jfid – Gempa bumi berkekuatan M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8) pagi. Hingga Jumat (21/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 36.163 unit rumah rusak, 75 korban meninggal dunia, dan 907 orang luka-luka. Di tengah situasi yang memprihatinkan itu, sebuah kabar baik muncul dari Dusun Rangko, Labuan Bajo. Rumah modular tahan gempa buatan BRIN justru tetap berdiri tanpa retakan struktural, membuktikan bahwa teknologi dalam negeri sudah siap diuji di lapangan.
Bangunan tersebut merupakan prototipe hasil pengembangan Badan Riset dan Inovasi Nasional selama bertahun-tahun. BRIN membangun tiga unit rumah tahan gempa di lokasi itu sebagai bagian dari uji coba langsung di kawasan rawan gempa. Saat gempa besar melanda, bangunan sekitarnya termasuk Sekolah Dasar Rangko mengalami kerusakan serius pada dinding dan pondasi. Namun, rumah modular tersebut hanya mengalami kerusakan kecil di keramik kamar mandi yang terlepas.
Perekayasa Ahli Muda dari Pusat Riset Material Maju BRIN, Vian Marantha Haryanto, menjelaskan desain rumah ini menggunakan teknologi konstruksi khusus. Kolom dibuat lebih kuat daripada balok, sedangkan struktur disusun simetris dan ringan untuk menstabilkan bangunan saat diguncang. Rumah ini tidak hanya tahan gempa, tetapi juga ramah lingkungan. Material yang digunakan dipilih agar tidak membahayakan saat bangunan mengalami goyang. Panel dinding terbuat dari bahan komposit yang ringan namun kuat, sementara rangka baja dibeton untuk menyerap energi seismik. “Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan. Dan, yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya bahkan saat diguncang gempa sebesar ini,” katanya dalam keterangan resmi Jumat (21/8).
Rumah berluas 36 meter persegi tersebut dirancang bisa dirakit dalam waktu sekitar 30 hari. Sistem bongkar-pasangnya dibuat saling mengunci sehingga sangat efisien untuk wilayah yang membutuhkan reconstruksi cepat. Setiap komponen diproduksi di pabrik lalu diangkut ke lokasi, meminimalkan ketergantungan pada tenaga kerja lokal yang terbatas di masa pascabencana. Proses perakitan yang cepat ini menjadi nilai tambah penting ketika akses jalan sering terputus setelah gempa besar.
Selain kecepatan, teknologi ini juga mendorong kemandirian industri dalam negeri. Kandungan komponen dalam negeri atau TKDN mencapai lebih dari 80 persen, artinya mayoritas material dan proses produksi dapat dipenuhi oleh perusahaan lokal. Hal ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga menyerap tenaga kerja dan menguatkan rantai pasok nasional.
BRIN kini mendorong agar teknologi rumah modular tahan gempa ini direplikasi lebih luas di kawasan rawan gempa lainnya. Badan tersebut akan mengeluarkan lisensi hasil riset ini dan bekerja sama dengan industri pengembang perumahan. Jika skema ini berjalan, rumah tahan gempa buatan anak bangsa dapat mulai menempati wilayah rawan gempa mulai tahun depan, mengantisipasi musim kegiatan seismic yang kerap terjadi di Indonesia. Pengembang perumahan nasional sudah mulai menunjukkan ketertarikan. Beberapa perusahaan konstruksi besar berdiskusi dengan BRIN untuk menjalankan pilot project di Sumatera Barat dan Sulawesi Tenggara, dua daerah lain yang termasuk dalam zona rawan gempa tinggi.
Di lokasi bencana, gempa susulan masih terus terasa dan membuat jumlah pengungsi terus bertambah. BNPB mencatat 36.163 unit rumah rusak, dengan angka itu belum termasuk kerusakan infrastruktur sekolah, jalan, dan jembatan. Masyarakat yang tinggal di area perbatasan gunung dan lereng masih diimbau untuk mengungsi sementara hingga tim inspeksi structural menilai keamanan bangunan mereka. Kantor Koordinator Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa menambah bahwa kondisi darurat masih berlaku di lima kabupaten di NTT. Bantuan internasional mulai mengalir, termasuk tenda, makanan, dan obat-obatan. Namun, akses ke beberapa desa terpencil masih terhambat oleh jalan yang rusak parah akibat longsor.
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berkoordinasi dengan BRIN untuk memadukan teknologi rumah tahan gempa dengan standar bangunan nasional. Integrasi edukasi mitigasi bencana ke dalam kurikulum sekolah dan pelatihan masyarakat menjadi langkah jangka panjang. Standar bangunan tahan gempa juga akan dipertimbangkan dalam revisi peraturan perumahan daerah. Masyarakat diharapkan tidak lagi bergantung solely pada bantuan pascabencana, tetapi dapat membangun rumah yang lebih aman sejak perencanaan awal.
Mengetahui sejarah pengembangannya, teknologi rumah modular ini bukan produk instan yang muncul dalam semalam. BRIN mulai meneliti sejak 2019 dengan membangun dua prototipe rumah tahan gempa di Kabupaten Tangerang. Kemudian, prototipe rumah dua lantai dikembangkan di Kabupaten Lebak pada 2021. Tiga prototipe berikutnya dibangun di NTT pada akhir 2021, yang kemudian diuji secara alami saat gempa M7,7 melanda pada 15 Agustus 2026. Setiap tahapan pengembangan membuktikan konsistensi tim ilmuwan dalam menyempurnakan desain.
Selain penambahan rubber bearing seismic, BRIN juga masih melakukan penyempurnaan pada sistem koneksi struktur dan material dak. Komponen rubber bearing seismic dirancang untuk meredam getaran saat terjadi gaya geser akibat gempa. “Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahannya sehingga dampak guncangan dapat dikurangi,” ujar Vian.
Di tengah respons kemanusiaan yang berkelanjutan, rumah tahan gempa ini menjadi harapan baru bagi masyarakat NTT yang kehilangan tempat tinggal. Jika produksi massal dimulai, puluhan ribu keluarga dapat berpindah ke hunian yang lebih aman dalam waktu singkat. BRIN menargetkan lisensi teknologi ini bisa digunakan oleh pengembang dalam negeri dan bahkan diekspor ke negara lain yang juga rawan gempa. Langkah ini sejalan dengan visi Indonesia menjadi pusat inovasi mitigasi bencana di Asia Tenggara.
Live News ini akan terus di-update dengan perkembangan terbaru dari lokasi bencana dan kemajuan produksi massal rumah tahan gempa. Pantau terus laporan berikutnya untuk informasi lengkap.

