Hidup Tak Menentu Begini Cara Otak Tetap Tenang

Rasyiqi
By Rasyiqi - Writer, Saintific Enthusiast
7 Min Read
- Advertisement -

jfid – Ketidakpastian adalah hal yang tak bisa dihindari dalam kehidupan. Ketika banyak hal tak terduga datang secara bersamaan, perasaan kewalahan bisa dengan mudah muncul. Namun, ilmu psikologi modern menunjukkan bahwa ada cara-cara berbasis bukti untuk menjaga ketenangan pikiran meski situasi luar tidak menentu.

Kekhawatiran seringkali muncul ketika kita fokus pada hal-hal di luar kendali. Psikolog klinis Hillary Ammon dari Center for Anxiety & Women’s Emotional Wellness menjelaskan bahwa pikiran yang penuh “bagaimana jika” justru akan menempel di benak jika tidak ditangani dengan tepat.

Salah satu cara efektif adalah membuat daftar kekhawatiran. Tuliskan segala hal yang sedang dipikirkan, lalu pisahkan mana yang berada dalam kendali dan mana yang tidak. Dengan memisahkan keduanya, otak akan sadar bahwa ada bagian yang masih bisa diubah dan bagian yang harus diterima.

Setelah itu, alihkan energi pada solusi untuk hal yang masih bisa dikendalikan. Metode ini tidak akan menghilangkan semua kekhawatiran, tetapi membantu mengarahkan perhatian pada tindakan nyata. Strategi sederhana ini banyak digunakan terapis untuk mencegah pikiran melingkar tanpa arah.

Aktivitas fisik seperti jalan kaki juga terbukti mengurangi ketegangan. Thea Gallagher, profesor klinis di NYU Langone Health, mengatakan bahwa gerakan sederhana dapat membersihkan pikiran dari kebisingan emosional. Berjalan tanpa gadget atau musik membantu otak untuk benar-benar hadir di momen sekarang.

Efek ilmiah di baliknya adalah penurunan hormon kortisol. Ketika tubuh bergerak secara ritmis, aliran darah ke otak meningkat dan sistem saraf simpatik mulai mereda. Hasilnya, perasaan cemas yang meluap dapat meredah hanya dengan sepuluh sampai dua puluh menit berjalan di sekitar lingkungan yang nyaman.

Tidur yang cukup menjadi fondasi lain yang tak boleh diabaikan. Helen Lavretsky, profesor di Departemen Psikiatri UCLA, menekankan bahwa kurang tidur akan memperparah gejala kecemasan. Namun, ketika stres tinggi, justru tidur menjadi hal yang sulit dicapai.

Untuk mengatasinya, ciptakan rutin malam yang menenangkan. Mandi air hangat adalah salah satu cara yang direkomendasikan karena suhu tubuh yang kemudian menurun akan memberi sinyal alami pada otak untuk beristirahat. Hindari layar selama satu jam sebelum tidur agar produksi melatonin tidak terganggu.

Selain itu, penting untuk memiliki “jangkar” dalam kehidupan. Arianna Galligher dari STAR Trauma Recovery Center menyebut jangkar sebagai hal-hal yang tetap konsisten meski dunia around berubah. Jangkar bisa berupa hubungan keluarga, kebiasaan makan, atau tempat favorit yang selalu membuat nyaman.

Hubungan sosial adalah salah satu jangkar paling kuat. Menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai dan benar-benar hadir dapat menurunkan tekanan. Studi menunjukkan bahwa interaksi positif memicu pelepasan oksitosin, hormon yang berfungsi melawan efek stres dan menumbuhkan rasa aman.

Jangan biarkan hari-hari terisi hanya dengan beban. Lindsey C. McKernan, profesor di Vanderbilt University Medical Center, menyarankan untuk menyiapkan daftar aktivitas kecil yang bisa menaikkan mood. Aktivitas tersebut bisa sesederhana memasak, mendengarkan buku audio, atau melakukan peregangan ringan.

Lebih jauh, McKernan menekankan bahwa daftar aktivitas tersebut harus disesuaikan dengan kepribadian masing-masing. Orang yang menyukai kesunyian mungkin akan memilih membaca atau melukis, sementara orang yang lebih ekstrovert mungkin menemukan energi dari bermain game atau berkumpul dengan teman. Yang penting adalah aktivitas itu benar-benar memberikan kenikmatan, bukan sekadar pengalihan.

Daftar ini berfungsi sebagai pengingat ketika pikiran mulai dipenuhi kepanikan. Dengan menyisihkan waktu untuk hal-hal yang bermakna, kita secara tidak langsung memperkuat daya tahan emosional. Konsistensi dalam melakukannya akan membantu otak mengaitkan kebiasaan tersebut dengan perasaan lebih baik.

Rutinitas pagi juga memberi struktur yang dibutuhkan saat hidup tidak menentu. Nora Brier, profesor asisten klinis psikiatri di Penn Medicine, memiliki kebiasaan meminum kopi, melakukan peregangan, dan berjalan bersama anjing setiap pagi. Ritual sederhana ini menciptakan rasa prediksi yang menenangkan.

Prediksi adalah hal yang sangat dicari oleh otak saat menghadapi ketidakpastian. Ketika tubuh tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, detak jantung akan lebih stabil dan level kecemasan akan turun. Oleh karena itu, menjaga satu atau dua rutinitas dasar dapat menjadi benteng psikologis yang tangguh.

Menerapkan enam cara di atas tidak memerlukan biaya besar atau perubahan drastis. Yang dibutuhkan adalah komitmen kecil untuk diri sendiri. Dimulai dari mengelola apa yang bisa dikendalikan, bergerak lebih banyak, tidur teratur, dan menjaga hubungan, kita bisa membangun ketenangan dari dalam.

Ketenangan bukan berarti tidak pernah merasa cemas. Ia adalah kemampuan untuk kembali ke pusat kendali meski badai kehidupan belum reda. Dengan didukung bukti ilmiah dan konsistensi, setiap orang bisa belajar untuk bertahan dengan lebih tenang.

Selain keenam langkah di atas, teknik pernapasan dalam juga sering dianjurkan. Metode 4-7-8 membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yaitu bagian yang bertugas menenangkan tubuh. Curahkan napas dalam-dalam selama empat detik, tahan selama tujuh detik, lalu hembuskan perlahan selama delapan detik.

Kunci utama dari seluruh strategi ini adalah konsistensi. Tidak perlu menunggu sampai krisis datang untuk mempraktekannya. Mulailah dengan satu kebiasaan kecil hari ini, dan perhatikan bagaimana otak Anda mulai lebih mudah kembali ke keadaan tenang. Ketenangan adalah otot yang bisa dilatih.

Setiap langkah kecil yang kamu ambil hari ini adalah investasi untuk versi dirimu yang lebih tenang dan lebih tangguh esok hari.

- Advertisement -
Share This Article