of the Agentic Enterprise in APAC 2026 dan Closing Commitment yang dihasilkan dari forum ignitePRO menjadi acuan penting bagi perusahaan yang ingin serius mengadopsi AI tanpa mengorbankan etika dan keamanan. Kedua dokumen ini menegaskan pentingnya perusahaan yang dipercaya, berorientasi pada manusia, dan didukung oleh AI di kawasan Asia Pasifik. Bagi perusahaan yang masih ragu untuk memulai, langkah pertama yang paling efektif adalah melakukan pilot project di satu divisi dengan sasaran yang jelas, mengukur hasil secara konsisten, lalu men-skala pendekatan yang terbukti berhasil. Transformasi digital yang benar-benar berdampak dimulai dari kesediaan untuk bertindak, bukan hanya berdiskusi.

- Advertisement -
Share This Article