Video Lewotobi Erupsi Pascagempa NTT Viral, Ternyata Rekaman dari Tahun Lalu

Deni Puja Pranata
7 Min Read
- Advertisement -

jfid – Klaim video erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur yang membawa ketinggian kolom abu 10 kilometer kembali memanas di media sosial pada 1 September 2026. Unggahan viral menyebutkan bahwa letusan dahsyat tersebut terjadi usai gempabumi besar yang mengguncang NTT beberapa waktu sebelumnya, menambah duka lara para pengungsi. Konten video berhasil menarik lebih dari sembilan ribu tanda suka dan berbagi ulang ribuan kali di platform TikTok sebelum ditelusuri oleh tim pemeriksa fakta. Padahal, video yang beredar bukanlah dokumentasi bencana terkini melainkan rekaman letusan yang terjadi pada Juni 2025. Berikut adalah klarifikasi lengkap beserta bukti dan penjelasan dari Tim Pemeriksa Fakta Mafindo.

Unggahan yang menjadi sorotan dimuat di akun TikTok bernama cenelbestmid pada Jumat 21 Agustus 2026 dengan narasi yang menyebutkan bahwa Gunung Lewotobi mel3tus dahsyat menimbulkan kolom abu setinggi 10.000 meter. Beberapa akun lain juga ikut menyebarkan klaim serupa dengan tambahan narasi bahwa letusan tersebut terjadi di tengah masa pemulihan pasca gempa di NTT, sehingga menambah beban psicolologis warga setempat. Sebagian pengguna media sosial bahkan menyebutkan bahwa rombongan korban gempa harus kembali mengungsi akibat ancaman letusan yang dianggapnya baru. Konten tersebut berhasil memicu kepanikan di kalangan masyarakat Flores Timur karena belum ada klarifikasi resmi dari PVMBG atau BPBD setempat pada saat unggahan pertama kali viral. Padahal, tidak ada laporan erupsi baru yang tercatat di Gunung Lewotobi pada bulan Agustus 2026.

Tim Pemeriksa Fakta Mafindo atau TurnBackHoax.ID melakukan penelusuran menggunakan Google Lens untuk mencari asal-usul video yang viral. Hasil investigasi menemukan bahwa klip pertama tersemat dalam akun TikTok bobedwinmau pada Selasa 17 Juni 2025, sementara klip kedua teridentifikasi dari akun sindonews pada tanggal yang sama. Keterangan dalam kedua video tersebut secara eksplisit menyebutkan bahwa rekaman tersebut captures Gunung Lewotobi Laki-Laki pada 17 Juni 2025. Tidak ada keterangan atau metadata yang menghubungkan video tersebut dengan kejadian Agustus 2026, apalagi dengan konteks pascagempa yang menjadi narasi utama hoaks. Hal ini membuktikan bahwa narasi yang menyebar adalah hasil mutasi konteks yang disengaja untuk mengelabui publik.

Data dari Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation atau PVMBG memang mencatat adanya erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki pada Juni 2025 dengan ketinggian kolom abu yang cukup signifikan. Letusan tersebut bukanlah peristiwa baru melainkan aktivitas vulkanik yang sudah dipantau secara berkala oleh tim ahli volcano di NTT. Pada bulan Agustus 2026 memang terjadi gempa di wilayah NTT yang menimbulkan kerusakan bangunan dan mengungsi ratusan keluarga, tetapi tidak ada aktivitas letusan baru yang tercatat. PVMBG sendiri melalui akun resminya tidak pernah mengeluarkan peringatan dini erupsi Lewotobi pada Agustus 2026. Ini menunjukkan bahwa klaim erupsi pascagempa adalah gabungan dua peristiwa nyata yang dimanipulasi menjadi satu narasi keliru.

Konten yang menyesatkan ini memiliki dampak langsung terhadap psikologis warga Flores Timur yang masih trauma akibat gempa sebelumnya. Banyak pengungsi yang berstatus dalam kampung pengungsian menjadi panik setelah melihat video viral, bahkan beberapa di antaranyah mengungsi kembali ke lokasi yang lebih aman meskipun tidak ada peringatan resmi. Stres pascatrauma menjadi Ancaman nyata ketika hoaks menggabungkan dua bencana yang tidak saling berkaitan. BPBD NTT sendiri terpaksa meminta maaf karena tidak dapat merespons dengan cepat akibat luapan komentar yang menuduh pihaknya tutup informasi. Kondisi ini menambah beban kerja petugas darurat yang tengah fokus pada penanganan korban gempa.

Psikolog sosial dari Universitas Gadjah Mada, dr. Reza Octavia, M.Psi, menjelaskan bahwa masyarakat cenderung percaya pada konten yang menggabungkan dua bencana karena pola pikir kausalitas yang sempel. Ketika terjadi gempa besar, orang otomatis mencari penjelasan dan hubungan sebab-akibat yang logis dalam bencana alam. Video yang viral justru memanfaatkan kecemasan tersebut dengan menyajikan bukti visual yang tampak autentik tanpa verifikasi asal-usul rekaman. Algoritma media sosial juga mempercepat penyebaran konten yang memiliki nilai emosional tinggi meskipun belum terverifikasi. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kunci utama untuk memutus rantai penyebaran hoaks di masa krisis.

Masyarakat disarankan untuk selalu mengecek sumber video yang viral di media sosial sebelum membagikannya ke grup keluarga atau komunitas. Google Lens dan pencarian gambar terbalik menjadi dua alat paling efektif untuk melacak asal-usul konten visual dalam hitungan detik. PVMBG dan BPBD NTT juga memiliki akun resmi di Twitter dan Instagram yang rutin mengumumkan status gunung api dan peringatan dini bencana. Jika menemukan konten yang menyesatkan, masyarakat dapat melapor ke laman TurnBackHoax.id atau0850-1888-1688 hotline Kemenkominfo untuk diverifikasi. Jangan sampai kepanikan yang tidak perlu menimbulkan kerusakan lebih besar daripada dampak bencana itu sendiri.

Kesimpulan dari investigasi Tim Pemeriksa Fakta Mafindo adalah bahwa klaim Gunung Lewotobi erupsi 10 kilometer usai gempa NTT pada Agustus 2026 adalah konten yang menyesatkan. Video yang viral sebenarnya merupakan rekaman letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki pada 17 Juni 2025 yang dimanipulasi konteksnya untuk menciptakan narasi pascabencana palsu. Tidak ada laporan erupsi baru yang tercatat pada bulan Agustus 2026 dan PVMBG sama sekali tidak mengeluarkan peringatan dini untuk gunung tersebut. Masyarakat diharapkan dapat maintaining skepticism yang sehat terhadap konten viral sambil terus mengikuti informasi dari institusi resmi yang terpercaya. Dengan literasi digital yang baik, kita dapat mencegah kepanikan yang tidak berdasar dan fokus pada penanganan bencana yang sebenarnya sedang terjadi.

- Advertisement -
Share This Article